Betapa Mudahnya Menumbuhkan Tauhid Anak Kecil

Betapa mudahnya menumbuhkan Tauhid anak kecil karena memang pada hakikatnya Allah telah menciptakan seluruh manusia dalam keadaan memiliki fitrah yang telah dipersiapan untuk menerima berbagai syariat Islam, sedangkan perkara terbesar dan terpenting dalam Islam adalah Tauhid.

Firman Allah ta’ala,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama(Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(QS. Arrum: 30)

Ibnu Atsir –rahimahullah– menafsirkan makna fitrah tersebut adalah bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan di atas semacam watak dan tabiat yang telah siap untuk menerima agama. Seandainya ia ditinggalkan begitu saja di atas fitrah tersebut (tanpa ada pengaruh lain yang menyesatkan. -pent) maka ia akan terus tetap di atas fitrah tersebut, akan tetapi ia berpaling dari fitrah itu karena sebab penyimpangan manusia dan pengaruh tradisi lingkungan… (Al-Nihaayah, 3/457)

Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata: para ulama berbeda pendapat mengenai makna Fitrah namun pendapat yang masyhur adalah bahwa makna fitrah adalah Islam. Dan Ibnu Abdil Bar –rahimahullah- pun menyatakan bahwasannya yang masyhur dari pendapat para ulama Salaf dan juga telah ijma para ahli tafsir bahwa yang dimaksud firman Allah ta’ala: “(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” adalah Islam. (Fathul Baari, 3/248).

 

Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan fitrah:

  • Keluarga

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاء

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi; sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya yang sempurna maka apakah dapat kau lihat adanya cacat!?” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Teman karib

Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu sesuai dengan agama temannya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapakah yang akan dia jadikan teman dekat.”[1]

  • Syetan

Dalam suatu hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

إِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءً، فَاجْتَالَتْهُمُ الشَيَاطِيْنُ عَنْ دِيْنِهِمْ

“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (Islam), kemudian syetan-syetan menyesatkan mereka dari agamanya”. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, apabila lingkungan keluarga atau lingkungan anak itu tidak baik dan kita ingin anak kita baik pendidikannya maka pindahkanlah anak ke lingkungan yang baik. Seorang ulama menyatakan bahwa “Inti pendidikan anak adalah menjauhkan anak dari teman teman yang buruk.”[2]

 

Kewajiban Mendidik Anak Adalah Kewajiban Orang Tuanya

 

Allah ta’ala berfirman:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu* dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS.At-tahrim-6)

Ayat ini menjadi dasar pendidikan di dalam keluarga orang-orang beriman. Wajib hukumnya bagi setiap bapak dan suami memelihara dan menjaga istri-istri dan anak-anak mereka dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.[3]

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

  كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَاْلأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin; seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Abdullah bin Umar –radhiallahu ‘anhuma- berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Apabila Allah telah menetapkan kewajiban mendidik anak terhadap orang tuanya, maka itu menunjukkah bahwa pasti orang tua yang memiliki anak itu sebenarnya mampu mendidik anaknya, terutama hal yang paling mendasar, yakni pendidikan dasar Tauhid bagi anak-anak. Sebagaimana Allah Ta’ala menyatakan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” [QS. Al Baqarah: 286]

Betapa mudah pendidikan dasar Tauhid ini kepada anak-anak karena setiap orang memang telah terlahir dalam keadaan siap menerima kebenaran ajaran Islam, terutama anak-anak; yang masih belum banyak terpengaruhi faktor-fakor negatif; dan penjelasan Tauhid kepada anak-anak tentu sangat jauh lebih sederhana ketimbang menjelaskan Tauhid pada orang dewasa. Maka manfaatkanlah kesempatan emas ini!!

 

 

Diantara Metode Menanamkan Tauhid Kepada Anak-Anak

 

Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُـرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّـلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”[4]

 

# Penerapan hadits tersebut telah dijelaskan pada fatwa Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Al-Ruhaily –hafizhahullah– ketika ditanya oleh seorang ibu mengenai; apakah anak kecil umur 7 tahun harus dipaksa melaksanakan shalat wajib 5 waktu serta shalat sunat fajar dan witir?

# Maka beliau menjawab:

“Tidak! Kita jangan memaksanya shalat Subuh maupun shalat fajar (sebelum shalat subuh). Kita jangan memaksanya melaksanakan yang fardhu (wajib) maupun yang sunat!

Akan tetapi, kita berikan motivasi kepadanya dalam melaksanakan ibadah fardhu. Maka kita menyuruhnya dengan perintah yang memotivasi; bukan perintah yang memaksa; bukan pula perintah yang mengandung kekerasan!

(Misalnya, kita katakan: )

‘Shalatlah, karena orang yang shalat akan dicintai Allah.’

‘Shalatlah, karena orang yang shalat akan dimasukkan oleh Allah ke Surga’

‘Shalatlah, agar Allah meridhai ayahmu…’

Dan, kami memperingatkan dari apa yang dilakukan oleh sebagian orang; berupa menggantungkan hati anak (saat memotivasi beribadah) kepada duniawi! Ini bertentangan dengan metode Tarbiyah (pendidikan) yang benar.

(Misalnya dengan mengatakan: )

‘Shalatlah, nanti ku beri manisan.’

‘Bila kamu shalat hari ini, nanti ku beri uang beberapa Riyal.’

Ini justru akan menyebabkan anak tersebut beribadah dengan maksud duniawi!

Akan tetapi, tidak apa-apa bila Anda katakan padanya:

‘Shalatlah, dan bila kau shalat; bisa saja nanti Allah memberiku petunjuk untuk memberimu beberapa uang Riyal…’

Lalu, saat anak itu telah shalat, Anda katakan padanya: ‘Sungguh Allah memberiku petunjuk untuk memberimu beberapa uang Riyal. Itu karena telah Allah ridha dengan sebab shalatmu itu.’

Boleh saja Anda motivasi anak dengan sesuatu yang ia sukai, Tetapi jangan Anda jadikan hatinya bergantung kepada duniawi.

Yakni, beserta pemberianmu itu yang berupa (hadiah) duniawi, maka jadikanlah pemberianmu itu sebagai jalan pendekatan dirinya kepada Allah; kaitkanlah ia dengan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Selama 3 tahun, (7 sampai 10 Tahun), seluruh masa tersebut adalah pendidikan dengan motivasi.

Tidak boleh; terhadap anak umur 8 tahun yang tidak shalat lalu Anda katakan padanya: ‘Kamu tidak shalat maka kamu Kafir!’

Namun, tidak apa-apa bila Anda katakan:

‘wahai ananda, camkanlah bahwa seluruh kaum muslimin itu melaksanakan shalat.’

‘Orang-orang yang yang tidak shalat, maka mereka itu tidak mencintai Allah.’

Lain halnya, tatkala Anda melakukan kekerasan pada anak dalam hal ini! Mencelanya! Membentaknya! Maka ini tidak disyari’atkan! (Tidak boleh dalam syari’at Islam!)

Lakukanlah perintah-perintah yang memotivasi;

Yakni: diawali dengan kita motivasi anak untuk melaksanakan yang fardhu (wajib). Kemudian setelah itu, kita motivasi ia terhadap hal-hal yang sunat hukumnya. Dilakukan dengan bertahap agar tidak membuatnya meresa berat dan bosan (karena diharuskan mengerjakan yang wajib dan yang sunat sekaligus), lalu kita memotivasinya untuk pergi ke masjid, lalu kita mengajarnya.

Anak-anak itu selalu mempelajari.

Sekitar dua atau tiga pekan lalu, saat Saya berada di dalam mobil sendirian, lalu Saya bersin, dan saya ucapkan Alhamdulillah (dengan pelan). Tiba-tiba datang anak kecil dari kejauhan, umurnya sekitar di bawah 7 tahunan, lalu ia diam di sampingku dan bertanya: ‘Kenapa engkau tidak mengucapkan Alhamdulillah?’

Karena orang tua anak itu mengajarkannya mengucapkan Alhamdulillah bila bersin, tetapi saat itu ia mendengar orang bersin; namun ia tidak mendengar Saya mengucapkan Alhamdulillah. Maka anak itu pun datang kepada Saya dan bertanya seperti itu karena ia tidak mendengar Saya mengucapkan Alhamdulillah.

Begitulah anak-anak, benak mereka itu selalu mempelajari (keadaan sekelilingnya). Kitalah yang menanamkan pengajaran kepada mereka. Apabila kita tanamkan kebohongan; maka mereka pun belajar berbohong, dan apabila kita tanamkan kejujuran dan kebaikan, maka mereka akan belajar berbuat jujur dan kebaikan.

Akan tetapi, hati mereka tidak bisa menerima disakiti, maka Janganlah Anda sakiti ia!! Jangan Anda menyakiti hatinya dengan kata-kata! Jangan Anda menyakitinya dengan pukulan! (Teruslah lakukan metode pendidikan motivasi seperti itu) sampai ia berumur 10 tahun.

Dan apabila anak telah berumur 10 tahun, dan Anda tidak menyia-nyiakan pendidikan selama periode 3 tahun tersebut (dari sejak anak umur 7 sampai 10 tahun), dan selama itu Anda telah berusaha menggunakan metode yang benar, seperti mengucapkan: ‘Nak, shalatlah, karena Allah mencintai orang yang shalat…’ Anda benar-benar telah berusaha seperti itu.

Maka kemudian, apabila telah mencapai umur 10 tahun, namun anak belum juga mau melaksanakan shalat; silahkan mulailah Anda pukul ia dengan pukulan yang tidak melukainya.

Akan tetapi, bila selama priode 3 tahun Anda hanya diam; tanpa memerintahkannya shalat, yakni dari sejak anak Anda umur 7 tahun; Anda tidak menyuruhnya shalat sampai umur 10 tahun, lalu saat anak Anda telah berumur 10 tahun; Anda menyuruhnya shalat dengan memukulnya menggunakan tongkat!? Anda hanya memanfaatkan pukulan tongkat!! Sedangkan Anda telah meninggalkan kewajiban bersikap memerintahnya dengan cara lemah lembut!

Jadi, anak kecil berumur 7 tahun, kita memulainya dengan perintah yang memotivasi, itu pun dengan bertahap, dan tanpa membuatnya bosan. Justru jadikanlah anak selalu terkait hatinya dengan shalat dan cinta shalat. Kita pun bertahap dalam melakukannya.

Selanjutnya, kita berpindah pada masalah memerintah anak melakukan sunat rawatib yang mu-akkadah (ditekankan), yakni shalat sunat fajar dan witir. Kemudian berpindah kepada sunat rawatib, kemudian shalat malam.

Dan betapa baiknya, andaikata kita menyuruh anak melakukan sunnah-sunnah tersebut dengan cara kita mempraktikkannya, maka inilah yang lebih meresap bagi anak dan lebih baik. Misalnya: kita bawa anak ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, lalu tatkala pulang; kita lakukan shalat sunat, dan setelah itu kita katakan: ‘wahai anakku, ini adalah Sunnah Nabi.’

Metode ini lebih meresap ke hati anak, daripada hanya sekedar kata-kata. Memang perkataan itu adalah dakwah, namun bila disertai dengan dakwah perbuatan maka tentu itu sangat lebih berpengaruh dan lebih baik.”

-Selesai transkip terjemahan- (Sumber: https://youtu.be/0aIKHL-wAaI )

 

 

Pendidikan aqidah Tauhid ini sangat penting, demi untuk menyiapkan jiwa sang anak dalam mengarungi masa depannya. Semakin kuat Tauhid seseorang maka akan semakin siap dalam menjalankan segala ketetapan Allah Ta’ala dan dalam menempuh berbagai macam ujian hidup.

 

Aisyah binti Abu Bakar –radhiallahu ‘anhuma– berkata:

إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لاَ تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا! وَلَوْ نَزَلَ لاَ تَزْنُوا لَقَالُوا لاَ نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا… (رواه البخاري) .

“…. di antara surat-surat Al Quran yang diturunkan pada mulanya hanyalah surat-surat mufashshal (yakni yang pendek-pendek) yang padanya disebutkan tentang Surga dan Neraka, sampai apabila manusia telah semakin mantap keyakinannya terhadap Islam maka turunlah ayat-ayat mengenai perkara Halal dan Haram. Seandainya ayat yang pertamakali turun berbunyi ‘Janganlah kalian minum khamr!’ niscaya mereka akan mengatakan ‘Kami tidak akan meninggalkan minum khamr selamanya!’ Seandainya ayat yang pertamakali turun berbunyi ‘Janganlah kalian berzina!’ niscaya mereka akan mengatakan ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya!’….” (HR. Bukhari)

Ketikan menjelaskan perkataan Aisyah –radhiallahu ‘anha– tersebut, Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata: “Hal tersebut mengisyaratkan adanya hikmah/kebijaksanaan ilahi dalam menetapkan tahapan turunnya surat-surat Al Quran, yakni bahwasannya diantara yang mula-mula diturunkan dari ayat-ayat Al Quran adalah seruan kepada Tauhid, pemberian kabar gembira Surga bagi orang yang beriman dan yang ta’at, serta ancaman Neraka bagi orang kafir dan pelaku maksiat! Lalu tatkala jiwa manusia telah yakin terhadap hal-hal tersebut, turunlah ayat-ayat tentang hukum perkara halal dan haram. (Fathul Baari, 10/35)

Demikianlah betapa pentingnya pendidikan agama, terutama keyakinan tentang akidah Tauhid, sangat berpengaruh bagi kesiapan jiwa anak-anak dalam menjalani kompleksnya problematika kehidupan. Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah– bertutur:

“Ilmu tentang (nama-nama dan sifat-sifat mulia) Allah merupakan pokok dan sumber dari segala ilmu. Barangsiapa mengenal Allah maka ia akan mengenal hakikat selain dari Allah, dan barangsiapa yang bodoh terhadap Rabbnya maka ia akan lebih bodoh lagi terhadap hakikat selain dari Rabbnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ….

Artinya: ‘Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri…’ QS. Al Hasyr: 19

Renungkanlah ayat tersebut; akan kau dapati padanya ada makna yang agung. Yaitu: bahwasannya orang yang lupa terhadap Rabbnya maka Rabb pun akan menjadikan orang itu lupa pada hakikat dirinya sendiri dan pada hakikat jiwanya. Karena itulah orang tersebut tidak akan mengetahui hakikat dirinya dan tidak akan mengetahui hal-hal yang maslahat bagi dirinya, bahkan orang itu akan lupa terhadap apa-apa yang menyebabkan kebaikan dan kesuksesan dirinya di kehidupan dunia maupun akhirat. Sehingga, orang itu akan menjadi rusak dan terkatung-katung bagaikan binatang yang tidak berarti, atau bahkan binatang itu sebenarnya lebih mengetahui hal yang maslahat bagi dirinya dari pada orang tersebut!” –selesai nukilan terjemahan- (Miftah Daar As Sa’aadah, 1//86).

 

Lingkungan keluarga merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak sehingga baik tidaknya masa depan anak sangat dipengaruhi oleh keadaan pendidikannya di lingkungan keluarga.

 

Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H.) -rahimahullah- berkata:

فمن أهملَ تعليمَ ولدِهِ ما ينفعه، وَتَرَكَهَ سُدى، فقد أَساءَ إليه غايةَ الإساءة، وأكثرُ الأولادِ إِنما جاء فسادُهُم من قِبَلِ الآباءِ وإهمالِهِم لهم، وتركِ تعليمِهِم فرائضَ الدينِ وَسُنَنَه، فأضاعوها صغارًا، فلم ينتفعوا بأنفسِهِم ولم ينفعوا آباءَهُم كِبَار [5]

“Barangsiapa menyepelekan dalam mendidik anaknya terhadap apa yg bermanfaat bagi anaknya sehingga menyia-nyiakannya begitu saja; maka sungguh orang seperti itu telah bersikap sangat buruk terhadap anaknya! Dan kebanyakan Kerusakan yang terjadi pada anak-anak; penyebabnya adalah berasal dari Bapak-bapak mereka itu sendiri yang telah menelantarkan mereka; yang tidak mendidik mereka terhadap kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama; sehingga anak-anak tersebut menyepelekan kewajiban dan Sunnah tersebut semenjak masih kecil. Oleh karena itulah, bapak-bapak mereka akhirnya tidak bisa mendapatkan manfaat dari anak-anak mereka dan anak-anak tersebut pun tatkala tumbuh dewasa tidak memberikan manfaat bagi bapak-bapaknya itu.” (Lihat: Tuhfatul Mauduud)

Yang patut diperhatikan di sini, bahwasanya di zaman Ibnul Qayyim itu telah ada dan tersebar lembaga-lembaga Pendidikan dengan berbagai macam kurikulum dan sistemnya yg bagus. Namun, beliau tetap menyalahkan orangtua atas keteledorannya dalam mendidik anak. Hal itu karena, sebaik apapun lembaga pendidikan, kalau tidak ada peran penting kerjasama orang tua maka sangat sukar bagi sang anak untuk berhasil dalam pendidikannya.

Banyak hasil penelitian barat yang menyatakan bahwa pendidikan orang tua dan kerjasama yang aktif dari orang tua dengan lembaga pendidikan itu menyebabkan pengaruh yang sangat besar bagi baiknya moral, sikap, dan kesuksesan belajar anak.[6]

Demi untuk kerusakan yang besar itu pun Iblis -yang terlaknat- sangat senang dan takjub terhadap syetan yang berhasil menggoda dan merusak kehidupan suami istri sampai terjadi perceraian yang dengan sebab perceraian tersebutlah pendidikan dan keadaan anak menjadi kacau.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ : فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ : مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ : فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ قَالَ الْأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: فَيَلْتَزِمُهُ.

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengutus para tentaranya (setan-setan); maka kedudukan mereka yang paling dekat dengan Iblis adalah mereka yang paling besar menebarkan fitnah (kekacauan). Salah satu setan ada yang datang menghadap Iblis dan berkata: ‘Aku telah melakukan godaan begini dan begitu..’Maka Iblis menjawab: ‘Kamu belum melakukan sesuatu yang berarti!’Lalu setan yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidaklan meninggalkan seseorang melainkan Aku telah memisahkan (ikatan nikah) orang itu dengan istrinya!’Maka Iblis berkata: ‘Kaulah Setan yang terhebat!!’ Lalu Iblis mendekati setan tersebut[7].”  (HR. Muslim).

 

###*###

 

Disusun oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy

Rabu, 19 Jumadil Awal 1441H/15 Januari 2020

 

=====

 

FOOTNOTE:

[1]) HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dihasankan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 127

[2]) perkataan Al-Ghazali –rahimahullah– dalam Ihya’ Ulumuddin, 1/95

[3] ) Menanti buah hati hadiah untuk yang dinanti. Cet.10. Halaman 322.

[4]) Abu Dawud [no. 495], Ahmad [II/180, 187] dengan sanad hasan.

[5])  تحفة المودود بأحكام المولود، تحقيق : بشير محمد عيون،صفحة 139

[6]). This research article explicates the importance, barriers and benefits of parental involvement in child’s education. The authors exemplify the fact that parents’ involvement in their child’s learning process offers many opportunities for success-improvements on child’s morale, attitude, and academic achievement across all subject areas, behavior and social adjustment (Centre for Child Well-Being, 2010). This study underscores that the most common obstacle to parental participation is the parents’ pessimistic attitude towards supporting school where their children are enrolled in, and the ” we-don’t-care-attitude ” among parents. It further elucidates the truth about parents’ role in the personal and academic performance of the child, as revealed by Conway and Houtenville’s (2008) study, stating that ” parental effort is consistently associated with higher levels of achievement, and the magnitude of the effect of parental effort is substantial. ” Pinantoan (2013), Olsen (2010), and Henderson and Berla (1994) corroborate this contention and other claims on the importance and benefits of parental participation in the child’s holistic development. https://www.researchgate.net/publication/283539737_Parental_Involvement_in_Child’s_Education_Importance_Barriers_and_Benefits Researchers Karen Smith Conway, professor of economics at the University of New Hampshire, and her colleague Andrew Houtenville, senior research associate at New Editions Consulting, found that students do much better in school when their parents are actively involved in their education. Parental involvement has a strong, positive effect on student achievement.https://www.semanticscholar.org/paper/Parental-Effort%2C-School-Resources%2C-and-Student-Houtenville-Conway/1b7ba566d5cdc95da73ca5d0141cb0dadd06ab2d

[7]) Sebagaimana tambahan keterangan Al A’masy

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: