Kritikan Kepada Uas/Ustadz Abdul Somad Tentang Aqidah Imam Asy-Syafi’i Dalam Masalah Al-Uluw (Ketinggian Allah) Dan Penukilan Ijma Bahwa Allah Tidak Dimana-Mana

Ustadz Dika Wahyudi -hafizhahullah- telah menulis suatu sanggahan yang sangat bagus dan ilmiah terhadap salah seorang Da’i terkenal di Indonesia saat ini, sanggahan beliau sangat penting untuk disebarkan dan diketahui oleh masyarakat luas karena berkaitan dengan penjelasan akidah Tauhid yang benar yang merupakan dakwah seluruh para Nabi dan Rasul yang juga diikuti oleh para Ulama Ahlus Sunnah wal jama’ah.

Berikut ini tulisannya:

KRITIKAN KEPADA UAS/USTADZ ABDUL SOMAD TENTANG AQIDAH IMAM ASY-SYAFI’I DALAM MASALAH AL-ULUW (KETINGGIAN ALLAH) DAN PENUKILAN IJMA BAHWA ALLAH TIDAK DIMANA-MANA

Telah sampai kepada kami sebuah video ceramah ustadz Abdul Shomad di chanel youtube yang berisi bantahan terhadap klaim wahabi tentang Aqidah imam Syafi’i. Ada dua permasalahan pokok yang dibahas dalam video tersebut sehingga ada dua permasalahan juga yang akan kita kritisi dalam tulisan ini.

Link Video: https://youtu.be/CIJ-qBJvL_8

[PERMASALAHAN PERTAMA: AQIDAH IMAM SYAFI’I]

dalam ceramah yang bertajuk: “Bantahan Atas Klaim Wahabi: Kata Imam Syafi’i: Allah itu di Atas Arsy” dai kondang Ustadz Abdul Somad berkata: “yang selalu ditanyakan, kenapa kau tak ikut imam syafi’i…fikihnya ikut Imam Syafi’i kenapa aqidahnya tidak ikut imam syafi’i?” kemudian ia menukilkan perkataan Imam Syafi’i:

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم- مثل سفيان ومالك وغيرهما-؛ الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وأن الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء، وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء

“pendapat sunnah yang aku pegang bersama sahabatku, juga ahli hadits, juga ulama serta guru-guruku seperti imam Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik dan selainnya: mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah utusan Allah. Allah di atas Arsy di langit. Ia mendekat kepada makhluk-Nya sesuai kehendaknya. Ia turun kelangit dunia sesuai kehendak-Nya.

Kemudian ia mendhoifkan riwayat tersebut dengan menukil perkataan iman Adz-Dzahabi [mizanul i’tidal (III/112)] dan Al-hafidz Ibnu Hajar [lisanul mizan (IV/159)]

Kemudian dia berkata: “jadi kalau ada yang berkata Imam Syafi’i berkata: Allah berada di atas arsy, tidak bisa diterima karena sanadnya ada pemalsu hadits, kalau sanadnya ada pemalsu hadist, hadistnya dinamakan dhoif jiddan, dhoif jiddan tidak bisa dipakai dalam masalah aqidah …tapi kalian yang mengatakan hadits dhoif tidak bisa dipakai, sekarang kenapa bisa di pakai??

Kita jawab:

[PERTAMA] riwayat yang dibawakan Imam Adz-dzahabi dan Imam Ibnul Qayyim memang riwayat yang dhoif, bahkan imam Adz-Dzahabi sendiri berkata dalam Al-Uluw setelah membawakan dua jalur sanad kepada Imam Syafi’i:

إسنادهما واه

“sanad keduanya sangat lemah” [Al-Uluw, hal. 165, cet Adhwa’us salaf, Riyadh]

Hal ini justru merupakan pujian kepada kaum salafi bahwa mereka adalah orang-orang yang inshof dan adil, apa yang mendukung dan melemahkan pendapat mereka dijelaskan semuanya tanpa ditutupi.

tidak seperti mereka yang apabila mendapati apa yang sesuai dengan madzhab mereka maka mereka bela mati-matian walaupun dari sumber yang lemah dan palsu, akan tetapi apabila mereka mendapati apa yang tidak sesuai dengan pendapat mereka maka mereka tolak, dan mereka paksakan untuk melemahkan riwayatnya. Seperti kitab al-ibanah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari yang mereka tolak mentah-mentah, padahal dalam kitab tersebut Imam Asy’ari sendiri yang merontokkan hujjah dan pendapat mereka. Karena isinya tidak sesuai dengan aqidah mereka, gampangnya ya mereka dustakan kitab tersebut.

[KEDUA] riwayat tersebut bukan satu-satunya yang menjelaskan Aqidah Imam Syafi’i bahwa Allah berada di atas Arsy.

[1] Imam Syafi’i -rahimahullah- meriwayatkan dalam musnadnya hadits tentang keutamaan jum’at no (461) tahqiq Dr. Mahir Yasin al-Fahl:

…وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي اسْتَوَى رَبُّكُمْ عَلَى الْعَرْشِ فِيهِ، وَفِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ.

“dialah hari ketika Rabb kalian istiwa’ di atas Arsy, dan pada hari itu ia menciptakan Adam, dan pada hari itu ditegakkan hari kiamat.”

Hadist ini beliau bawakan pula dalam Al-Um (I/240) cet. Darul Ma’rifah, Beirut.

Dan perlu diketahui bahwa pendapat Imam Syafi’i bahwa nash sesuai dengan dzohirnya. Beliau berkata dalam kitabnya Ar-Risalah hal. 8, tahqiq Ahmad Syakir.

ولا يبلغ الواصفون كُنه عظمته. الذي هو كما وصف نفسه، وفوق ما يصفه به خلقه

“dan tidak akan sampai orang-orang yang mensifati-Nya kepada hakikat keagungannya, yang Dia adalah Dzat yang sebagaimana disifati oleh dirinya sendiri dan di atas apa yang disifatkan oleh makhluknya.”

[2] Imam Syafi’i membuat sebuah bab dalam Al-Umm: bab memerdekakan budak mu’minah dalam masalah dzihar (V/298) disana beliau mensyaratkan iman untuk kriteria budak yang dimerdekakan. Ia berkata:

لا يجزئ رقبة في الكفارة إلا مؤمنة

“tidak sah budak yang dimerdekakan kecuali mukminah”

Kemudian ia membawakan salah satu hujjahnya yaitu hadits Muawiyah bin Hakam tentang budaknya yang akan dimerdekakan:

فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَيْنَ اللَّهُ؟ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا؟ فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ فَأَعْتِقْهَا

“maka berkatalah rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- kepadanya: dimana Allah?” ia menjawab: “di langit” kemudian Rasul berkata: “siapa aku?” ia berkata: “engkau adalah rasulullah” rasul berkata: merdekakanlah dia sesungguhnya dia hamba yang beriman!”

Hal ini dijelaskan oleh Imam Ash-Shobuni

وإمامنا أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي رضي الله عنه احتج في كتابه المبسوط في مسألة إعتاق الرقبة المؤمنة في الكفارة، وأن غير المؤمنة لا يصح التكفير بها، بخبر معاوية بن الحكم، وأنه أراد أن يعتق الجارية السوداء كفارة، وسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عتقه إياها، فامتحنها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال لها: (من أنا؟) فأشارت إليه وإلى السماء، يعني أنك رسول الله الذي في السماء، فقال صلى الله عليه وسلم: (أعتقها فإنها مؤمنة).

فحكم رسول الله صلى الله عليه وسلم بإسلامها وإيمانها ، لما أقرت بأن ربها في السماء، وعرفت ربها بصفة العلو والفوقية.

وإنما احتج الشافعي رحمة الله عليه على المخالفين في قولهم بجواز إعتاق الرقبة الكافرة في الكفارة بهذا الخبر؛ لاعتقاده أن الله سبحانه فوق خلقه، وفوق سبع سمواته على عرشه، كما هو معتقد المسلمين من أهل السنة والجماعة، سلفهم وخلفهم؛ إذ كان رحمه الله لا يروي خبرا صحيحا ثم لا يقول به

“Dan Imam kita Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu berhujjah di dalam kitabnya yang luas tentang permasalahan memerdekakan budak yang beriman dalam kaffarah. Dan bahwasanya selain yang beriman tidak sah untuk dimerdekakan dalam kaffarah berdasarkan hadits Mu’awiyah bin Hakam. Ketika itu beliau ingin untuk memerdekakan budak wanita yang hitam untuk kaffarah. Dan beliau pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menguji sang budak seraya berkata: Siapakah aku? Sang budak menunjuk ke arah Rasul dan ke arah langit, maksudnya bahwa engkau adalah utusan Allah yang Dia ada di langit. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Merdekakan dia karena dia orang yang beriman.

Rasulullah memvonis akan keislaman dan keimanan sang budak karena dia mengikrarkan bahwa Rabbnya di atas langit dan dia tahu bahwa Rabbnya tersifati dengan sifat ketinggian.

Sesungguhnya Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berhujjah dengan hadits tersebut ketika membantah orang-orang yang membolehkan untuk memerdekakan budak kafir dalam kaffarah karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala di atas makhluk-Nya di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya. Sebagaimana ini adalah aqidah kaum muslimin dari ahlussunnah wal jamaah baik yang dahulu maupun yang terkini, karena beliau rahimahullahu tidaklah meriwayatkan hadits shahih tetapi beliau tidak berpendapat dengannya.” Aqidah Salaf Ashhabil Hadits hal. 188 cetakan kedua Darul ‘Ashimah tahun 1998 M – 1419 H dengan tahqiq Dr. Nashir bin Abdurrahman Al-Juda’i

[3] Imam Syafi’i berkata:

خلافة أبي بكر حق ؛ قضاها الله في سمائه ، وجمع عليها قلوب أصحاب نبيه

“Khilafah Abu Bakar adalah hak, Allah menetapkanya di atas langit-Nya, pun di atas langit Allah mengumpulkan hati para sahabat Nabi-Nya atas kekhalifahannya”

Dan dishohihkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ijtima’ Juyusy (hal. 123) tahqiq: Basyir Muhammad Uyuun, cet. Maktabah Daril Bayan

[ketiga] kibar ulama syafi’iyyah banyak yang berpendapat bahwa Allah berada di atas Arsy, yang menunjukkan bahwa para ulama tersebut juga mengikuti imam mereka dalam aqidah dan fiqh, tidak seperti klaim UAS bahwa ahlus sunnah adalah fiqihnya Syafi’i, Aqidahnya Asy’ari. Di antara mereka adalah:

[1] Imam Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani, beliau adalah murid Imam Syafi’i langsung

[2] Imam Abul Abbas bin Suraij yang dikenal dengan Imam Ibnul Haddad.

[3] Hujjatul Islam Abu Ahmad bin Al-Husain

[4] Imam Ismail bin Muhammad At-taimi pengarang kitab Al-Hujjah ‘ala taarikil mahajjah.

[5] Imam Abu Amr Utsman bin Abil Hasan bin Al-Husain As-Sahrudi

[6] Imam Abul Hasan Al-Umroni

[7] Imam Sa’ad bin Ali Az-Zanjani

Lihat Ijtima’ Juyusy hal. (123-150)

[keempat] syarat shohihnya sanad titik beratnya untuk hadits Nabi saja, kerena hadits merupakan sumber hukum dalam islam. Adapun perkataan sahabat, tabiin, ulama, dan nisbat kitab kepada mereka tidaklah sama dengan hadits Nabi. Sanad merupakan perhiasan dan bukan syarat untuk diterima atau tidaknya.

Berkata Al-Khotib Al-Baghdadi:

ما لا يفتقر كتبه إلى الإسناد.

كل ما تقدم ذكره يفتقر كتبه إلى الإسناد فلو أسقطت أسانيده واقتصر على ألفاظه فسد أمره ولم يثبت حكمه لأن الأسانيد المتصلة شرط في صحته ولزوم العمل به…

وأما أخبار الصالحين وحكايات الزهاد والمتعبدين ومواعظ البلغاء وحكم الأدباء فالأسانيد زينة لها وليست شرطا في تأديتها. “الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع” (2/213)

(Pasal) kitab yang tidak butuh kepada sanad.

Semua yang telah disebutkan, kitab-kitabnya butuh kepada sanad, apabila sanad-sanadnya gugur dan hanya mencukupkan dengan lafadz-lafdznya maka akan rusak perkaranya, dan tidak akan tetap hukumnya. Karena sanad yang bersambung adalah syarat keabsahannya dan boleh mengamalkannya…

Adapun kabar-kabar tentang orang-orang sholeh, hikayat tentang zuhud, ahli ibadah, nasehat para ahli balaghoh, hikmah para sastrawan, maka sanad merupakan perhiasan baginya dan bukan syarat untuk menunaikannya. “ [Al-Jami’ liAkhlaqir Rowi wa Adabis Sami’ (II/213), tahqiq: Mahmud Thohhan, cet. Maktabah Ma’arif]

[kelima] yang UAS nukil dari imam syafi’i tidak kami dapatkan sanadnya. Dan tidak kami dapatkan dalam kitab rujukan UAS.

UAS menyatakan bahwa yang benar dari aqidah Imam Syafi’i adalah yang dinukil dalam kitab Thobaqot Asy-Syafi’iyyah al-kubro: (IX/40):

إنه تعالى كان ولا مكان، فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان. لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفته

“Allah SWT itu Maha Ada sebelum tempat itu ada, lalu Allah Swt menciptakan tempat. Dia tetap pada sifat azali-Nya sebagaimana sebelumnya, sebelum Dia menciptakan tempat. Dzat-Nya tidak berubah, sifat-Nya tidak berganti.

Kami tidak mendapati dalam kitab tersebut perkataan Imam Syafi’i sebagaimana yang dinukilkan UAS. Akan tetapi kami mendapati dalam kitab Ithafus Saadatil Muttaqin, Murtadho Az-Zubaidi (II/24) yang wafat tahun 1205 H. Tanpa sanad. Dari mana Murtadho Az-Zubaidi menukil dari imam Syafi’i yang kematian keduanya berjarak 1000 tahun lebih tanpa adanya sanad, dan tanpa ada ulama selama 1000 tahun tersebut yang menukil dari Imam Syafi’i.

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa mereka pun biasa berdusta kepada Nabi dengan menisbatkan perkataan seperti nukilan di atas kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

فصل: ومن أعظم الأصول التي يعتمدها هؤلاء الاتحادية الملاحدة المدعون للتحقيق والعرفان: ما يأثرونه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كان الله ولا شيء معه وهو الآن على ما عليه كان

“pasal: diantara pokok yang paling besar yang menjadi sandaran kelompok ittihadiyyah (Allah bersatu dengan makhluknya) yang menyimpang yang mengklaim bahwa mereka adalah peneliti dan ahli ilmu, apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah ada dan tidak ada suatu apapun bersamanya dan dia sekarang berada pada diri-Nya.”… (Majmu’ Fatawa [II/272)]

Kemudian syaikhul islam berkata:

وقد بينا أنها كذب مختلق على النبي صلى الله عليه وسلم لم يقلها؛ ولم يروها أحد من أهل العلم ولا هي شيء من دواوين الحديث بل اتفق العارفون بالحديث على أنها موضوعة ولا تنقل هذه الزيادة عن إمام مشهور في الأمة بالإمامة وإنما مخرجها ممن يعرف بنوع من التجهم وتعطيل بعض الصفات

“kami telas menjelaskan bahwa riwayat ini adalah kedustaan yang dibuat-buat atas nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah ia ucapkan, tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun dari ahli ilmu, dan tidak pernah ada dalam perbendaharaan kitab hadits. Bahkan para ahli hadist sepakat bahwa ia adalah hadits palsu dan tidak pernah dinukil tambahan ini dari seorang imam yang masyhur keimamannya di umat islam. Sesungguhnya yang mengeluarkannya adalah orang yang dikenal terpengaruh dengan jahmiyah dan menolak sebagian sifat Allah.” [majmu’ fatawa (II/274-275)]

Semoga saja UAS bisa menunjukkan kepada kami sanadnya kepada Imam Syafi’i. Jangan sampai ia mengkritisi sanad, malah membawakan hujjahnya tanpa sanad sama sekali.

[Permasalahan Kedua: Ijma Bahwa Allah Tidak dimana-mana]

Kemudian UAS menukilkan ijma tentang keyakinan bahwa Allah tidak berarah dan tidak dimana-mana.

Ada beberapa kritikan terhadap UAS dalam hal ini yaitu:

[Pertama] terlalu tasahul dalam klaim ijma. Tanpa mengecek kebenaran dan syarat-syaratnya.

Klaim prematur ini justru menunjukkan tidak tahunya UAS tentang definisi ijma’ atau pura-pura tidak tahu tentang definisi dan syarat tersebut. Kalau memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Silahkan simak definisi ijma’ dan syarat sahnya ijma’

Berkata Al-Amidi -rahimahullah- mendefinisikan ijma:

الإجماع عبارة عن اتفاق جملة أهل الحل والعقد من أمة محمد في عصر من الأعصار على حكم واقعة من الوقائع… وقولنا: (جملة أهل الحل والعقد) احتراز عن اتفاق بعضهم وعن اتفاق العامة.

“ijma’ adalah sebuah ungkapan tentang kesepakatan seluruh ahli hil wal aqd (ulama) dari umat nabi muhammad di suatu masa dari masa yang ada terhadap hukum suatu perkara dari perkara-perkara yang ada.

Dan perkataan kami “seluruh ulama” mengeluarkan kesepakatan sebagian mereka atau kesepakatan orang-orang awam” [Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam (I/262, cet Dar as-Shumai’i)

Semoga dengan definisi ini UAS mengetahui bahwa ijma’ itu harus ada kesepakatan seluruh ulama, bukan sebagian ulama saja yang mengklaim adanya ijma’ lantas diamini tanpa memeriksa lagi.

Adapun untuk lebih jelas tentang syarat ijma simaklah penjelasan Al-Imam Mawardi berikut ini:

أما الفصل الثالث فيما يستقر به الإجماع فمعتبر بأربعة شُروط: أحدها العِلم باتِّفاقهم عليه، سواء اقترن قولهم بعمل أو لم يَقترِنْ …

“adapun pasal yang ketiga: hal-hal yang membuat ijma ditetapkan maka ijma menjadi mu’tabar dengan empat syarat: Salah satunya: mengetahui kesepakatan mereka (ulama), baik dibarengi dengan perbuatan ataupun tidak. [Adabul Qhodi, (I/470) tahqiq: Muhyi Hilal Sirhan, cet. Mathba’ah Al-Irsyad, Baghdad]

Kemudian Ia berkata:

فإن جهل الاتفاق في القول والعمل ولم يتحقق لم يثبت بذلك الإجماع

“apabila dia tidak mengetahui kesepakatan baik secara perkataan maupun perbuatan dan tidak dipastikan maka tidak bisa ditetapkan ijma’ dengannya” [adabul Qodhi, (I/471)

Dari penjelasan di atas bisa kita nyatakan batalnya klaim ijma’ UAS karena tidak meneliti apakah benar ulama sepakat bahwa Allah tidak dimana-mana dan Allah tidak berarah? Dan Allah bukan di atas? Mengapa kita pastikan demikian? Karena sangat banyak sekali ulama yang mengatakan dan sepakat bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, Allah berada di atas ketinggian, Allah berada di atas langit. Terlebih nukilan dari UAS adalah nukilan mutaakhir dari ulama belakangan.

Berkata Imam Al-Auzai (wafat 175 H.)

كنا والتابعون متوافرون نقول: إن الله تعالى ذكره فوق عرشه، ونؤمن بما وردت السنة به من صفاته جل وعلا

“kami dan para tabi’in masih banyak hidup dan kami berkata: “sesungguhnya Allah yang maha tinggi penyebutannya berada di atas Arsy dan kami beriman terhadap apa yang datang dari sunnah berupa sifat-sifat-Nya jalla wa ‘ala” [al-Asma was Shifat, no (865), Imam baihaqi

Cukuplah penukilan dari Imam Al-Auzai yang merupakan tabi’ut tabi’in yang mengatakan bahwa mereka dan para tabiin sepakat bahwa Allah di atas Arsy membatalkan klaim ijma dari UAS yang menukil ijma paling awal dari syaikh Abdul Qahir bin Thohir at-Tamimi al-Baghdadi yang wafat tahun 429 H.

[kedua] Para Imam dari kalangan Asy’ariyah sendiri yang inshof mengatakan bahwa justru para ulama salaf terdahulu sepakat bahwa Allah berada di atas dan bersemayam di atas Arsy.

Imam Qurthubi -rahimahullah- padahal dia bermadzhab asy’ari, secara inshof mengatakan bahwa para salaf tidak ada yang berselisih tentang makna istiwa di atas arsy dalam tafsir surat Al-A’raf: 54

وقد كان السلف الأول رضي الله عنهم لا يقولون بنفي الجهة ولا ينطقون بذلك، بل نطقوا هم والكافة بإثباتها لله تعالى كما نطق كتابه وأخبرت رسله. ولم ينكر أحد من السلف الصالح أنه استوى على عرشه حقيقة. وخص العرش بذلك لأنه أعظم مخلوقاته، وإنما جهلوا كيفية الاستواء فإنه لا تعلم حقيقته. الجامع لأحكام القرآن (7/ 219)

“dan sungguh salaf yang terdahulu -radhiyallah anhum- tidak berpendapat untuk menafikan arah (bagi Allah) dan mereka tidak membicarakan yang demikian. Bahkan mereka semua berbicara menetapkannya bagi Allah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-Nya dan dikabarkan oleh rasul-rasul-Nya. Tidak ada seorang pun dari salafush sholeh yang mengingkari bahwa Dia bersemayam di atas Arsy secara hakiki. Dan dikhususkan Arsy dengan istiwa karena dia adalah makhluk yang paling besar. Akan tetapi mereka (salafus sholeh) tidak mengetahui kaifiyyat istiwa, karena sesungguhnya hakikatnya tidak diketahui.”

[ketiga] nukilan ijma ulama bahwa Allah bersemayam di atas arsy di langit.

Ada lebih dari 20 nukilan yang kami kumpulkan dari ulama bahwa Allah bersemayam di atas Arsy di atas langit selain nukilan imam abu zur’ah Ar-Rozi dan Imam Qurtubi di atas.

[1] Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) rahimahullah berkata:

هذه مذاهب أهل العلم، وأصحاب الأثر، وأهل السنة المتمسكين بعروقها، المعروفين بها، المقتدى بهم فيها، من لدن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا، وأدركتُ من أدركتُ من علماء أهل الحجاز والشام وغيرهم عليها، فمن خالف شيئا من هذه المذاهب، أو طعن فيها، أو عاب قائلها، فهو مبتدع خارج من الجماعة زائل عن منهج السنة وسبيل الحق فكان قولهم…

…قال :الله تعالى على العرش ، فوق السماء السابعة العليا ، ويعلم ذلك كله ، وهو بائن من خلقه لا يخلو من علمه مكان

“ini adalah madzhab-madzhab ahli ilmu, ashabul atsar (ahli hadits) dan ahlus sunnah yang berpegang kepada akar-akarnya, yang dikenal dengan sunnah, yang dijadikan panutan di dalamnya, dari masa para ssahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada hari ini. Aku menemui orang yang aku temui dari ulama Hijaz, Syam, dan selainnya. Maka barang siapa yang menyelisihi sedikitpun dari pendapat-pendapat ini, atau mengkritiknya dan mencela orang yang berpendapat dengannya, maka dia adalah ahli bid’ah yang keluar dari jama’ah tergelincir dari manhaj sunnah dan jalan yang benar. Maka pendpat mereka adalah …

Allah berada di atas Arsy, di atas langit yang ketujuh, Dia mengetahui seluruhnya, Dia terpisah dari makhluk-Nya, ilmunya tidak luput dari setiap tempat.

[Thobaqot Hanabilah (I/24-27), tahqiq: Muhammad Hamid al-Faqi, cet: Darul MA’rifah, Beirut]

[2] ِAl-Hafidz Abdurahman Ash-Shobghi (207 H.) ketika berbicara tentang jahmiyah dia berkata:

هم شر قولا من اليهود والنصارى قد اجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء.

“pendapat mereka (jahmiyah) lebih buruk dari Yahudi dan Nashrani. Telah sepakat Yahudi, Nashrani, dan seluruh agama bersama kaum muslimin bahwa Allah ‘azza wajalla di atas Arsy, dan mereka (jahmiyah) berkata: Allah tidak berada di Atas suatu apapun”

[Al-Uluw, hal. 157, cet. Maktabah Adwaus Salaf]

Yang aneh lagi syubhat dari mereka bahwa perkataan Allah di Atas langit merupakan bentuk tasyabuh kepada Yahudi dan Nashrani. Padahal memang aqidah Allah di langit di atas Arsy memang ajaran murni dari Allah kepada seluruh umat dan ini sesuai dengan aqidah islam. Jadi tidak semua yang bersumber dari mereka kita dustakan. Yang kita dustakan adalah yang bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah. Justru merekalah yang menyelisihi aqidah seluruh umat dan menyelisihi Alqur’an dan Sunnah sekaligus. Jadi siapa yang syadz disini???

[3] Imam Ali bin Al-Madini guru dari Imam Bukhori (234 H.) ketika ditanya tentang pendapat ahlu jamaah:

ما قول أهل الجماعة؟ قال: أهل الجماعة يؤمنون بالرؤية وبالكلام، وأن اللّه فوق السموات على العرش استوى.

“apa pendapat ahlul jama’ah?” Ia berkata: “ahlul jama’ah beriman kepada ru’yah (kaum muslimin melihat Allah di surga) dan beriman kepada kalam, dan sesungguhnya Allah berada di atas langit di atas Arsy Dia bersemayam.

[Al-Uluw, hal. 175, cet. Maktabah Adwaus Salaf]

[4] Imam Ishaq bin Rahawaih (237 H.):

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah berfirman: “Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy” telah ijma’ para ahli ilmu bahwa Dia bersemayam di atas Arsy dan mengetahui segala sesuatu di bawah lapisan bumi yang ketujuh”

[Al-Uluw, hal. 179]

[5] Imam Qutaibah bin Said (240 H.)

هذا قول الأئمة المأخوذ في الإسلام والسنة… ونعرف الله في السماء السابعة على عرشه. كما قال تعالى: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى.

“ini adalah pendapat para imam yang diambil dalam islam dan sunnah … dan kami mengetahui bahwa Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas Arsy-Nya, sebagaimana Allah berfirman: “Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy baginya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta yang berada di antara keduanya dan yang dibawah permukaan bumi”

[Syiar Ashabul Hadits, Al-Hafidz Abu Ahmad Al-Hakim, hal. 34 dan 39, cet. Maktabah Ar-Rusyd Nasyirun]

[6,7] Imam Abu zur’ah Ar-Rozi (264 H.) dan Abu Hatim Ar-rozi (277 H.)

أخبرنا محمد بن المظفر المقرئ , قال: حدثنا الحسين بن محمد بن حبش المقرئ , قال: حدثنا أبو محمد عبد الرحمن بن أبي حاتم , قال: سألت أبي وأبا زرعة عن مذاهب أهل السنة في أصول الدين وما أدركا عليه العلماء في جميع الأمصار , وما يعتقدان من ذلك , فقالا: ” أدركنا العلماء في جميع الأمصار حجازًا وعراقا وشاما ويمنا فكان من مذهبهم:…. .

… وأن الله عز وجل على عرشه بائن من خلقه كما وصف نفسه في كتابه , وعلى لسان رسوله – صلى الله عليه وسلم – بلا كيف , أحاط بكل شيء علما , {ليس كمثله شيء وهو السميع البصير} [الشورى: 11].

“telah mengabarkan kami Muhammad bin al-Muzhoffir al-Muqri ia berkata: “telah menceritakan kami Al-Husain bin Muhamma bin Habsy Al-Muqri ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdurrohman bin Abu Hatim ia berkata: “aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlussunnah dalam ushuluddin dan apa yang mereka ketahui dari para ulama diseluruh penjuru kota dan apa yang mereka berdua yakini darinya, mereka berdua berkata:

“kami menemui seluruh ulama dari seluruh penjuru negeri, Hijaz, Iraq, Syam, dan Yaman, dan di antara pendapat mereka: …

… dan sesungguhnya Allah azza wajalla berada di atas Arsy terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia mensifati diri-Nya dalam kitab-Nya dan dengan lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa menanyakan kaifiyat, dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allah berfirman: “tidak ada sesuatu apapun yang semisal dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”

[dikeluarkan oleh Imam Al-lalikai dalam Syarah Ushul i’tiqod Ahlis Sunnah, (I/197-201) No. 321]

[8] Imam Harb bin Ismail Al-Kirmani (280 H.)

هذه مذاهب أهل العلم و أصحاب الأثر و أهل السنة المتمسكين بها المقتدى بهم فيها من لدن أصحاب النبي إلى يومنا هذا و أدركت من أدركت من علماء أهل الحجاز و الشام و غيرهم عليها فمن خالف شيئا من هذه المذاهب أو طعن فيها أو عاب قائلها فهو مخالف مبتدع خارج عن الجماعة زائل عن منهج السنة و سبيل الحق قال : و هو مذهب أحمد و إسحاق بن إبراهيم و عبد الله بن مخلد و عبد الله بن الزبير الحميدي و سعيد بن منصور و غيرهم كمن جالسنا و أخذنا عنهم العلم و كان من قولهم …

…وبين الأرض العليا و السماء الدنيا مسيرة خمسمائة عام و بين كل سماء إلى سماء مسيرة خمسمائة عام و الماء فوق السماء العليا السابعة و عرش الرحمن عز و جل فوق الماء و الله عز و جل على العرش و الكرسي موضع قدميه و هو يعلم ما في السماوات و الأرضين و ما بينهما و ما تحت الثرى.

“ini adalah madzhab-madzhab ahli ilmu, ashabul atsar (ahli hadits) dan ahlus sunnah yang berpegang kepada akar-akarnya, yang dikenal dengan sunnah, yang dijadikan panutan di dalamnya, dari masa para ssahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai kepada hari ini. Aku menemui orang yang aku temui dari ulama Hijaz, Syam, dan selainnya. Maka barang siapa yang menyelisihi sedikitpun dari pendapat-pendapat ini, atau mengkritiknya dan mencela orang yang berpendapat dengannya, maka dia adalah ahli bid’ah yang keluar dari jama’ah tergelincir dari manhaj sunnah dan jalan yang benar. Dan ini adalah madzhab Imam Ahmad, Ishaq bin Ibrohim, Abdullah bin Mukhollad, Abdullah bin Az-Zubair Al-humaidi, Sa’id bin Manshur, dan selain mereka, seperti ulama yang bermajlis bersama kami, dan kami ambil ilmu dari mereka. maka di antara pendapat mereka adalah …

… antara permukaan bumi dan labit dunia sejarak 500 tahun perjalanan. Dan jarak antar langit 500 tahun perjalanan. Dan air berada di atas langit ketujuh dan Arsy Ar-Rahman berada di atas air, dan Allah azza wajalla berada di atas Arsy. Dan Kursi adalah tempat kedua kaki-Nya. Dan Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan yang di antara keduanya serta yang berada didalam perut bumi.

[Mu’taqod Ahlis Sunnah Wal Jamaah, Imam Harb bin Ismail Al-Kirmani, hal 25 dan 52-57, Tahqiq: Sulaiman bin Muhammad Ad-dubaikhi]

[9] Imam Utsman bin Sa’id Ad-Darimi (280 H.)

وقد اتفقت الكلمة من المسلمين أن الله – تعالى – فوق عرشه فوق سماواته

“dan telah sepakat pernyataan di antara kaum muslimin, bahwa Allah ta’ala di atas Arsy di atas langit”

[An-Naqdh ‘Ala Bisyr Al-Marisi Al-‘Anid, (I/240)]

[10] Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi (321 H.)

هذا ذكر بيان عقيدة أهل السنة والجماعة.

… وهو مستغن عن العرش وما دونه، محيط بكل شيء وفوقه وقد أعجز عن الإحاطة خلقه.

“ini adalah penjelasan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah … dan Dia tidak butuh kepada Arsy dan apa yang di bawahnya. Dia meliputi segala sesuatu, dan Dia berada di atasnya (Arsy) dan Dia telah melemahkan makhluk untuk meliputi-Nya.

[At-TA’liqot Al-Mukhtashoroh Alal Aqidah At-Thohawiyah, Syaikh Fauzan, hal. 125-126]

[11] Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (328 H.)

الإجماع التاسع: …وأنه تعالى فوق سماواته على عرشه دون أرضه.

“ijma yang kesembilan: Bahwa Allah ta’ala berada di atas langit di atas Arsy bukan di bumi”

[Risalah Ila Ahli Ats-Tsagr, hal. 130]

[12] Imam Al-Ajuri (360 H.)

والذي يذهب إليه أهل العلم: أن الله عز وجل سبحانه على عرشه فوق سماواته , وعلمه محيط بكل شيء…

وهو على عرشه , وهذا قول المسلمين

“pendapat ahli ilmu adalah: bahwa Allah azza wajalla subhanahu berada diatas Arsy di atas langit, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu …. dan Dia berada di atas Arsy, dan ini kesepakatan kaum muslimim.”

[Asy-Syari’ah, (III/1076)

[13] Imam Abu Zaid Al-Qoirowani al-Maliki (386 H.)

فمما أجمعت عليه الأمة من أمور الديانة، ومن السنن التي خلافها بدعة وضلالة: أن الله – تبارك اسمه – له الأسماء الحسنى والصفات العلى …. .

وأنه فوق سماواته على عرشه دون أرضه، وأنه في كل مكان بعلمه

“termasuk yang disepakati (ijma) oleh umat dari perkara agama, dan termasuk sunnah yang menyelisihinya adalah bid’ah dan kesesatan: bahwa Allah tabaroka wa ta’ala memiliki asmaul husna dan sifat yang tinggi …. dan Sesungguhnya Dia di atas langit di atas Arsy bukan di bumi. Dan sesungguhnya ilmu-Nya meliputi segala tempat.”

[Al-Jami’ Fis Sunan Wal Adab Wal Maghozi, hal. 107-118]

[14] Imam Ibnu Bathoh (387 H.)

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين، وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه، فوق سماواته بائن من خلقه، وعلمه محيط بجميع خلقه، لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية، وهم قوم زاغت قلوبهم، واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين

“kaum muslimin sepakat dari kalangan sahabat dan tabi’in dan seluruh ahli ilmu dari kalangan mukminin bahwa: Allah tabaroka wata’ala di atas Arsy di atas langit berpisah dari makhluk-Nya dan ilmunya meliputo segala sesuatu. Tidak ada yang enggan mengimaninya dan mengingkarinya kecuali yang bermadzhab hululiyah (Allah menyatu dengan makhluk). Merekalah kaum yang hati mereka menyimpang dan dikuasai setan, maka mereka melesat dari agama…”

[Al-Ibanah Al-Kubro, (VII/136)]

[15] Imam Ma’mar bin Ahmad Al-Ashbahani (418 H.)

قال في رسالته: أحببت أن أوصي أصحابي بوصية من السنّة، وموعظة من الحكمة، وأجمع ما كان عليه أهل الحديث والأثر، وأهل المعرفة والتصوف من المتقدمين والمتأخرين “

…” وإن الله استوى على عرشه بلا كيف ولا تشبيه ولا تأويل ، والاستواء معقول ، والكيف مجهول”

Berkata dalam Risalahnya: “aku senang untuk berwasiat kepada para sahabatku dengan wasiat tentang sunnah dan nasehat berupa hikmah, dan telah sepakat ahli hadits dan atsar, ahli makrifah dan tasawwuf dari kalangan terdahulu dan belakangan… bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa bertanya kaifiyat, tanpa tasybih dan takwil. Istiwa itu maknanya diketahui sedangkang kaifiyatnya tidak diketahui”

[dinukil Ibnu Qoyyim dalam Ijtima’ Al-juyusy, hal 286, dan Imam Adz-Dzahabi dalam al-Uluw, hal 244]

[16] Imam Abu Umar Ath-Tholamanki (429 H.)

أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله {وهو معكم أين ما كنتم} ونحو ذلك من القرآن أنه علمه وأن الله تعالى فوق السموات بذاته مستو على عرشه كيف شاء

“kaum muslimin sepakat dari ahlus sunnah bahwa makna firman-Nya: “dan Dia bersama kalian dimanapun kalian” dan yang semisalnya dari al-Qur’an bahwa itu adalah ilmu-Nya, dan sesungguhnya Allah ta’ala Dzat-Nya berada di atas langit bersemayam di atas Arsy sebagaimana yang ia kehendaki”

[Al-Uluw, hal 246]

[17] Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H.)

قال في كتابه “الاعتقاد”:

طريقتنا طريقة السلف المتبعين للكتاب والسنة وإجماع الأمة ومما اعتقدوه: …

وأن الله بائن من خلقه والخلق بائنون منه لا يحل فيهم ولا يمتزج بهم وهو مستو على عرشه في سمائه من دون أرضه.

Berkata dalam kitabnya I’tiqod: “jalan kami yaitu jalan salaf yang mengikuti kitab dan sunnah dan ijma’ umat. Diantara yang mereka yakini adalah …. dan sesungguhnya Allah terpisah dari makhluk-Nya dan Makhluk terpissah dari-Nya. Ia tidak menitis kepada mereka dan tidak bercamput dengan mereka. dan Dia bersemayam di atas Arsy-Nya di Langit bukan di bumi.”

[Al-Uluw, hal 243]

[18] Abu Amr Ad-Dani (444 H.)

ومن قولهم: أنه سبحانه فوق سماواته، مستوٍ على عرشه، ومستول على جميع خلقه، وبائن منهم بذاته، غير بائن بعلمه، بل علمه محيط بهم، يعلم سرهم وجهرهم، ويعلم ما يكسبون، على ما ورد به خبره الصادق، وكتابه الناطق، فقال تعالى: {الرحمن على العرش استوى} ، واستواؤه عز وجل: علوه بغير كيفية، ولا تحديد… الرسالة الوافية (ص 129- 130).

“dan di antara pendapat mereka: “bahwa Allah subhanahu di atas langit bersemayam di atas Arsy, dan berkuasa terhadap seluruh makhluknya, terpisah dari makhluk-Nya. Ilmu-Nya tidak terlepas dari mereka, bahkan meluputi segala sesuatu. Dia mengetahui yang tersembunyi dan nampak, mengetahui apa yang mereka kerjakan, sesuai dengan kabar yang benar dan sesuai dengan kitab-Nya yang berfirman: ““Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy” dan bersemayamnya Allah azza wajalla adalah ketinggiannya tanpa kaifiyat, tanpa batasan…”

[Ar-Risalah Al-Wafiyah, hal. 129-130]

[19] Imam Abu Nashr As-Sazaji (444 H.)

أئمتنا كسفيان الثوري ومالك وحماد بن سلمة وحماد بن زيد وسفيان بن عيينة والفضيل وابن المبارك وأحمد وإسحاق متفقون على أن الله سبحانه بذاته فوق العرش وعلمه بكل مكان وأنه ينزل إلى السماء الدنيا وأنه بغضب ويرضى ويتكلم بما شاء.

“Para Imam kami seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Sufyan bin Uyainah, Fudhoil, Ibnul Mubarok, Ahmad, dan Ishaq sepakat bahwa Allah subhanahu dengan Dzat-Nya di atas Arsy dan ilmunya meliputi segala sesuatu. Dan Dia turun kelangit dunia. Dan Dia marah, ridho, berbicara sesuai dengan kehendaknya”

[Al-Uluw, hal 248]

[20] Imam Abu Utsman Ash-Shobuni (449 H.)

وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمهم الله – لم يختلفوا في أن الله – تعالى – على عرشه، وعرشه فوق سماواته، يثبتون من ذلك ما أثبته الله تعالى، ويؤمنون به، ويصدقون الرب – جل جلاله – في خبره… عقيدة السلف أصحاب الحديث (ص 176).

“para ulama umat dan para imam salaf -rahimahullah- tidak berselisih bahwa Allah -ta’ala- di atas Arsy, dan Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan yang demikian sebagaimana yang ditetapkan Allah -ta’ala-, mereka mengimaninya, membenarkan Rabb mereka -jalla jalaaluh- dalam pengabarannya….”

[Aqidah Salaf Ashabul Hadits, hal 176]

[21] Imam Ibnu Abdil Bar (463 H.)

وأما قوله في هذا الحديث للجارية “أين الله” فعلى ذلك جماعة أهل السنة وهم أهل الحديث ورواته المتفقهون فيه وسائر نقلته كلهم يقول ما قال الله تعالى في كتابه {الرحمن على العرش استوى} وأن الله عز وجل في السماء وعلمه في كل مكان. الاستذكار (7/ 337).

“ adapun sabdanya dalam hadits ini kepada Jariyah (budak wanita yang masih kanak-kanak) “dimana Allah” maka dengan inilah jamaah ahlus sunnah berpendapat dan merekalah ahlul Hadits dan para perawinya yang sepakat di dalamnya dan seluruh yang menukilkan, seluruhnya berkata sebagaimana firman Allah: “Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy” dan Allah azza wajalla berada di langit dan ilmu-Nya pada setiap tempat….”

[Al-Istidzkar, (VII/337)]

[22] Imam Abul Qosim Sa’ad bin Ali az-Zanjani (471 H.)

وقد أجمع المسلمون على أن الله هو العلي الأعلى، ونطق بذلك القرآن بقوله تعالى: ” سبِّح اسْمَ ربِّك الأعلى ” سورة الأعلى آية 1. وأن لله علو الغلبة، والعلو الأعلى من سائر وجوه العلو، لأن العلو صفة مدح عند كل عاقل، فثبت بذلك أن للّه علو الذات، وعلوالصفات، وعلو القهر والغلبة “

“telah sepakat kaum muslimin bahwa Allah adalah Dzat Yang Tinggi Lagi Maha Tinggi, mengabarkan yang demikial al-Qur’an dengan firman-Nya: “pujilah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi” QS. Al-A’la: 1

Dan Allah Maha Tinggi kekuasaan-Nya, Yang Maha tinggi dari segala arah ketinggian. Karena tinggi adalah sifat terpuji bagi setiap yang berakal. Maka ditetapkan yang demikian ketinggian Dzat Allah, ketinggian sifat-Nya. Ketinggian kekuasaan-Nya”

[Ijtimaul Juyusy, hal 197]

[23] Abu Qosim At-taimi (535 H.)

قال أهل السنة: الله فوق السماوات لا يعلوه خلق من خلقه، ومن الدليل على ذلك: أن الخلق يشيرون إلى السماء بأصابعهم، ويدعونه ويرفعون إليه أبصارهم. الحجة في بيان المحجة (2/ 82).

“berkata ahlus sunnah: Allah berada di atas langit, tidak ada satupun makhluknya yang berada di atas-Nya. Termasuk dalil hal itu adalah semua makhluk mengisyaratkan ke langit dengan telunjuk mereka, dan mereka berdoa kepada-Nya dengan mengangkat pandangan mereka ke langit”

[Al-hujjah fii Bayanil Mahajjah. (II/82)

[keempat] kami tutup dengan perkataan Imam Ahmad rahimahullah yang membantah klaim ijma mu’tazilah atas aqidahnya mereka padahal hanya sebatas klaim dusta tanpa penelitian terlebih dahulu:

من ادّعى الْإِجْمَاع فقد كذب، لَعَلَّ النَّاس اخْتلفُوا. هَذِه دَعْوَى بشر المريسي والأصم

“barang siapa yang mengklaim ijma’ maka dia telah berdusta. Bisa jadi manusia berselisih. Ini adalah dakwa Bisyr Al-Marisi dan Al-Ashom.”

Berkata Ibnu Rojab dalam syarah Tirmidzi:

وَأما مَا رُوِيَ من قَول الإِمَام أَحْمد: من ادّعى الْإِجْمَاع فقد كذب فَهُوَ إِنَّمَا قَالَه إنكاراً على فُقَهَاء الْمُعْتَزلَة الَّذين يدعونَ إِجْمَاع النَّاس على مَا يَقُولُونَهُ، وَكَانُوا من أقل النَّاس معرفَة بأقوال الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ

“adapun apa yang diriwayatkan dari perkataan imam ahmad: “barang siapa yang mengklaim ijma’ maka ia telah berdusta” sesungguhnya ia mengucapkannya karena mengingkari fuqoha mu’tazilah yang mengklaim ijma manusia atas pendapat mereka. Padahal mereka adalah manusia yang paling sedikit pengetahuannnya dengan perkataan para sahabat dan tabiin.” Lihat [At-tahbir syarah At-Tahrir fi ushulil fiqh, Alauddin al-Mardawi, tahqiq: Dr. Abdurohman Al-Jibrin (I/1526,1528-1529)

Semoga UAS tidak termasuk orang yang tahu kebenaran bahwa ijma ulama dari semenjak sahabat bahwa Allah di atas langit, tapi berdusta seperti mu’tazilah dengan membawakan klaim ijma yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Dika Wahyudi Lc.

=====

 

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1983714898449027&id=100004316073711.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: