Pembahasan Penting Seputar Hukum-hukum air mani, air wadi, dan air madzi

Selama kegiatan belajar mengajar, penulis sering menemukan pertanyaan dan keidakfahaman dari kaum Muslimin terkait hukum dan perbedaan antara air mani, air wadi, dan air madzi; yang mana ketiga-tiganya tampak hampir sama dan sama-sama keluar dari kemaluan laki-laki ataupun perempuan. Padahal ketiga hal tersebut merupakan hal-hal yang sering terjadi dan bahkan tidak lepas dari kehidupan manusia. Baiklah, dengan memohon pertolongan dan peunjuk Allah ‘azza wa jalla mari kita bahas secara ringkas ketiga air tersebut.

  1. Air Madzi

Air madzi  adalah air putih yang lembut dan lengket, yang keluar ketika bermesraan atau mengingat jima’; dengan tanpa syahwat dan tidak memancar serta tidak diikuti lelah (setelahnya), dan terkadang keluarnya madzi itu tidak terasa.

Hukumnya adalah najis. Karena Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– dalam hadits tentang Ali bin Abi Thalib, beliau bersabda:  توضأ، واغسل ذكرك

“Wudhulah dan cucilah kemaluanmu!” (HR. Bukhori, no. 269) yakni, dari air madzi. Ali –radhiallahu ‘anhu- tidak diperintahkan mandi besar karena sebagai keringanan dan diangkatnya kesulitan, karena mandi besar karena keluar air madzi termasuk hal yang susah dihindari.

  1. Air Wadi

Air wadi adalah air putih yang kental yang keluar (dari kemaluan) setelah buang air kecil. Siapa yang mendapati air wadi tersebut maka kemaluannya harus dicuci dan berwudhu, tetapi tidak diharuskan mandi. (poin ke 1 dan ke 2 ini dinukil dari Al Fiqhul Muyassar, 36). Dan hukum air wadi ini najis seperti najisnya air kencing.

  1. Adapun Air mani,  kita perhatikan penjelasan berikut ini dari Imam Nawawi -rahimahullah- dalam Syarh Shahih Muslim (3/222) berkata:

“…sesungguhnya ciri-ciri khusus yang menjadi patokan suatu air itu dihukumi air mani; ada tiga, yaitu:

  • Pertama, keluarnya dengan syahwat yang disertai rasa lelah setelahnya.
  • Kedua, aromanya seperti bau Mayang kurma sebagaimana telah berlalu penjelasannya (yakni, seperti bau adonan  -pent).
  • Ketiga, keluarnya dengan memuncrat dan berupa dorongan-dorongan.

Masing-masing dari ketiga ciri-ciri khusus tersebut cukup untuk menetapkan air itu sebagai air mani dan tidak disyaratkan adanya semua ciri-ciri tersebut, dan apabila pada suatu air tidak memiliki salah satu dari ketiga ciri tersebut; maka air itu tidak dihukumi sebagai air mani dan perkiraan yang dominan pun menunjukkan bahwa air tersebut bukanlah air mani. Ini semua adalah kriteria mengenai air mani laki-laki.

Adapun air mani perempuan, maka berwarna kuning dan lembut serta terkadang memutih tergantung kekuatannya. Dan air mani perempuan memiliki dua ciri khusus yang bisa dikenali cukup dengan salah satunya saja, yaitu: (Ciri yang pertama) aromanya seperti air mani laki-laki. Ciri yang kedua, ada keledzatan bersama keluarnya air mani itu serta diikuti rasa lelah (kekuatan peremuan itu melemah) setelah keluar air maninya.” –selesai nukilan-

Air mani hukumnya suci dan tidak najis, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:

 “…Karena telah dimaklumi bahwasannya para Shahabat dahulu mereka pun ‘bermimpi basah’ di zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan air mani tentunya mengenai badan dan baju salahseorang dari mereka; ini merupakan diantara kasus yang sering terjadi dan meluas serta sukar dihindari (ta’ummu bihil balwaa), Seandainya air mani itu najis tentu seharusnyalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan para Shahabat untuk membersihkannya dari badan-bandan dan baju-baju mereka sebagaimana beliau telah memerintahkan mereka untuk istinja’ (cebok) dan sebagaimana beliau telah memerintahkan wanita haidh untuk membasuh darah haidh dari bajunya. Bahkan air mani yang terkena pada manusia itu jauh lebih besar daripada darah haidh yang terkena baju.

Dan telah dimaklumi juga bahwasannya tidak dinukil dari seorang pun ulama bahwa Nabi memerintahkan seorang Shahabat mencuci air mani dari badannya dan tidak pula dari bajunya, maka dapat diketahuilah secaya meyakinkan bahwasannya mencuci air mani ini tidaklah wajib bagi mereka, ini merupakan suatu kepastian hukum bagi orang yang merenungkannya.” –selesai nukilan- (Majmu’ al Fataawaa, 21/604-605)

Cara bersuci dari air mani, air wadi, dan air madzi

Ibnu Abbas berkata: “Ada air mani, air wadi, dan air madzi. Adapun air mani, maka dengan sebab itulah harus mandi besar. Adapun mengenai air wadi dan air madzi maka beliau bersabda:

اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاةِ

‘Basuhlah kemaluanmu -atau biji kemaluanmu (madzaakiiraka)- dan berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat.’” (HR. Al Baihaqiy [1/115], Shahih sunan Abu Daud no.190).

Dari Sahal bin Hanif, ia berkata: Dahulu Aku mendapati air madzi begitu memberatkan dan membuat payah dan dahulu itu aku sering mandi dari air madzi tersebut, maka aku laporkan hal itu kepada Rasulullah lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya cukup bagimu wudhu saja dari hal itu.” Lalu aku katakan: “wahai Rasulullah, lantas bagaimana dengan air madzi yang mengenai bajuku?” maka beliau bersabda:

يَكْفِيكَ بِأَنْ تَأْخُذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَتَنْضَحَ بِهَا مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَهُ

“Cukup bagimu mengambil air satu ciduk tangan; lalu kau percikkan ke bajumu yang kau lihat terkena air madzi.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no.409).

Mengenai air mani, air wadi, dan air madzi; Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- menyimpulkan sebagai berikut:

“Perbedaan antara air mani dan air madzi; bahwasannya air mani itu kental dan memilliki bau serta keluarnya memuncrat pada saat syahwat memuncak.

Adapun air madzi, ialah: air yang halus dan tidak memiliki bau air mani serta keluarnya tidak memuncrat, dan juga tidak keluar pada saat syahwat memuncak; tetapi justru ketika syahwat mulai mengendor, maka ketika syahwatnya mengendor menjadi jelaslah bagi seseorang.

Adapun air wadi, ialah: semacam sari yang keluar setelah kencing, berupa tetesan-tetesan putih di akhir kencing.

Inilah penjelasan yang berkaitan dengan sifat-sifat dasar tiga jenis air tersebut.

Adapun yang berkaitan dengan hukum-hukumnya, maka:

Sesungguhnya air wadi memiliki hukum-hukum yang sama persis seperti air kencing dari berbagai sisinya.

Sedangkan air madzi berbeda dengan air kencing pada sebagian halnya bila hendak bersuci darinya. Karena kenajisannya lebih ringan sehingga bersuci darinya cukup dengan diperciki, yaitu memercikan air pada semua tempat yang terkena air madzi dengan tanpa diperas dan tanpa digosok, dan begitu juga wajib ketika bersuci tersebut membasuh dzakar dan dua biji dzakarnya walaupun tidak terkena air madzi.

Adapun air mani maka hukumnya suci tidak diharuskan mencuci apa-apa yang terkena mani kecuali dalam rangka menghilangkan bekasnya saja. Air mani adalah yang menyebabkan wajibkan mandi besar. Sedangkan air madzi, air wadi, dan air kencing; semua itu hanya menyebabkan wajib berwudhu’ saja.” –selesai nukilan- (Majmu’ Fataawaa Wa Rasaa-Il Syaikh Al ‘Utsimin, jilid 12, Bab Al Ghusl).

===========

Sumber:

– Shahiih Fiqh As Sunnah

– Al Wajiiz Fi Fiqh As Sunnah wa Al Kitaab Al ‘Aziiz

– Al Fiqh Al Muyassar

https://ar.islamway.net/fatwa/10740

——-

Disusun oleh:

Mochammad Hilman Alfiqhy

Pesantren Annajiyah, Bandung 18 Ramadhan 1438 H.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: