Metode Pengajaran Al-Quran oleh Dua Sahabat Nabi yang Mulia: Abu Darda dan Anas bin Malik

Sejak zaman Salafush Shalih, generasi terbaik umat Islam, telah memiliki sejarah perjuangan pendidikan tersendiri yang dengan itulah mereka mendidik anak-anak kaum muslimin menjadi generasi terbaik yang mampu melanjutkan perjuangan sehingga mereka menggenggam dunia dan menghantarkan umat Islam pada kejayaannya.
Berikut ini sekilas tentang gambaran keadaan peroses pendidikan anak-anak kaum muslimin oleh sahabat Nabi yang mulia, yaitu Abu Darda dan Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhuma-
وقد نظم أبو الدرداء رضي الله عنه طلابه، ووزعهم في مجموعات لكثرتهم واستحالة قيامه بتعليمهم بطريقة مباشرة، وراعى تدرجهم في العلم عند تقسيمهم، فكانت المجموعات متباينة المستوى. قال سويد بن عزيز: كان أبو الدرداء رضي الله عنه إذا صلى الغداة في جامع اجتمع الناس للقراءة عليه، فكان يجعلهم عشرة عشرة، وعلى كل عشرة عريفاً، ويقف هو في المحراب يرمقهم ببصره، فإذا غلط أحدهم رجع إلى عريفهم، فإذا غلط عريفهم رجع إلى أبي الدرداء رضي الله عنه فسأله عن ذلك، وكان ابن عامر عريفاً على عشرة، فلما مات أبو الدرداء رضي الله عنه خلفه ابن عامر. قال مسلم بن مشكم- أحد تلاميذ أبي الدرداء-: قال لي أبو الدرداء رضي الله عنه: أعدد من يقرأ عندي القرآن. فعددتهم ألفاً وستمائة ونيفاً، وكان لكل عشرة منهم مقرئ، وأبو الدرداء يكون عليهم قائماً، وإذا أحكم الرجل منهم تحوَّل إلى أبي الدرداء رضي الله عنه
Abu Darda –radhiallahu ‘anhu- telah mengatur murid-muridnya dan membagi mereka menjadi beberapa kelompok karena banyaknya murid sehingga mustahil ia mengajar mereka sekaligus. Ia pun meperhatikan tingkatan ilmu mereka untuk membagi kelompok mereka sehingga kelompok-kelompok tersebut jelas tingkatannya. Suwaid bin Aziz meriwayatkan bahwasannya apabila Abu Darda –radhiallahu ‘anhu- shalat subuh di masjid besar maka manusia akan berkumpul di sekelilingnya untuk memperdengarkan bacaan Al Quran kepadanya. Lalu Abu Darda membagi mereka menjadi sepuluhorang-sepuluhorang , dan pada setiap 10 orang tersebut terdapat ‘Ariif (asisten yang membantu membacakan dan mengajarkan Al Quran). Sedangkan Abu Darda berdiri di dekat mihrab dan mengawasi mereka semua. Apabila ada murid yang keliru bacaannya maka murid itu akan mendatangi Ariif untuk dikoreksi, dan apabila ariif itu keliru juga maka Ariif itu akan datang kepada Abu Darda untuk menanyakan kekeliruannya itu. Tatkala Abu Darda meninggal maka ia digantikan oleh Ibnu Amir yang sebelumnya merupakan Ariif.
Muslim bin Masykam mengabarkan bahwa Abu Darda pernah memerintahkannya untuk menghitung seluruh murid yang belajar Al Quran kepada Abu Darda, maka setelah dihitung ternyata jumlah muridnya itu lebih dari seribu enam ratus orang. -selesai nukilan-
(Ibnul Jazari dalam Ghayatul Nihaayah, 1: 606-607)
—–
Demikian juga Anas bin Malik telah mengabarkan adanya Kuttab dan Mu’addib (pengajarnya) di masa Khulafah Rasyidin, setelah Rasulullah meninggal.
قيل لأنس بن مالك الصحابي الجليل رضي الله عنه (ت (93) هـ): “كيف كان المؤدبون على عهد الأئمة: أبي بكر وعمر وعثمان وعلي- رضي الله عنهم-؟ قال أنس: كان المؤدب له أجانة ، وكل صبي يأتي كل يوم بنوبته ماء طاهراً، فيصبونه فيها، فيمحون به ألواحهم. قال أنس: ثم يحفرون حفرة في الأرض، فيصبون ذلك الماء فيها فينشف. قلت: أفترى أن يلعط؟ قال: لا بأس به، ولا يمسح بالرجل، ويمسح بالمنديل وما أشبهه. قلت: فما ترى فيما يكتب الصبيان في الكتاب من المسائل؟ قال: أما ما كان من ذكر الله فلا يمحوه برجله، ولا بأس أن يمحو غير ذلك مما ليس في القرآن” .
Dikatakan kepada Anas bin Malik –radhiallahu ‘anhu-: Bagaimanakah keadaan para Mu’addib (pengajar) dahulu pada masa khalifah Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali –radhiallahu ‘anhum-? Maka Anas berkata:
“Dahulu seorang Mu’addib (pengajar) memiliki suatu wadah (untuk diisi air), dan setiap anak didik akan datang tiap hari sesuai gilirannya dengan membawa air bersih lalu menuangkannya ke wadah tersebut. Anak-anak tersebut akan menggunakan air itu untuk menghapus papan-papan tulis kecil milik mereka.” Anas berkata: “kemudian mereka akan menggali tanah lalu membuang air tersebut ke dalam galian tersebut lalu mengering.” Penanya bertanya lagi; “Bagaimana menurutmu bila tintanya belepotan ke tangan?” Anas menjawab: “Tidak apa-apa, tetapi jangan menghapusnya dengan kaki, hapuslah dengan saputangan atau yang sebagainya!” Lalu Anas bin Malik ditanya lagi: “Bagaimana menurutmu dengan apa-apa yang ditulis anak-anak didik di Kuttab itu yang berupa masalah-masalah ilmiah?” Maka Anas berkata: “Adapun jika ada yang berupa penyebutan lafazh Allah maka jangan dihapus dengan kaki, tetapi tidak apa-apa jika untuk menghapus hal-hal lainnya yang selain Al Quran.”
(Ibnu Sahnun, Aadaabul Mu’allim, 40-41).
(kedua riwayat tersebut dinukil dari kitab Ashrul Khilaafah Al Raasyidah, Karya Akram Al-‘Umr)
Faedah dari dua riwayat tersebut diantarannya:
  • – Sejak zaman kaum Salaf, proses pendidikan dasar anak-anak telah disatukan dalam suatu tempat atau ruang kelas.
  • – Mereka dipisah kelasnya berdasarkan tingkatan kemampuan masing-masing, namun pelajarannya sama.
  • – Jumlah murid yang sangat banyak tersebut diajarkan mata pelajaran yang sama, yaitu pelajaran Al-Quran.
  • – Ketika mereka mempelajari Al-Quran, juga sekaligus dengan mempelajari adab-adab Islami
  • – Metode pendidikan tersebut adalah untuk anak-anak kecil, adapun yang beranjak dewasa maka biasanya akan mempelajari keahlian sesuai minat dan bakat, baik itu salah satu cabang-cabang ilmu agama semisal hadits, fiqih, nahwu, dsb, ataupun ilmu umum seperti kedokteran, militer, arsitektur, dsb.
======
Baca juga pembahasan-pembahasan lain mengenai Pendidikan Islam di sini.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: