Kisah Nyata Taubat seorang Akhwat Terjerumus Zina walau telah Bersuami

Ada suatu pertanyaan yang sangat penting yang disampaikan kepada salah satu website Islam di timur tengah. Pertanyaan tersebut benar-benar sangat menyedihkan yang menunjukan penulisnya benar-benar menulis pertanyaannya itu dengan penuh kesedihan dan penyesalan yang sangat mendalam atas perbuatan dosa yang ia lakukan.

Bagaimana tidak, penulis surat tersebut adalah seorang akhwat yang sebenarnya rajin beribadah, namun ternyata terjerumus juga pada perbuatan zina! Bahkan, akhwat itu sebenarnya telah memiliki suami! Na’udzubillah min dzaalik.

Mari kita simak dan renungkan kisahnya dan curahan hatinya langsung dari penuturan akhwat tersebut yang telah kami terjemahkan dari Bahasa Arab.

========

 

Pertanyaan:

Saya akan mencoba meringkas kisah ini sebisa mungkin. Saya seorang perempuan yang telah menikah dan telah dikaruniai 3 anak.

Sejak 11 bulan lalu, Saya mengenal seorang pemuda secara tidak disengaja tatkala mengikuti suatu pekerjaan kagiatan sukarela. (Inilah awal bencana itu).

Saya pun terus bekerja, beberapa lama, (dijalani bersama dengan si pemuda itu). Kemudian, (bencana pun terjadi), Saya tidak tahu kenapa dia tega menyeret Saya untuk terus mencoba melakukan perbuatan tidak senonoh. Bahkan dia pun berhasil menyakinkan Saya untuk bersedia melakukan zina dengannya!

Padahal, sebelumnya Saya adalah seorang yang sangat komitmen mengamalkan agama (baca:multazimah), Saya tidak menyia-nyiakan amalan yang wajib maupun Sunnah, Saya membaca Al Quran satu juz setiap harinya, dan semua orang menjadi saksi baiknya pengamalan agama Saya dan akhlak baik Saya….

Namun, Saya tidak menganggap diri ini suci dari dosa, (Saya menganggap perbuatan keji tersebut sebenarnya akibat dosa diri Saya sendiri), karena pada saat itu memang Sayalah yang menuruti keinginan bejat pemuda itu dengan sukarela!

Akan tetapi, Allah Ta’ala sebagai saksinya, bahwa Saya telah bertaubat sejak hari itu juga. Saya telah berjanji untuk tidak lagi melihat pemuda tersebut selama-lamanya. Itu merupakan taubat Saya yang sebenar-benarnya. Segala puji bagi Allah yang Maha Menerima taubat. Saya yakin Allah akan mengampuni. Dan Saya pun kembali seperti dahulu, rajin beribadah, bahkan mungkin lebih rajin lagi dan lebih bersemangat ibadah.

Tetapi, Allah berkehendak dosa keji Saya yang dahulu itu, walau hanya sekali, namun semakin terasa menyesakkan karena ternyata dari perbuatan keji itu, Saya hamil!

Tidak mengherankan apabila Anda, para pembaca, cukup memahami betapa remuknya jiwa Saya ketika menyadari kehamilan tersebut…. Saya dahulu telah menulis Surat kepada beberapa website agama dan saya menjelaskan semua yang Saya rasakan…. lalu mereka pun menjawab surat saya dan memberikan faedah-faedah motivasi yang baik, semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Sebelumnya, pada permulaan kehamilan, Saya berkali-kali melakukan percobaan aborsi, tetapi semua percobaan itu gagal!

Kini, Saya telah melahirkannya, seorang bayi perempuan, Sejak beberapa hari yang lalu…

Inilah pertanyaan yang hendak Saya tanyakan, Saya mohon bantulah Saya agar bisa menerima kenyataan ini, kini Saya hampir gila, hari ini pun Saya hampir saja ingin berteriak sekuat tenaga lalu menghantamkan kepala Saya ini ke tembok hingga kepala ini hancur….!

Kini, akan Saya jelaskan sebagian perkara yang mencabik-cabik jiwa ini:

Pertama: Saya merasa berdosa terhadap suami karena Saya telah memasukkan seorang anak kecil perempuan yang sebenarnya asing (bukan darah dagingnya)! Bahkan seolah-olah Saya akan mati akibat rasa sakit penyesalan yang amat pedih karena melihat suamiku memeluk dan bermain dengan anak perempuan ini dengan penuh cinta, sehingga hampir saja Saya hendak mengabarkan hakikat sebenarnya padanya. Namun, Saya pun menyadari konsekuensinya, bila Saya mengabarkan hakikat anak itu, maka Saya akan kehilangan segalanya, rumahku, suamiku, anak-anakku semua, dan imejku. Krenanya, Saya pun kembali mengurungkan niat dari mengatakan hakikat anak perempuan Saya ini. Akan tetapi, Saya merasa seolah akan mati karena rasa pedih ini, pada setiap detiknya, di tiap harinya….. sungguh menyakitkan.

Masalah lainnya: Saya merasa anak perempuan ini berbeda, yakni terlihat asing dibandingkan dengan anak-anak Saya yang lainnya karena ia hanya saudara mereka seibu saja….

Hal lainnya: Saya mulai memiliki perasaan macam-macam terhadap anak perempuan ini, Saya sangat mencintainya namun Saya pun terkadang sangat membencinya…. karena ia mengingatkan Saya pada dosa keji itu! Padahal Saya pun meyakini anak ini sebenarnya tidak berdosa, padahal Saya tahu dosa itu adalah kesalahan Saya, tidak ada kaitannya dengannya….

Saya sering bertanya-tanya: Apakah gerangan hikmah Allah memberiku rezeki berupa anak perempuan ini!? Saat itu, Saya bisa hamil anak perempuan ini dengan begitu mudahnya, hanya dengan sekali hubungan!? Saya pun telah berusaha berkali-kali menggugurkannya!? Saya berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban yang paling memuasakan, semoga saja dengan itu Saya menjadi mampu menyesuaikan diri ini dengan keadaan pahit ini, karena -demi Allah- Saya sungguh hampir gila! Terkadang Saya sampai mengatakan: ‘ini adalah hukuman dari Allah atas kekejian yang ku perbuat! Alhamdulillah, Saya telah diberi hukuman di dunia ini, dan Dia tidak membuat air mataku tertahan sehingga Saya diazab di akhirat….’ Kemudian Saya pun bergumam dalam hati: ‘Barangkali anak perempuan ini adalah ganjaran dari Allah karena Dia Maha Mengetahui bahwa saya akan bertaubat dan menyesal serta kembali kepada ketaqwaan dan keimanan seperti dahulu.’

Saya selalu berusaha memotivasi jiwa ini untuk bersabar dengan melalui sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: الولد للفراش  “Anak itu dinisbatkan kepada yang seranjang (pernikahan sah)”.

Akan tetapi, wahai mufti yang terhormat, semua cara tersebut tidak cukup berpengaruh bagi Saya ini…. Saya tidak tahu bagaimanakah nantinya Saya menjalani hidup ini dengan penuh pergelutan jiwa serta kepedihannya, Saya merasa hati ini seolah akan terhenti berdegup karena kesedihan….

Berilah Saya faedah-faedah ilmu yang Anda miliki, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan faedah pula.  Hal yang paling menyiksa batin Saya adalah bahwa sebenarnya suamiku itu tidak memiliki hubungan sedikitpun dengan anak perempuan ini. Karenanya Saya bertanya: Apabila seorang wanita yang menyusui seorang bayi asing maka bayi tersebut menjadi anak sepersusuannya dan demikian juga suami wanita tersebut menjadi bapak sepersusuannya, apakah bisa diqiyaskan dengan suami saya; sehingga bisa menjadi bapaknya anak perempuanku ini secara Syar’i lantaran Saya selaku istrinya menyusui anak perempuan ini? Apabila jawabannya ‘iya’ maka sungguh ini akan sangat memperingan beban kesedihan Saya karena Saya merasa bahwa suami Saya pun adalah Bapaknya juga secara Syar’i walaupun hanya dari sebab sepersusuan. Sungguh Saya tenggelam dalam kesedihan dan Saya khawatir nantinya malah melakukan suatu keputusan yang mengakibatkan kerugian hidup Saya, anak perempuan Saya, rumahtangga Saya, dan anak-anak Saya lainnya.

Doakanlah Saya, semoga Allah memberikan jalan keluar atas kegundahan ini, dan agar Saya melupakan sebab lahirnya anak perempuan saya ini agar suatu hari nanti Saya benar-benar menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Saya secara Syar’i.

Pertanyaan lainnya: Suamiku mempunyai saudara, bagaimanakah hukum mu’amalah anak perempuan Saya ini tatkala ia kelak dewasa? Laa haula wa laa quwwata illaa billah… Mohon berilah Saya faedah ilmu sesuai dengan keilmuan yang Allah anugerahkan kepada Anda sekalian

==================

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Kami mewasiatkan pada Anda agar hendaklah Anda terus bersemangat memperingan perkara ini dalam diri Anda, dan teruslah memperbanyak berdzikir (mengingat) Allah Ta’ala, karena hal itulah yang akan membantu Anda untuk menenangkan fikiran Anda. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨)

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra’d: 28)

Apabila keadaan menuntut Anda harus berkonsultasi dengan ahli psikologi maka lakukanlah, namun hendaklah menutupi dosa Anda itu, jangan mengabarkan (secara mendetail) hal yang sebenarnya, dan barangkali nantinya Anda mendapatkan beberapa arahan yang bermanfaat yang membantu menenangkan Anda.

Ingatlah kembali akan nikmat yang telah  Allah anugerah kepada Anda berupa taubat yang sebenarnya serta berupa kembalinya Anda kepada kebaikan yang lebih baik daripada sebelum melakukan dosa tersebut. Sungguh dalam hal ini sebenarnya terdapat kebaikan yang akan membangkitkan ketenangan dalam jiwa Anda.

Ibnul Qayyim –rahimahullah- dalam kitabnya Al Waabilush Shayyid, berkata:

“Apabila Allah berkehandak memberikan kebaikan kepada hambaNya maka Allah akan membuka pintu-pintu pertaubatan, penyesalan, kesedihan hati, perendahan diri, kefakiran, permohonan pertolongan padaNya, kejujuran untuk kembali padaNya, serta terus menerus menghiba berdoa dan mendekatkan diri kepadaNya, sehingga dengan itu kejelekan yang telah dilakukan malah menjadi sebab rahmat Allah baginya karena setelah terjerumus pada kejelekan tersebut, ia melakukan kebaikan-kebaikan (yang jauh lebih banyak). Sehingga (setan) musuh Allah pun mengatakan: ‘Celakalah Aku…! seandainya dulu Aku meninggalkan orang itu dan tidak menjerumuskannya kepada dosa itu…!’ Maka inilah makna perkataan sebagian ulama Salaf bahwa:

إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة، ويعمل الحسنة يدخل بها النار

‘Sesungguhnya ada seorang hamba tatkala melakukan dosa, justru dengan sebab dosa itu ia masuk Surga, dan ada yang melakukan kebaikan namun malah memasukannya ke Neraka!’

Lalu mereka pun bertanya bagaimanakah itu terjadi? Maka dijawab: ‘Hamba tersebut melakukan dosa kemudian ia pun terus menerus didera ketakutan, menangis penuh penyesalan, malu terhadap Rabbnya, tertunduk kepalanya di hadapanNya, hatinya remuk karena Allah, sehingga dengan itu justru dosanya menjadi berrmanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak (yang tanpa ada taubat), karena dosa tersebut menjadikannya melakukan kebaikan-kebaikan tadi yang merupakan penyebab kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba sehingga dosa itu pun menjadi sebab ia masuk Surga.” -selesai nukilan-

Dan pada kesempatan ini, kami mengingatkan Anda akan wajibnya taubat dari tekad Anda dahulu yang telah melakukan percobaan aborsi, dan bersyukurlah kepada Allah karena aborsi Anda tidak berhasil. Aborsi adalah kejahatan dan dosa besar walaupun janinnya masih berupa nuthfah (mani) di rahim…

Adapun mengenai suami Anda, maka sebenarnya anak perempuan yang anda maksud itu sebenarnya dianggap sebagai anak suami Anda secara syar’i, sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam jawaban pertanyaan Anda yang lalu yang telah Anda kirimkan kepada kami. Anak perempuan tersebut merupakan anak suami Anda bukan hanya dari segi sepersusuan saja, dan demikian juga saudara-saudara suami Anda dianggap sebagai paman-paman anak perempuan anda itu, sehingga mereka bisa bermu’amalah layaknya paman terhadap sepupunya. Maka dalam hal ini, perkaranya telah dapat dipastikan.

Dan, andaikata Anda menyerah dan menuruti fikiran-fikiran jelek yang selalu datang pada Anda, maka sungguh itu akan membahayakan Anda. Karenanya, mintalah perlindungan kepada Allah dari bisikan setan yang terkutuk, yakinlah kepada Rabbmu, menghadaplah kepadaNya dengan berdoa sehingga dengan izin-Nya; Dia menghilangkan fikiran jelek yang selalu Anda rasakan itu. Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

“atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 52).

Kami berdoa kepada Allah Ta’ala agar dengan melalui Karunia dan KemuliaanNya, Dia menghilangkan semua kegundahan dan memberikan jalan keluar atas segala masalah Anda….

Amin..

Dan, mengabarkan kenyataan sebenarnya kepada suami Anda tentang asal usul anak perempuan Anda itu, adalah suatu kekeliruan karena menyelisihi Syrai’at yang telah menganjurkan untuk menutupi dosa diri, mungkin bila Anda mengatakannya malah akan mengakibatkan banyak terjadi hal-hal yang tidak baik, maka janganlah sekali-kali Anda melakukannya untuk selamanya. Mulailah kembali kehidupan yang bahagia dengan suami Anda seakan-akan kejadian keji itu tidak pernah terjadi. Perbanyaklah mendoakan kebaikan untuk suami Anda, teruslah berjuang untuk bermu’amalah dengan anak perempuan Anda itu dengan sewajarnya sebagaimana dengan saudara-saudara kandungnya yang lain, hindarilah semua fikiran jelek tentang anak perempuan Anda, karena Anda pun telah mengatakan juga bahwa Anda mencintai anak Anda itu, maka segala puji milik Allah atas hal itu.

Wallahu A’lam

===============

www.Sabiluna.Net

Diterjemahkan oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy

Sumber:

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/187919

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: