Penjelasan Moto “Changing The Nation Through Education”

Alhamdulillah, Syaikh Dr. Abu Ameenah Bilal Philips –hafizhahullah- telah sukses membangun dan memimpin Universitas Islam yang pembelajarannya 100% secara online, dengan jumlah mahasiswa/i sekitar 500.000 orang dari bebagai negera. Universitas tersebut pada mulanya bernama Islamic Online University (IOU). Namun, beberapa waktu yang lalu, karena tuntutan kebutuhan administrasi agar memudahkan akses lebih luas secara International maka sekarang nama universitas tersebut dirubah menjadi International Open University (IOU). Pada tulisan kali ini, Saya sajikan ringkasan dari kajian Syaikh Dr. Bilal tatkala membahas tema: ‘Changing The Nation Through Education” yang diposting di channel Youtube resmi beliau: https://youtu.be/W9O4yK9oBK4 . Tema kajian ini yang merupakan moto dari International Open University, di mana dari kajian ini kita dapat mengetahui motivasi dan tujuan yang mendorong pendirinya untuk terus berjuang menggencarkan pendidikan walaupun melalui jalur internet, dan dijelaskan juga mengenai bagaimanakah konsep materi pembelajaran yang dilaksanakan di IOU.

 

Berikut ini ringkasannya yang Saya terjemahkan dari bahasa Inggris dan Saya tulis poin per poin:

 

[1]. “Changing The Nation Trough Education” merupakan moto dari Islamic Online University, yang bermakna: “Merubah keadaan umat Islam melalui Pendidikan Islam.”

 

[2]. Konsep dasar dari moto tersebut adalah firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala-:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (terlebih dahulu)…” QS. Al Ra’d: 11.

Maka untuk mencapai perubahan dalam hidup kita agar menjadi lebih baik dan diberkahi adalah dengan merubah diri kita telebih dahulu; dari perbuatan yang dimurkai Allah menjadi melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

 

[3]. Demikian juga, ketika kita melihat kondisi umat Islam saat ini, maka apabila kita hendak merubah keadaan umat ini, kita pun harus melihatnya dari sudut pandang konsep ayat tersebut! Pada akhirnya, kita akan menyepakati bahwa merubah keadaan umat ini harus melalui pendidikan.

 

[4]. Islam yang kita amalkan harus sesuai dengan Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena beliau bersabda:

ما تركتُ شيئا يقربكم إلى الله إلا وقد أمرتكم به

“Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian kepada Allah melainkan telah Aku perintahkan kalian kepadanya.” (HR. Thabrani)

Oleh karena itu, seandainya ada orang yang bersemangat dan tulus ingin merayakan hari kelahiran Nabi, walaupun peringatan tersebut benar-benar ia lakukan dalam rangka mengungkapkan cinta kepada Nabi, maka itu tidak benar. karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengajarkan adanya peringatan kelahirannya, sedangkan apabila Rasulullah tidak mengajarkannya maka hal itu berarti tidak akan mendekatkan pelakunya kepada Allah, tidak diridhai oleh Allah Ta’ala.

 

[5]. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه، وعالما أومتعلما

“Dunia ini terlaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan hal-hal yang membantu pada pengingat Allah; serta guru atau murid.” (HR. Tirmizdi)

Diantara yang dikecualikan dari laknat Allah di dunia ini adalah guru dan murid. Pengecualian terhadap guru dan murid tersebut adalah karena ada hubungan belajar dan mengajar yang mana hubungan tersebut merupakan proses Pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan Islam.

 

[6]. Sang pendidik yang paling utama dan paling mulia adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sehingga dahulu ketika beliau mendapatkan wahyu dari Allah lalu beliau pun diperintahkan untuk mengajarkan wahyu tersebut kepada manusia maka beliau mengajarkannya dengan cara yang penuh kedamaian dan dengan sangat bijaksana. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-  mendakwahi manusia, mendidik manusia, mendatangi kabilah-kabilah saat musim haji untuk berdialog kepada manusia dan menyampaikan wahyu Allah Ta’ala kepada mereka.

 

[7]. Oleh karena itu, dahulu ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berdakwah di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, kaum Muslimin yang masih minoritas di Mekah mendapatkan perlakuan yang semena-mena; mereka dizhalimi, dibunuh, diusir dari rumahnya, harta mereka dirampas, dan sebagainya. Saat itu, di Mekah ada sebagian Sahabat Nabi yang kuat-kuat dan pemberani, seperti Umar bin khattab dan Hamzah bin Abi Thalib –radhiallahu ‘anhuma-, sahabat-sahabat Nabi yang kuat tersebut bisa saja melakukan penyergapan dan menghabisi tokoh-tokoh penting kaum Kafir Mekah yang telah berbuat zhalim tersebut, untuk dikudeta sehingga akhirnya mungkin mereka bisa memimpin Mekah mengantikan tokoh-tokoh Kafir tersebut! Akan tetapi, faktanya, Sahabat-sahabat Nabi yang kuat dan pemberani tersebut tidak melakukan metode itu, sebagaimana arahan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Padahal metode tersebut lebih mudah bagi mereka, akan tetapi Rasulullah tidak mengajarkan mereka untuk menempuh metode tersebut. Karena metode Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam memperbaiki keadaan umat, bukanlah dengan cara revolusi, tidak seperti yang dilakukan oleh para revolusioner semisal; Che Guevara, Castro, Stalin, Mao Tse, dsb.

[8]. Bahkan ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- hendak melebarkan dakwah ke Madinah karena telah ada sebagian orang utusan kota madinah yang masuk Islam, maka beliau mengutus Mus’ab bin Umair –radhiallahu ‘anhu- ke madinah untuk tinggal di sana dan mendakwahi penduduk Madinah dengan penuh kedamaian, sampai akhirnya banyak penduduk madinah yang masuk Islam. Dan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saat itu tidak menyuruh orang Madinah yang masuk Islam untuk menjadi pasukan sempalan atau oposisi yang merongrong stabilitas kota Madinah!

 

[9]. Kemudian, tatkala kaum Kafir Mekah hendak membunuh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau diperintahkan oleh Allah untuk berhijrah ke Madinah, dan ketika di Madinah pun beliau tidak langsung unjuk kekuatan (dengan pedang)! Akan tetapi, yang pertamakali beliau lakukan adalah membangun basis dakwah dan pendidikan, yaitu: membangun masjid Quba di dekat kota Madinah, lalu membangun Masjid Nabawi di dalam kota Madinah. Sehingga dengan dakwah melalui pendidikan tersebut, Islam semakin bertambah sampai akhirnya menjadi mayoritas penduduk Madinah. Tatkala kaum muslimin mendominasi kota Madinah dan tiba waktunya penentuan kepemimpinan baru di Madinah maka penduduk madinah menetapkan Nabi Muhammad; Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai pemimpin mereka. Inilah metode (Manhaj) beliau dalam merubah keadaan masyarakat Madinah!

 

[10]. Jalan dakwah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak seperti yang dilakukan oleh mereka yang mengklaim pejuang kebangkitan Islam di zaman kita ini, yang menamakan diri sebagai kelompok Boko Haram, ISIS, Thaliban, Abu Sayaf, Syabab, dsb. Mereka tidak akan pernah sukses karena mereka menyimpang dari matode perjuangan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan mereka bukannya menunjukan kedamaian Islam tetapi malah mencoreng nama baik Islam, sehingga akhirnya imej Islam yang dikenal di media massa adalah agama Teroris, penjahat, gemar menumpahkan darah, pemenggal kepala di depan kamera, dsb! Demikian juga kelompok Khawarij yang dahulu membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib –rahdiallahu ‘anhu-, Syi’ah Qaramithah yang dahulu mencuri hajar Aswad, kelompok Ahmadiyah yang berusaha menciptakan Islam versi lainnya, dan kelompok-kelompok menyimpang lainnya, segigih apapun mereka berjuang, namun karena perjuangan mereka menyimpang dari jalan juang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka mereka tidak akan pernah suskses dalam memperjuangkan kejayaan umat Islam. Memang terkadang ada diantara kelompok menyimpang tersebut seolah mendapatkan kemenangan, namun itu hanya sekejap saja dan kemenangan yang hanya di layar media massa saja. Akan tetapi, walaupun demikian, Allah telah berjanji akan memenangkan Islam yang benar.

 

[11]. Oleh karena itu, kita harus menepis imej dan propaganda yang buruk tentang Islam, sehingga kaum Muslimin dihormati oleh negara tempat mereka tinggal! Dan hal tersebut dapat kita lakukan melalui pendidikan Islam yang benar. Inilah yang merupakan tantangan yang kita hadapi di saat ini.

 

[12]. Kita pun membutuhkan pendidikan ilmu-ilmu umum agar kita menjadi manusia yang memiliki skil yang bermanfaat sesuai tuntutan keadaan zaman. Maka kita sebagai makhluk sosial, membutuhkan gabungan dari dua jenis pendidikan ilmu tersebut, yakni: pendidikan agama Islam yang benar dan pendidikan ilmu umum lainnya. Karena, Pendidikan yang kita butuhkan bukanlah pendidikan sekuler yang memisahkan antara pendidikan ilmu umum dan pendidikan agama. Dahulu di masa kejayaan Islam, seorang saintis muslim terkenal, yang bahkan ilmunya pun dipelajari oleh negara-negara Barat, tatkala membahas sains dalam bukunya maka ia pun menyertakan firman Allah dan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia menggabungkan antara ilmu sains dengan agama.

 

[13]. Adapun pendidikan sekuler, merupakan pendidikan yang terfokus pada pencapaian duniawi semata karena memang konsep pendidikan sekuler itu disusun oleh orang-orang yang mengingkari eksistensi Tuhan. Oleh karena itu, diantara kesimpulan pendidikan sekuler adalah bahwa manusia berasal dari evolusi kera! Pendidikan sekuler hanya berkutat mempelajari klaim pembuktian sebab akibat yang terjadi di alam ini yang mengarah pada pengingkaran peran Tuhan terhadap alam semesta ini, atau paling tidak mereka mengarahkan kita agar kita mempercayai bahwa kehadiran alam ini terjadi karena proses Accident/kebetulan!

 

[14]. Alhamdulillah, tahukah Anda?  Bahwa pada zaman sekarang, orang-orang Barat itu pun menemukan Internet  “accidently”, “secara tidak disengaja” menurut istilah mereka. Padahal pada hakikatnya, Allah takdirkan adanya internet adalah untuk kebaikan umat Islam juga! Yakni tatkala kita, kaum Muslimin, tidak memiliki kontrol penuh terhadap media massa, semisal TV, radio, majalah, dsb. karena semua itu benar-benar dikuasai oleh peradaban Barat, sehingga umat Islam seolah-olah berada pada posisi paling buruk dan seakan tidak punya peluang menghadapi mereka di media massa, namun ternyata ketika dalam keadaan seperti itu, Allah Ta’ala memberikan kita Internet di mana penggunaanya semua orang sama; bisa mengakses apapun dan menyebarkan apapun! Sehingga ini merupakan kesempatan yang tepat untuk membela diri kita, umat Islam, untuk menjelaskan tentang Islam yang sebenarnya secara masiv melalui Internet dan membantah fitnah-fitnah yang tersebar! Allahu Akbar…

 

[15] Apabila kita melihat keadaan umat islam saat ini, maka kita akan menyadari bahwa keadaan umat ini hanya bisa dirubah melalui Pendidikan. Pendidikan yang menggabungkan antara ilmu umum dan ilmu agama Islam, dan di semua level Pendidikan. Dimulai dari pendidikan pelajaran yang paling penting, maka pelajaran yang diajarkan harus ditinjau dari perspektif Islam.

 

[16]. Kita membutuhkan generasi Islam yang tatkala lulus dari sekolahnya menjadi seorang muslim sejati. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, tatkala Saya banyak mengunjungi sekolah-sekolah yang berbasis Islami kemudian Saya bertanya kepada sisawa/i sekolah tersebut apakah diantara mereka ada yang berani bersumpah kepada Allah bahwa belum pernah mencontek sama sekali?? Maka jawabannya, tidak ada yang berani sama sekali! Inilah potret keadaan generasi Islam hasil didikan pendidikan lembaga Islam di zaman ini. Inilah realita keadaan pendidikan kita yang telah kehilangan fokus terhadap akhlak Islam, padahal Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

 

إنما بعثتُ لأتمم مكارم الأخلاق

 

“Tidaklah Aku diutus melainkan dalam rangka untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”  (HR. Ahmad).

 

[17]. Islam merupakan agama akhlak. Sehingga apabila lembaga pendidikan kita hanya menghasilkan lulusan yang jelek akhlaknya, maka kita telah gagal! Oleh karena itu, kita pun harus kembali menggencarkan pendidikan akhlak di lembaga-lembaga pendidikan kita, sehingga tidaklah ada mata pelajaran yang diajarkan melainkan harus disertai adanya pesan moral/akhak. Ini semua merupakan suatu tantangan bagi kita, umat Islam, untuk merubah keadaan umat melalui pendidikan.

 

 

###

 

-Alhamdulillah, selesai ringkasan-

Ahad, 3 Ramadhan 1441 H.

Diringkas oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: