Imam Syafi’i dan Imam Bukhari dahulu belajar tahfizh Al Quran di kuttab

Dua ulama besar yang menjadi panutan di negeri kita, Imam Syafi’i dan Imam Bukhari -rahimahumallah-, dahulu belajar tahfizh Al Quran di kuttab, sebelum fokus mempelajari ilmu-ilmu syar’i lainnya.

Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i –radhimahullah- berkisah:

كنت يتيما في حجر أمي فدفعتني في الكتاب، ولم يكن عندها ما تعطي المعلم، فكان المعلم قد رضي مني أن أخلفه إذا قام، فلما ختمت القرآن دخلت المسجد فكنت أجالس العلماء، وكنت أسمع الحديث أو المسألة فأحفظها، فكنت أجالس العلماء، وكنت أسمع الحديث أو المسألة فأحفظها، ولم يكن عند أمي ما تعطيني أن أشتري به قراطيس قط، فكنت إذا رأيت عظما يلوح آخذه فأكتب فيه، فإذا امتلأ طرحته في جرة كانت لنا قديما،

 “Dahulu Aku seorang yatim, tinggal di rumah ibuku, lalu ibuku mengantarku ke Kuttab. Ibuku tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada pengajar di Kutab itu, tetapi saat itu pengajar tersebut senang bila Aku menggantikannya sementara ia pergi. Tatkala Aku telah menyelesaikan hafalan Qur’an maka Akupun masuk masjid untuk mengikuti majlis para Ulama sehingga saat Aku mendengarkan hadits atau suatu permasalah ilmiah maka Aku menghafalnya. Pada saat itu, Ibuku tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa Aku gunakan untuk membeli kertas! Sehingga apabila Aku melihat batang tulang maka Aku menggunakannya untuk menulis padanya dan apabila telah penuh dengan tulisan maka Aku lemparkan ke dalam gentong milik kami dahulu…..” (Jaami’ Bayaanil ilmi wa fadhlih, 413)

 

Imam Ibnu Abi Hatim bertanya kepada Imam Bukhari –rahimahumallah-: “Bagaimanakah urusanmu bermula?” Maka Imam Bukhari menjawab:

ألهمت حفظ الحديث وأنا في الكتاب

“Aku diberi ilham untuk menghafal hadits sejak Aku (masih belajar) di Kuttab.”

 Dikatakan padanya: Berapakah umurmu ketika itu?” ia menjawab:

عشر سنين، أو أقل، ثم خرجت من الكتاب بعد العشر، فجعلت أختلف إلى الداخلي وغيره .

 “10 tahun atau kurang, kemudian Aku keluar (selesai) dari Kuttab setelah berumur 10 tahun lalu Aku bulak-balik (mengadiri majlis ilmu) kepada Imam Ad Daakhili dan yang lainnya.” (Siyaru A’laam An Nubalaa’, 12/393).

Imam Syafi’i (w. 204 H.) ketika masih kecil tinggal di Mekah, sedangkan Imam Bukhari (w. 256 H.) saat kecilnya tinggal di Bukhara (wilayah Uzbekistan). Ini menunjukan bahwa pendidikan dasar untuk anak-anak di dunia Islam pada saat itu adalah Kuttab.

Kedua Imam tersebut hidup di masa keemasan Islam (Islamic Golden Age), ini adalah istilah para orientalis tatkala melihat kemajuan peradaban umat Islam pada masa itu (lihat wikipedia). Maka belajar tahfizh Al Quran bukan penyebab kemunduran dan bukan juga perusak peradaban,  namun justru merupakan sistem pendidikan dasar yang terbukti menyertai masa-masa kejayaan umat Islam.

Kuttab yang merupakan tempat pendidikan anak-anak untuk belajar baca, tulis, dan menghafal AlQuran, serta ilmu-ilmu dasar agama; telah ada sejak generasi awal dakwah Islam. Di sebagian negeri Islam, istilah Kuttab memiliki penyebutan yang berbeda walaupun pelajaran pokok yang diajarkan hampir sama, yaitu menghafal Al Quran. Adapun maysrakat Sudan menyebutnya Al Khalaawii, dan penduduk Somalia menyebutnya  Mal’amah atau Daksii, sedangkan masyarakat Maghribi dan Mauritania menyebutnya Al Mahaadir. (Min Rawaa-i’ Hadharaatina, 129).

Kemudian apabila anak-anak telah menyelasaikan pendidikan di kuttab maka selanjutnya mereka secara mandiri menuntut ilmu yang mereka gandrungi, baik itu ilmu agama dengan berbagai cabangnya atau ilmu umum.

(pembahasan selanjutnya tentang penjurusan pendidikan ini bisa dibaca di https://sabiluna.net/category/minat-dan-bakat/)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: