Penjurusan Minat Bakat dalam Pendidikan Umat Islam Terdahulu

Apabila anak-anak telah menyelasaikan pendidikan di kuttab maka selanjutnya mereka secara mandiri menuntut ilmu yang mereka gandrungi, baik itu ilmu agama dengan berbagai cabangnya atau ilmu umum.

Sebagian orang mengira bahwa perhatian terhadap urgensi penjurusan bakat anak-anak didik merupakan ide zaman sekarang setelah berkembangnya ilmu psikologi!? Padahal faktanya, Justru penjurusan tersebut telah dikenal dan diaplikasikan oleh kaum muslimin pada metode pendidikan mereka dari dahulu kala. Hal tersebut telah dijelaskan oleh Imam Al Zarnuji (w. 591 H) dalam Talim Muta’allim, Imam Syathibi (w. 790 H), dan Imam Ibnul Jama’ah (w. 733 H). Demikian pula Imam Ibnul Jauzi (w. 597 H) -rahimahumullah- telah menjelaskan tentang pentingnya mempersiapkan kesiapan fitrah (isti’daadul fithriy) para peserta didik dalam proses pendidikannya. Dan para ahli pendidikan Islam dari dahulu memandang bahwa penjurusan bakat tersebut diterapkan setelah para anak didik melewati tahapan awal pendidikan, yakni setelah belajar dasar-dasar penting dari setiap cabang-cabang ilmu penting seperti membaca, menulis, dan matematika, dsb. Kemudian setelah itu mulailah dijuruskan sesuai dengan potensi bakatnya masing-masing. Pandangan tersebut pun sesuai dengan pandangan yang disepakati para ahli pendidikan modern zaman sekarang.[1]

Ibnu Jama’ah –rahimahullah-  berkata:

وإذا علم أن تلميذا لا يفلح في فنّ أشار عليه بتركه والانتقال إلى  غيره مما يرجى فيه فلاحه

“Apabila seorang murid diketahui tidak akan berhasil di cabang ilmu tertentu maka berilah ia isyarat untuk meninggalkan cabang ilmu tersebut dan pindahkan ia ke cabang ilmu yang lainnya yang bisa lebih bisa diharapkan kesuksesan baginya.”[2]

Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata:

ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي وما هو مستعد له من الأعمال ومهيأ له

“Diantara yang seharusnya ditekankan (dalam pendidikan Anak) adalah mengenai keadaan anak dan kesiapan diri anak serta penyesuaian anak untuk menghadapi pekerjaannya kelak…”

Kemudian pun beliau menjelaskan:

“….maka dari itu anak diajari (tentang suatu keahlian) yang memang ia diciptakan dengan kemampuan (bakat) tersebut, namun jangan pula mengarahkan anak pada sesuatu yang tidak dibolehkan oleh Syari’at.

Maka apabila sang anak dibawa kepada sesuatu yang bukan (bakatnya) yang telah disiapkan untuknya maka ia tidak akan berhasil padanya dan terluputlah suatu (bakat) yang seharusnya ia disiapkan padanya!

Apabila sang anak terlihat bagus (cerdas) dalam pemahaman, tepat dalam berfikir, bagus dalam hafalan dan ia pun faham, maka hal tersebut merupakan tanda-tanda bahwa ia mampu menerima dan siap menjadi ahli ilmu. Maka ukirlah ilmu dalam lembaran hatinya selama masih kosong (dari kesibukan lainnya), karena hal itu akan menguat di hatinya dan menetap serta akan berkembang.

Apabila sang anak (bakatnya) tidak terlihat seperti itu dari berbagai sudut pandangnya, tetapi ia siap (berbakat) untuk menjadi ahli berkuda dan hal-hal yang mendukungnya dalam berkuda, menembak, memainkan tombak, dan ia tidak cocok dalam hal ilmu, serta ia tidak tercipta (dengan bakat) untuk menjadi ahli ilmu, maka kuatkanlah ia dalam hal-hal yang mendukungnya untuk menjadi ahli berkuda dan latihlah ia dalam hal tersebut, karena hal itulah yang akan bermanfaat bagianya dan (ia pun akan bermanfaat nantinya) bagi kaum muslimin.

Apabila sang anak tidak terlihat seperti itu, yakni ia tidak tercipta (dengan bakat) untuk hal tersebut, tetapi matanya begitu terbuka (sangat tertarik) kepada (pekerjaan) memproduksi; dan ia siap (berbakat) untuk hal itu, serta ia cocok dengan hal itu, sedangkan produksinya itu adalah hal yang mubah/bukan haram dan bermanfaat bagi manusia, maka kuatkanlah (fasilitasilah) ia di dalam hal tersebut!

Akan tetapi, itu semua adalah setelah sang anak diajari perkara yang ia butuhkan mengenai agamanya! Karena perkara agama Islam tersebut adalah perkara yang bisa dipelajari oleh semua orang, sehingga hujjah Allah ditegakkan kepada hambanya karena Allah memiliki hujjah yang nyata yang harus ditegakkan kepada hambaNya, sebagaimana Dia pun memiliki nikmat yang sempurna terhadap hambaNya. Wallahu A’lam.”
–selesai nukilan terjemahan-[3]

==========

Footnone:

[1]  At Tarbiyyah ‘abra Taariikh minal Ushuuril Qadiimah, hal. 189-193

[2]   Tazdkiratus Saami’, hal. 57

[3]  Tuhfatul Mauduud bi Ahkaamil Mauluud, halaman 353-354

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: