Perubahan Yang Besar Berawal Dari Perubahan Hati Dengan Tauhid

Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah merupakan prinsip yang paling pokok yang mana agama Islam berporos padanya. Keikhlasan ini merupakan Tauhid yang menjadi sebab diutusnya para Rasul, diturunkannya kitab-kitab suci, dan merupakan dakwah para Nabi dan Rasul –‘alaihimush shalaatu was salaam-.
Betapa pentingnya Tauhid ini dalam ajaran Islam sehingga apabila diperumpamakan, maka bagaikan pondasi bagi suatu bangunan; dan juga bagaikan akar bagi suatu pohon.  (Lihat: Sittu Durar min Ushuul ahlil Atsar, prinsip pertama).
Keikhlasan atau Tauhid merupakan pohon di dalam hati, sedangkan dahan dan rantingnya adalah perumpamaan bagi amalan, dan buah-buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia serta kenikmatan abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan surga itu tidak akan pernah habis maka buah Tauhid pun tidak akan ada habisnya.
Syirik, dusta, dan riya merupakan pohon di dalam hati. Sedangkan buahnya di dunia adalah ketakutan, kegelisahan, kesempitan dan kegelapan hati, adapun buahnya di akhirat adalah zaqum (buah di Neraka) dan azab yang abadi.
Perumpamaan tersebut disinggung dalam Al Quran:
‎أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24)تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. [] Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. [] Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [] Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 24-27)

Cabang-cabang tersebut tidak akan tumbuh pada hati seseorang dan tidak akan berbuah pada anggota badannya sampai ada perbaikan pada hatinya.
[Penjelasan kedua perumpamaan tersebut telah dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- dalam kitabnya: Al Fawa-id, halaman 204 dan 214.]

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
‎أَلا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلَّهُ أَلا وَهِيَ الْقَلْبُ
“ketahuilah! Sesungguhnya di dalam suatu jasad ada segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik; maka menjadi baiklah seluruh jasadnya, dan apabila segumpal daging itu jelek; maka menjadi jeleklah seluruh jasadnya. Ketahuilah! Segummpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut menjadi dalil yang jelas bahwa; perbaikan Tauhid –yang mana pada awalnya bermula dari perbaikan keyakinan hati- merupakan asal dari semua perbaikan dan penyebab terbesar suatu perubahan! (Lihat: Sittu Durar min Ushuul ahlil Atsar, prinsip pertama).

Aisyah binti Abu Bakar –radhiallahu ‘anhuma– berkata:
إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لاَ تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا: لاَ نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا! وَلَوْ نَزَلَ لاَ تَزْنُوا لَقَالُوا لاَ نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا… (رواه البخاري) .
 “…. di antara surat-surat Al Quran yang diturunkan pada mulanya hanyalah surat-surat mufashshal (yakni yang pendek-pendek) yang padanya disebutkan tentang Surga dan Neraka, sampai apabila manusia telah semakin mantap keyakinannya terhadap Islam maka turunlah ayat-ayat mengenai perkara Halal dan Haram. Seandainya ayat yang pertamakali turun berbunyi ‘Janganlah kalian minum khamr!’ niscaya mereka akan mengatakan ‘Kami tidak akan meninggalkan minum khamr selamanya!’ Seandainya ayat yang pertamakali turun berbunyi ‘Janganlah kalian berzina!’ niscaya mereka akan mengatakan ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya!’….” (HR. Bukhari)
Ketika menjelaskan perkataan Aisyah –radhiallahu ‘anha– tersebut, Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata:

“Hal tersebut mengisyaratkan adanya hikmah/kebijaksanaan ilahi dalam menetapkan tahapan turunnya surat-surat Al Quran, yakni bahwasannya diantara yang mula-mula diturunkan dari ayat-ayat Al Quran adalah seruan kepada Tauhid, pemberian kabar gembira Surga bagi orang yang beriman dan yang ta’at, serta ancaman Neraka bagi orang kafir dan pelaku maksiat! Lalu tatkala jiwa manusia telah yakin terhadap hal-hal tersebut, turunlah ayat-ayat tentang hukum perkara halal dan haram.” (Fathul Baari, 10/35)

Ketika seseorang telah mampu melakukan perubahan hatinya sehingga terjadi perubahan pada dirinya, maka perubahan tersebut selanjutnya akan membawa pada perubahan yang lebih luas; baik itu perubahan diri, keluarga, masyarakat, dan bahkan sampai berakibat pada perubahan suatu bangsa. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:
‎إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “….Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” QS. Ar RA’d: 11
Bahkan kelak keselamatan di akhirat pun tergantung pada hati yang bersih. Allah Ta’ala berfirman:
‎يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat.” QS. As-Shu’ara: 88-89
Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- menafsirkan bahwa “hati yang selamat” itu maksudnya adalah yang bersaksi bahwasannya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir).

Oleh karena itulah, walaupun umat-umat para Nabi dan Rasul berbeda-beda dan beragam pula problematika setiap umat tersebut, namun sesungguhnya dakwah Tauhid tetap merupakan prinsip pokok dakwah mereka! Sama saja apakah problem mereka itu masalah perekonomian seperti pada penduduk Madyan, atau problem moral seperti pada kaum Nabi Luth -‘alaihus salam- yang pada kaumnya banyak tejadi homoseksual, atau problem krisis pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Allah dan sistem kepemimpinan diktator seperti fir’aun; namun Tauhid dijadikan pokok dan prioritas dalam dakwah para Nabi dan Rasul.

Bahkan katika menjelang kematian pun, perhatian para Nabi dan Rasul tetap tertuju pada masalah Tauhid, sehingga wasiat mereka tidak lepas dari mewasiatkan penjagaan dan perbaikan serta pemurnian Tauhid. Sedangkan telah dimaklumi bahwa wasiat seseorang menjelang kematiannya itu biasanya sesuai dengan apa yang senantiasa difikirkan dan diusahakan di sepanjang hidupnya.
Dalam beberapa tempat di dalam Al Quran, Allah ta’ala telah mengisahkan perkataan para Nabi ketika mereka berwasiat keada anak-anak mereka, diantaranya:
‎وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)
Artinya: “dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. [] Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’”. (QS. Al Baqarah: 132-133).
Bahkan seandainya umat telah sangat memahami dan mengamalkan Tauhid yang benar, Namun hal tersebut tidak bisa menjadi alasan untuk berhenti dari dakwah Tauhid; karena sesungguhnya manusia memiliki tabi’at sering khilaf. Dan kekhilafan yang paling buruk adalah melalaikan keikhlasan dan terkikisnya Tauhid! Oleh karena itu, Rasulullah –‘alaihimush shalaatu was salaam- tidak pernah berhenti dari mendakwahkan Tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya syirik.Bahkan ketika beberapa hari menjelang beliau meninggal, beliau pun tetap mengingatkan umat terhadap masalah ini, sebagaimana yang dikabarkan dalam riwayat berikut ini:
Jundub bin Abdullah Al Bajaliy –radhiallahu ‘anhu- berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda:
‎ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد، فإني أنهاكم عن ذلك
Artinya: “…..ketahuilah! Sesungguhnya dahulu umat-umat yang sebelum kalian; menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid! Camkanlah! Janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid! Sesungguhnya Aku melarang kalian dari hal itu!!” (HR. Muslim).
===
ditulis oleh: Mochammad Hilman Al Fiqhy

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: