Ahlus Sunnah Sangat Menjaga Kemuliaan Darah Kaum Muslimin dan Keamanan Negeri

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menegaskan:

بَلْ هُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ وَأَرْحَمُ بِالْخَلْقِ «منهاج السنة النبوية» (5/ 158:

“Bahkan, mereka (Ahlus Sunnah) itu paling tahu kebenaran dan paling penyayang terhadap makhluk.” (kitab: Minhaj Assunnah Annabawiyyah, 5/158)

 

Ahlus Sunnah paling mengetahui kebenaran karena mereka benar-benar komitmen dalam mempelajari sumber kebenaran, yakni Al Quran dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush Shalih, dan Ahlus Sunnah paling penyayang terhadap makhluk karena mereka benar-benar komitmen merealisasikan Islam yang bersifat rahmatan lil ‘allamin (Kasih sayang bagi seluruh alam).

 

Diantara bukti sifat kasih sayang tersebut adalah perhatian para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menjaga stabilitas keamanan negeri dengan memperingatkan umat dari hal-hal yang menyebabkan terjadinya kekacauan yang mengakibatkan tertumpahnya darah, kehormatan tercabik-cabik, jalan-jalan penting terputus, dan kekacauan-kekacauan lainnya. Diantara peringatan para Ulama tersebut adalah:

Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melarang pemberontakan walau pun pemberontakan itu terhadap penguasa yang zhalim demi terjaganya darah umat.

 

قال ابن رجب الحنبلي: – رحمه الله -: “وأما الخروج على الحكام بالسيف فيُخشى منه الفتن التي تؤدي إلى سفك دماء المسلمين” (جامع العلوم والحكم لابن رجب، ج 3 ص 955)

.

Ibnu Rajab Al-hambaliy –rahimahullah- berkata : ” Adapun pemberontakan dengan pedang terhadap penguasa maka dikhawatirkan darinya muncul fitnah yang berakibat pertumpahan darah kaum Muslimin.” (kitab: Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam, karya Ibnu Rajab 1/955).

 

أن أبا الحارث حدَّثهم، قال: سألتُ أبا عبدالله – أحمد بن حنبل – في أمرٍ كان حدث ببغداد، وهمَّ قوم بالخروج، فقلت: يا أبا عبدالله، ما تقول في الخروج مع هؤلاء القوم؟ فأنكر ذلك عليهم، وجعل يقول: “سبحان الله! الدماءَ الدماءَ، لا أرى ذلك، ولا آمُرُ به، الصبر على ما نحن فيه خيرٌ من الفتنة، يسفك فيها الدماء، وتستباح فيها الأموال، وتنتهك فيها المحارم، أما علمتَ ما كان الناس فيه؟ يعني: أيام الفتنة، قلتُ: والناس اليوم، أليس هم في فتنة يا أبا عبدالله؟ قال: وإن كان، فإنما هي فتنة خاصة، فإذا وقع السيف عمَّت الفتنةُ، وانقطعت السبل، الصبرَ على هذا، ويسلَمُ لك دينُك خيرٌ لك”، ورأيته ينكر الخروج على الأئمة، وقال: الدماء لا أرى ذلك، ولا آمر به” (السنة لأبي بكر الخلال، ج 1 ص 132: 133 رقم 89)

.

Abul Harits berkata pada mereka : “Aku bertanya kepada Abu Abdilllah, yakni Imam Ahmad bin Hambal, mengenai perkara yang terjadi di Baghdad dan mengenai keinginan suatu kaum untuk memberontak; ‘apakah pendapat engkau mengenai pemberontakan bersama mereka itu?'”

 

Lalu Imam Ahmad mengingkari hal tersebut dan ia berkata : “Subhhanallah!! Darah! Darah! Aku tidak sependapat dengan mereka dan Aku pun tidak memerintahkan hal itu! Kesabaran terhadap apa yang kita rasakan ini lebih baik dari pada terjadinya fitnah (kekacauan akibat memberontak) yang padanya darah akan tertumpah, harta-harta dirampas, dilanggarnya perkara-perkara haram. Tidakkah kau tahu apa yang akan manusia alami di dalamnya!? Yakni, di hari-hari fitnah (kekacauan) itu.”

 

Lalu aku (Abul Harits) katakan: ‘bukankah mereka sekarang berada dalam fitnah, wahai Abu Abdillah?’

ia menjawab : “walau demikian, sesungguhnya itu adalah fitnah yang khusus (menimpa orang-orang tertentu) saja, sedangkan apabila pedang terhunus (dengan pemberontakan) maka fitnah itu akan semakin meluas dan jalan-jalan terputus! Kesabaran atas hal ini (untuk tidak memberontak) serta selamatnya agamamu adalah lebih baik bagimu.” (kitab: As-Sunnah, karya Abu Bakar Al- Khallal, 1/132,133. No.89).

 

Pemberontakan itu terlarang karena sejarah mencatat bahwa keburukan yang dihasilkannya lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan. Sehingga tidak mungkin para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memiliki sifat paling penyayang terhadap makhluk mengajarkan umat untuk melakukan hal-hal yang bahayanya lebih besar daripada kebaikannya, apalagi bila bahayanya itu adalah masalah tertumpahnya darah kaum muslimin.

 

يقول ابن تيمية: «المشهور من مذهب أهل السنة أنهم لا يرون الخروج على الأئمة وقتالهم بالسيف وإن كان فيهم ظلم كما دلت على ذلك الأحاديث الصحيحة المستفيضة عن النبي صلى الله عليه وسلم ؛ لأن الفساد في القتال والفتنة أعظم من الفساد الحاصل بظلمهم بدون قتال ولا فتنة [فليدفع [أعظم الفسادين بالتزام أدناهما ولعله لا يكاد يعرف طائفة خرجت على ذي سلطان، إلا وكان في خروجها من الفساد ما هو أعظم من الفساد الذي أزالته “. [منهاج السنة النبوية، 3 / 390، ط. جامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية]

 

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: “Yang masyhur dari mazhab Ahlus sunnah bahwasannya mereka tidak berpendapat bolehnya memberontak terhadap para penguasa dan tidak pula membolehkan memerangi mereka dengan pedang walau pun mereka (para penguasa) memiliki kedzaliman, sebagimana larangan tersebut telah ditunjukan oleh hadits-hadits shahih yang banyak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal tersebut karena kerusakan yang dihasilkan dalam peperangan dan fitnah (kekacauan) lebih besar dari pada kejelekan yang dihasilkan dari kedzaliman para penguasa yang tidak disertai adanya perang dan fitnah (kekacauan). Maka, hendaklah keburukan yang lebih besar tersebut dihindari dengan cara memilih melakukan keburukan yang lebih ringan. Dan sepertinya, hampir-hampir tidak ada suatu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa kecuali pada pemberontakkannya itu terdapat keburukan yang lebih besar dari pada kejelekan yang hendak mereka singkirkan.” (kitab: Minhaj Assunnah Annabawiyyah, 3/390, cet. Jaami’ah Al Imam Muhammad bin Su’sud Al Islamiyah).

 

Akan tetapi, bila pemberontakan terjadi kemudian pemberontak tersebut berhasil merebut kekuasaan maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat atas sahnya kekuasaannya itu walau diraih dengan pedang, hal itu agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar dan demi terjaganya darah umat serta amannya stabilitas umum.

 

وقد حكى الإجماع على ذلك الحافظ ابن حجر – رحمه الله تعالي – في (( الفتح، 13/7 )) ، فقال:

((وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه، وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء، وتسكين الدهماء )) انتهى.

 

Ibnu Hajar telah menghikayatkan adanya ijma’ tentang sahnya kekuasaan pemimpin yang menang merebut kekuasaan. Dalam Fathul Baari (13/7) Ia berkata:

“Sungguh para ulama ahli fikih telah ijma’ (sepakat) atas wajibnya mentaati penguasa mutaghallib (yakni penguasa yang mendapatkan kekuasaannya dengan cara merebut sampai mengalahkan penguasa sebelumnya pent.), dan wajib berjihad bersama penguasa tersebut. Dan sesungguhnya mentaatinya itu lebih baik daripada memberontak terhadapnya karena dengan ketaatan tersebut darah akan terjaga dan menenangkan stabilitas masyarakat umum.”

 

Mengapa para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersungguh-sungguh dalam menjaga umat agar darah mereka tidak tertumpah!?

 

Jawabannya adalah karena para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah paling tahu dalil-dalil dan sangat komitmen berpegang teguh pada ayat-ayat dan hadits-hadits mulia berikut ini,

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (107)

Artinya: “dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya: 107).

 

وعن أبي سعيد الخدري و أبي هريرة رضي الله عنهما يذكران عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: (لَوْ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ وَأَهْلَ الْأَرْضِ اشْتَرَكُوا فِي دَمِ مُؤْمِنٍ لَأَكَبَّهُمْ اللَّهُ فِي النَّارِ) رواه الترمذي (1398) ، وصححه الألباني في “صحيح الترمذي

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seandainya penduduk langit dan bumi bersekutu dalam (menumpahkan) darah seorang mukmin, sungguh Allah akan sungkurkan mereka ke dalam neraka!” (HR. Tarmidzi, no. 1398 dan dishahihkan Al-Albaniy).

 

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: ” لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.[ رواه الترمذي برقم 1395، وصححه الألباني في صحيح الترمذي، 2/101].

 

Artinya :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh sirnanya alam dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. Tarmidzi, no. 1395 dan dishahihkan Al-Albaniy).

 

عن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ . [رواه ابن ماجه، برقم 2138-2668، وصححه الألباني.[

 

Artinya :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh sirnanya alam dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Mukmin dengan tanpa haknya.” (HR.Ibnu Majah, no. 2138-2668 dan dishahihkan Al-Albaniy).

 

 

عن ابن عباس قال: نظر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إلى الكعبة فقال: مَا أَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَلَلْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةَ عِنْدَ اللهِ مِنْكِ، إِنَّ اللهَ حَرَّمَ مِنْكِ وَاحِدَةً وَحَرَّمَ مِنَ الْمُؤْمِنِ ثَلَاثًا: دَمَهُ، وَمَالَهُ، وَأَنَ يُظَنَّ بِهِ ظَنَّ السَّوْءِ . [رواه البيهقي في “شعب الإيمان” (5/296-297/6706) ، وحسن إسناده الألباني في السلسلة الصحيحة رقم : 3420 ].

 

Artinya :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepada Ka’bah, lalu beliau bersabda : “Betapa agung kehormatanmu, sungguh seorang Mukmin lebih agung kehormatannya di sisi Allah dari pada engkau. Sesungguhnya Allah mengharamkan mengenai engkau satu hal, sedangkan mengenai seorang Mukmin Allah mengharamkan tiga hal, yaitu : darahnya, hartanya, dan berprasangka jelek terhadanya dengan prasangka jelek!” (HR. Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iimaan [6706/2296-297/5], dan dihasankan Al-Albaniy dalam Ash-Shahiihah, no 3420]).

 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً [النساء/ 93 ]

 

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. Annisa : 93)

 

*Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan istiqamah dalam Islam dan sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah*

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: