Metode Memotivasi Anak Untuk Melaksanakan Ibadah

 

🔖 Bagimana cara menanamkan Tauhid pada anak-anak?

🔖 Haruskah anak-anak dipaksa dilatih melakukan ibadah sunat?

🔖 Bolehkah mengiming-imingi anak dengan hadiah dalam mendidik shalat?

🔖 Apakah dampaknya bila anak dimotivasi beribadah dengan iming-iming hadiah?

🔖 Bagaimana cara bersikap tegas dalam mendidik anak untuk beribadah?

=================

 

 

📝Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas oleh Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Al-Ruhaily –hafizhahullah- tatkala ada pertanyaan kepada beliau dari para akhwat mengenai; apakah anak kecil umur 7 tahun yang telah wajib shalat 5 waktu harus dipaksa juga melaksanakan shalat sunat fajar dan witir?

 

📜 Lalu beliau menjawab:

“Tidak! Kita jangan memaksanya shalat Subuh maupun shalat fajar (sebelum shalat subuh). Kita jangan memaksanya melaksanakan yang fardhu (wajib) maupun yang sunat!

Akan tetapi, kita berikan motivasi kepadanya dalam melaksanakan ibadah fardhu. Maka kita menyuruhnya dengan perintah yang memotivasi; bukan perintah yang memaksa; bukan pula perintah yang mengandung kekerasan!

(Misalnya, kita katakan: )

‘Shalatlah, karena orang yang shalat akan dicintai Allah.’

‘Shalatlah, karena orang yang shalat akan dimasukkan oleh Allah ke Surga’

‘Shalatlah, agar Allah meridhai ayahmu…’

 

Dan, kami memperingatkan dari apa yang dilakukan oleh sebagian orang; berupa menggantungkan hati anak (saat memotivasi beribadah) kepada duniawi! Ini bertentangan dengan metode Tarbiyah (pendidikan) yang benar.

(Misalnya dengan mengatakan: )

‘Shalatlah, nanti ku beri manisan.’

‘Bila kamu shalat hari ini, nanti ku beri uang beberapa Riyal.’

Ini justru akan menyebabkan anak tersebut beribadah dengan maksud duniawi!

Akan tetapi, tidak apa-apa bila Anda katakan padanya:

‘Shalatlah, dan bila Anda shalat; bisa saja nanti Allah memberiku petunjuk untuk memberimu beberapa uang Riyal…’

Lalu, saat anak itu telah shalat, Anda katakan padanya: ‘Sungguh Allah memberiku petunjuk untuk memberimu beberapa uang Riyal. Itu karena Anda telah menjadikan Allah ridha dengan sebab shalatmu itu.’

 

Boleh saja Anda motivasi anak dengan sesuatu yang ia sukai, Tetapi jangan Anda jadikan hatinya bergantung kepada duniawi.

Yakni, beserta pemberianmu itu yang berupa (hadiah) duniawi, maka jadikanlah pemberianmu itu sebagai jalan pendekatan dirinya kepada Allah; kaitkanlah ia dengan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Selama 3 tahun, (7 sampai 10 Tahun), seluruh masa tersebut adalah pendidikan dengan motivasi.

Tidak boleh; terhadap anak umur 8 tahun yang tidak shalat lalu Anda katakan padanya: ‘Kamu tidak shalat maka kamu Kafir!’

Namun, tidak apa-apa bila Anda katakan:

‘wahai ananda, camkanlah bahwa seluruh kaum muslimin itu melaksanakan shalat.’

‘Orang-orang yang yang tidak shalat, maka mereka itu tidak mencintai Allah.’

Lain halnya, tatkala Anda melakukan kekerasan pada anak dalam hal ini! Mencelanya! Membentaknya! Maka ini tidak disyari’atkan! (Tidak boleh dalam syari’at Islam!)

 

Lakukanlah perintah-perintah yang memotivasi;

Yakni: diawali dengan kita motivasi anak untuk melaksanakan yang fardhu (wajib). Kemudian setelah itu, kita motivasi ia terhadap hal-hal yang sunat hukumnya. Dilakukan dengan bertahap agar tidak membuatnya meresa berat dan bosan (karena diharuskan mengerjakan yang wajib dan yang sunat sekaligus), lalu kita memotivasinya untuk pergi ke masjid, lalu kita mengajarnya.

 

Anak-anak itu selalu mempelajari.

Sekitar dua atau tiga pekan lalu, saat Saya berada di dalam mobil sendirian, lalu Saya bersin, dan saya ucapkan Alhamdulillah (dengan pelan). Tiba-tiba datang anak kecil dari kejauhan, umurnya sekitar di bawah 7 tahunan, lalu ia diam di sampingku dan bertanya: ‘Kenapa engkau tidak mengucapkan Alhamdulillah?’

Karena orang tua anak itu mengajarkannya mengucapkan Alhamdulillah bila bersin, tetapi saat itu ia mendengar orang bersin; namun ia tidak mendengar Saya mengucapkan Alhamdulillah. Maka anak itu pun datang kepada Saya dan bertanya seperti itu karena ia tidak mendengar Saya mengucapkan Alhamdulillah.

 

Begitulah anak-anak, benak mereka itu selalu mempelajari. Kitalah yang menanamkan pengajaran kepada mereka. Apabila kita tanamkan kebohongan; maka mereka pun belajar berbohong, dan apabila kita tanamkan kejujuran dan kebaikan, maka mereka akan belajar berbuat jujur dan kebaikan.

 

Akan tetapi, mereka tidak bisa menerima disakiti, maka Janganlah Anda sakiti ia!! Jangan Anda menyakiti hatinya dengan kata-kata! Jangan Anda menyakitinya dengan pukulan! (Teruslah lakukan metode pendidikan motivasi seperti itu) sampai ia berumur 10 tahun.

Dan apabila anak telah berumur 10 tahun, dan Anda tidak menyia-nyiakan pendidikan selama periode 3 tahun tersebut (dari sejak anak umur 7 sampai 10 tahun), dan selama itu Anda telah berusaha menggunakan metode yang benar, seperti mengucapkan: ‘Nak, shalatlah, karena Allah mencintai orang yang shalat…’ Anda benar-benar telah berusaha seperti itu.

Maka kemudian, apabila telah mencapai umur 10 tahun, namun anak belum juga mau melaksanakan shalat; silahkan mulailah Anda pukul ia dengan pukulan yang tidak melukainya.

 

Akan tetapi, bila selama priode 3 tahun Anda hanya diam; tanpa memerintahkannya shalat, yakni dari sejak anak Anda umur 7 tahun; Anda tidak menyuruhnya shalat sampai umur 10 tahun, lalu saat anak Anda telah berumur 10 tahun; Anda menyuruhnya shalat dengan memukulnya menggunakan tongkat!? Anda hanya memanfaatkan pukulan tongkat!! Sedangkan Anda telah meninggalkan kewajiban bersikap memerintahnya dengan cara lemah lembut!

 

Jadi, anak kecil berumur 7 tahun, kita memulainya dengan perintah yang memotivasi, itu pun dengan bertahap, dan tanpa membuatnya bosan. Justru jadikanlah anak selalu terkait hatinya dengan shalat dan cinta shalat. Kita pun bertahap dalam melakukannya.

Selanjutnya, kita berpindah pada masalah memerintah anak melakukan sunat rawatib yang mu-akkadah (ditekankan), yakni shalat sunat fajar dan witir. Kemudian berpindah kepada sunat rawatib, kemudian shalat malam.

 

Dan betapa baiknya, andaikata kita menyuruh anak melakukan sunnah-sunnah tersebut dengan cara kita mempraktikkannya, maka inilah yang lebih meresap bagi anak dan lebih baik. Misalnya: kita bawa anak ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu, lalu tatkala pulang; kita lakukan shalat sunat, dan setelah itu kita katakan: ‘wahai anakku, ini adalah Sunnah Nabi.’

Metode ini lebih meresap ke hati anak, daripada hanya sekedar kata-kata. Memang perkataan itu adalah dakwah, namum bila disertai dengan dakwah perbuatan maka tentu itu sangat lebih berpengaruh dan lebih baik.”

-Selesai transkip terjemahan-

=====================

📼Sumber: https://youtu.be/0aIKHL-wAaI

🌐Alih bahasa: Mochammad Hilman Alfiqhy

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: