Nasihat bagi Para Penuntut Ilmu Syar’i agar Memanfaatkan Internet untuk Dakwah

Nasihat dari Syaikh Al Utsaimin dan Syaikh Shalih Al-Fauzan terhadap para penuntut ilmu Syar’i agar memanfaatkan media-media sosial untuk menyebarkan dakwah di Jalan Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- ketika menafsirkan surat Asy Syura: 11, sempat membahas permasalahan dakwah di internet, beliau berkata:

“Wajib menyampaikan dakwah, dan Allah tidak menyebutkan wasilah (perantara) tertentu untuk menyebarkan dakwah tersebut, sehingga dapat kita katakan bahwa semua perantara untuk menyampaikan dakwah itu wajib, karena hukum suatu wasilah itu tergantung tujuannya. Dahulu, penyampaian dakwah itu terbatas hanya disampaikan seseorang kepada daerah tempat dimana ia tinggal atau kepada sebagian orang yang datang kepadanya. Sedangkan sekarang ini, dakwah bisa disampaikan kepada seluruh belahan dunia! Maka kami bertanya seandainya seseorang diberi kemampuan untuk membuat akun di internet, apakah ia boleh membuatnya atau tidak? Tentu boleh. Dan bagaimana apabila internet itu terdapat nyanyian, dan bala bencana maksiat lainnya, yang si pembuat akun tersebut tidak memiliki campurtangan terhadap hal-hal tersebut, dan bagaimana apabila di internet itu ada lagu-lagu sebelum dan sesudahnya? Pelaku kejelekan tersebut tidak memadharatkan pembuat akun itu.

Sungguh mengherankan, seandainya sebelum dan setelah ditampilkannya akunya itu diawali dan diakhiri dengan lagu-lagu (dengan tanpa kehendak pembuat akun), lantas apakah ia tidak boleh berdakwah melalui akun internet itu!? Justru hendaklah ia tetap berdakwah melalui akun internet tersebut walaupun ada lagu-lagu sebelum dan sesudah ditampilkan akunnya itu! Hal itu karena lagu-lagu tersebut bukan perbuatan si pembuat akun dakwah itu, tetapi diatur oleh para pemilik wewenang penyiarannya. Walaupun terdapat penyimpangan tersebut, kita tidak boleh meninggalkan dakwah (melalui internet) untuk menyeru kepada kebenaran gara-gara adanya suatu kejelekan di radio atau media penyiaran tersebut! Sikap meninggalkan dakwah tersebut tidak benar dan pendangan yang picik. Justru persempitlah ruang gerak para penyebar kebatilan itu sehingga menjadi jelaslah kebenaran! Tidak akan menjadi madharat bagimu apabila hal-hal yang mungkar pun ada yang masuk ke internet itu. Memang sebagian orang ada yang mengatakan bagaimana mungkin kalian masuk ke internet untuk dakwah sementara di internet itu pun ada lagu-lagu dan bala bencana lainnya!? Kita jawab: ‘Lantas manakah yang lebih utama antara masuk ke dunia maya internet sehingga dengan sebab itu semoga Allah memberi hidayah kepada seseorang, ataukah kita tinggalkan peluang tersebut untuk dimanfaatkan oleh para penyebar kerusakan!?’ Tentu pilihan yang pertamalah yang paling baik.” –selesai  nukilan-[1]

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan –hafizhahullah- pernah ditanya:

“Wahai Syaikh yang mulia, telah tersebar luas Media-media sosial, maka kami mohon bimbingan dan nasihat bagi para Thalibul Ilmi dan para Da’i dalam memanfaatkan media sosial tersebut untuk menyebarkan Tauhid.”

Lalu Syaikh Dr. Shalih Al Fauzan –hafizhahullah- menjawab:

“Ya, memang media-media sosial tersebut mengandung kebaikan dan keburukan, maka Antum wajib mengambil faidah kebaikannya, yaitu: menyebarkan dakwah di jalan Allah; menjelaskan Tauhid yang benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Antum sekalian wajib menyebarkan hal tersebut di media-media sosial. Ini merupakan kesempatan bagi antum sekalian, manfaatkanlah media tersebut dan jangan antum meninggalkannya sehingga dimanfaatkan hanya oleh orang-orang jahat dan para da’i sesat! Persempitlah jalan mereka di media sosial itu! Karena mereka bila melihat kebenaran tersebar luas maka mereka makin tertahan;

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

‘Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap…’ (QS. Al-Anbiya’: 18).

Maka kalian manfaatkanlah!” -selesai nukilan- [2]

Akan tetapi, perlu diperhatikan juga peringatan dari Syaikh Muhammad bin shalih Al-Utsaimin –rahimahullah-, beliau menjelaskan:

“Dakwah ini harus dengan ilmu Syar’i sehingga dakwah ini sesuai dengan ilmu dan Bashirah, karena Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashiirah (hujjah yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Yusuf: 108)

Bashiirah tersebut masudnya adalah bahwa terhadap perkara yang sedang didakwahkan itu seorang da’i harus memiliki ilmu tentang hukum-hukum Syari’at, tentang metode dakwah, dan tentang keadaan orang yang hendak didakwahi.” -selesai nukilan- [3]

Oleh karena itu, dalam kesempatan yang lain, beliau pun menegaskan bahwa: “Maka orang yang jahil (bodoh terhadap ilmu dakwah tersebut) tidak layak berdakwah dan tidak terpuji. Jalannya bukanlah jalan Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– karena orang Jahil itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki.”[4]

=========

CATATAN KAKI:

[1]https://binothaimeen.net/content/14198?q2=%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1%20%D8%B3  (menit ke 0.54.11 ) dan   https://alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&coid=213116

[2]  https://youtu.be/mWGFVM3Tktk

[3]  Syarhu Tsalaatsah Al Ushuul, 22.

[4]  Al Qaulul Mufid Syarhu Kitaab At Tauhiid, 1/130.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: