Maksud Pernyataan Kaum Salaf Mempelajari Adab Sebelum Ilmu dan Pentingnya Bertahap dalam Mendidik

Alhamdulillah, pada tgl 1 juli 2019, sebagian para Da’i di Bandung, secara dadakan ada yang diundang ke Ciater untuk mengadakan pertemuan khusus dengan Syaikh Ali Hasan Al-halabi dan Syaikh Ziyad Al Abbadiy –hafizhahumallah-, dan saya termasuk yang diberi kesempatan mengikutinya. Pertemuan ringan, ngobrol dan bertanya jawab dengan Syaikh.

Saya  bertanya kepada Syaikh Ali bin Hasan AL Halabi –hafizhahullah- mengenai maksud dari metode pendidikan ulama Salaf bahwasannya dahulu mereka menyatakan: “Kami mempelajari Adab 30 tahun lalu setelah itu mempelajari ilmu…” Bagaimanakah gambarannya?

Maka Syaikh Ali –hafizhahullah- menjelaskan:

Bahwa adab itu tentu ada kaitannya dengan ilmu. Perkataan ulama Salaf yang menyatakan bahwa mereka mempelajari Adab dahulu kemudian mempelajari ilmu, maknanya adalah seperti ucapan: ‘kami mempelajari cabang-cabang ilmu secara umum kemudian kami belajar takhashshush (fokus/konsentrasi) pada ilmu tertentu.’

Jadi, maksud para ulama Salaf bahwa dahulu mereka mempelajari adab sebelum ilmu adalah seorang guru mengajarkan masalah adab dan akhlak dalam tatacara ibadah kepada Allah, tatacara membuka kitab hadits-hadits, dsb, dengan melalui metode pendidikan (baca: uslub tarbawi). Yakni sama sebagaimana kita mengenal ada tahapan pendidikan mata pelajaran pada jenjang SMA, kemudian menjadi lebih spesifik lagi pelajarannya di jenjang Kuliahan, kemudian di Magister, Doktoral. dst.

-selesai-

=========

Saya pun bertanya kepada Syaikh Ali tentang bagaimanakah kurikulum (baca: Manaahiij Diraasiyyah) pendidikan kaum Muslimin di masa dahulu. Sedangkan sekarang di negeri kami, metode pendidikan dan kurikulum dipengaruhi oleh sistem sekuler. Apakah pada masa kejayaan umat Islam dahulu ada metode perdidikan tertentu yang khas bila dibandingkan metode pendidikan zaman ini?

Syaikh Ali menjawab:
Apabila kita buka pembahasan tentang hal ini maka dapat kami katakan bahwa: metode pebelajaran kita di zaman sekarang ini adalah Al-jahl (suatu kebodohan)! Karena dahulu para ahli ilmu (mampu) mengajarkan manthiq, falsafah, ilmu tehnik, matematika, al jabar, astronomi, dan ilmu-ilmu lain yang bahkan saya pun sukar menyebutkan nama judulnya apalagi mempelajarinya.

Namun, terhadap kaum muslimin zaman ini, kita harus memperhatikan dan menyesuaikan dengan keadaan zaman, Ini sangat penting; dalam berdakwah dan mengajar!

Yakni apakah mungkin sekarang ini kita bisa mengharuskan para murid untuk menghafal matan Alfiyah ibnu Malik?! Sedangkan zaman dahulu, kaum muslimin bahkan mampu menghafal qashiidatul hariiri, al baiquniyah, alfiyah al iraaqi, dan memahaminya.
Maka tentu kita harus bertahap, (disertai penyesuaian dengan keadaan zaman dan tempat). ini penting, dalam mengajar. (yakni jangan disamakan dengan tuntutan bahan ajar zaman dahulu). Bahkan sebenarnya zaman dahulu pun seperti itu; yaitu Ada tahapannya dalam menulis kitab-kitab, disesuaikan dengan keadaan zaman. Mereka menulisnya dengan tahapan.
-selesai-

——————————

Diringkas oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: