Fatwa-Fatwa Syaikh Ibnu Taimiyah Mengenai Status Negeri Islam dan Negeri Kafir

قال شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله- :وكون الأرض دار كفر ودار إيمان أو دار فاسقين ليست صفة لازمة لها، بل هي صفة عارضة بحسب سكانها، فكل أرض سكانها المؤمنون المتقون هي دار أولياء الله في ذلك الوقت، وكل أرض سكانها الكفار فهي دار كفر في ذلك الوقت، وكل أرض سكانها الفساق فهي دار فسوق في ذلك الوقت، فإن سكنها غير ما ذكرنا وتبدلت بغيرهم فهي دارهم. (مجموع الفتاوى : 18/282)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata :

Status suatu daerah sebagai negeri Kufur atau negeri Iman atau negeri Fasiq bukanlah sifat yang tetap, bahkan ia  merupakan sifat yang berubah-ubah tergantung pada penduduknya. Sehingga, setiap daerah yang ditempati oleh orang-orang beriman dan bertaqwa maka pada saat itu ia adalah negeri para wali Allah, dan setiap daerah yang ditempati oleh orang-orang Kafir maka pada saat itu ia adalah negeri Kafir, serta setiap daerah yang ditempati oleh orang-orang Fasiq maka pada saat itu ia adalah negeri Fasiq. Dan, apabila daerah tersebut ditempati oleh orang-orang selain yang disebutkan tadi dan berubah oleh orang-orang lain tersebut maka daerah itu adalah milik mereka. (Majmuu’ Al Fataawaa : 18/282).

 

والبقاع تتغير أحكامها بتغير أحوال أهلها . فقد تكون البقعة دار كفر إذا كان أهلها كفارا، ثم تصير دار إسلام إذا أسلم أهلها، كما كانت مكة شرفها الله فى أول الأمر دار كفر وحرب. (مجموع الفتاوى : 28/143).

Suatu daerah itu status hukumnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan penduduknya; terkadang suatu daerah itu merupakan negeri Kafir jika penduduknya adalah orang-orang Kafir, kemudian menjadi negeri Islam apabila penduduknya masuk Islam. Sebagaimana kota Mekah –semoga Allah memuliakannya- dahulu pada permulaannya (dakwah Islam) merupakan negeri Kafir Harbi (yang layak diperangi). (Majmuu’ Al Fataawaa : 28/143).

 

=====

 

وسئل رحمه الله عن بلد [ ماردين ] هل هي بلد حرب أم بلد سلم ؟ وهل يجب على المسلم المقيم بها الهجرة إلى بلاد الإسلام أم لا ؟ وإذا وجبت عليه الهجرة ولم يهاجر، وساعد أعداء المسلمين بنفسه أو ماله، هل يأثم في ذلك ؟ وهل يأثم من رماه بالنفاق وسبه به أم لا ؟

Sayikhul Islam Ibnu Timiyah –rahimahullah- ditanya mengenai negara Maaridiin, apakah ia merupakan negeri Harbi ataukah negeri Silmi (Islam)? Dan apakah bagi seorang Muslim yang bermukim di sana wajib hijrah ke negeri Islam atau tidak ? dan apabila dia wajib berhijrah dan dia membantu musuh-musuh Islam  dengan jiwa dan hartanya, apakah dia berdosa karena hal itu ? dan apakah orang yang menuduhnya sebagai munafiq serta mencelanya itu berdosa ataukah tidak ?

 

فأجاب 

الحمد لله . دماء المسلمين وأموالهم محرمة حيث كانوا في [ ماردين ] أو غيرها . وإعانة الخارجين عن شريعة دين الإسلام محرمة، سواء كانوا أهل [ ماردين ] ، أو غيرهم . والمقيم بها إن كان عاجزًا عن إقامة دينه، وجبت الهجرة عليه . وإلا استحبت ولم تجب .

Beliau menjawab :

Alhamdulillah, darah dan harta kaum Muslimin itu haram (ditumpahkan) sama saja apakah mereka itu yang tinggal di Maaridiin atau di negeri lainnya. Dan membantu orang-orang yang keluar dari Syari’at Islam adalah haram, sama saja apakah mereka penduduk Maaridiin atau penduduk negeri lainnya. Orang yang bermukim di sana (di Maaridiin) apabila tidak bisa menjalankan agamanya maka wajib berhijrah, dan apabila tidak seperti itu (yakni mampu menjalankan agamanya) maka ysng lebih baik baginya adalah hijrah, akan tetapi tidak wajib.

 

ومساعدتهم لعدو المسلمين بالأنفس والأموال محرمة عليهم، ويجب عليهم الامتناع من ذلك، بأي طريق أمكنهم، من تغيب، أو تعريض، أو مصانعة . فإذا لم يمكن إلا بالهجرة، تعينت .

Sedangkan bantuan mereka (penduduk Maaridiin) dengan jiwa dan harta mereka terhadap musuh kaum Muslimin adalah haram atas mereka, wajib bagi mereka menahan diri dari membantu musuh Islam dengan cara apapun yang mereka mampu, seperti bersembunyi atau berkilah atau mencari-cari alasan. Apabila tidak memungkinkan melakukannya kecuali dengan hijrah, maka hijrah menjadi wajib baginya.

 

ولا يحل سبهم عمومًا ورميهم بالنفاق، بل السب والرمي بالنفاق يقع على الصفات المذكورة في الكتاب والسنة، فيدخل فيها بعض أهل [ ماردين ] وغيرهم .

tidak halal mencela dan menuduh mereka (penduduk Maaridiin) sebagai munafiq secara umum, akan tetapi celaan dan tuduhan dengan kemunafikkan itu dilontarkan kepada orang yang memiliki sifat-sifat tertentu yang telah disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah, dan yang masuk pada kriteria sifat yang telah disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah tersebut hanya sebagian penduduk Maaridiin serta sebagian dari selain mereka.

 

وأما كونها دار حرب أو سلم، فهي مركبة : فيها المعنيان، ليست بمنزلة دار السلم التي تجري عليها أحكام الإسلام، لكون جندها مسلمين . ولا بمنزلة دار الحرب التي أهلها كفار، بل هي قسم ثالث يعامل المسلم فيها بما يستحقه، ويقاتل الخارج عن شريعة الإسلام بما يستحقه . (مجموع الفتاوى : 28/ 240-241).

Adapun status negeri Maaridiin tersebut apakah negeri Harbi (negeri kafir yang layak diperangi) ataukah negeri Islam? maka statusnya itu bercampur, yakni memiliki dua keadaan; negeri tersebut tidak berstatus negeri Islam yang padanya menerapkan hukum-hukum Islam dengan sebab tentaranya adalah kaum Muslimin, dan bukan pula berstatus negeri Harbi yang penduduknya adalah orang-orang Kafir. Justru negeri tersebut merupakan jenis ketiga yang mana orang Islam padanya disikapi sesuai dengan haknya sebagai Muslim, sedangkan orang yang keluar dari Syari’at Islam di negeri tersebut di perangi sesuai dengan haknya. (Majmuu’ Al Fataawaa : 28/240-241).

 

CATATAN :

Negeri Maaridiin merupakan negeri Islam yang dipimpin oleh dinasti Al Araatiqah selama lebih dari tiga abad (dari tahun 460 H sampai 812 H.). Negeri Maaridiin tersebut dijajah oleh bangsa Tartar sehingga negeri tersebut berada dibawah kekuasaan bangsaTartar, akan tetapi bangsa Tartar mengizinkan dinasti Al Araatiqah menjadi pemegang pemerintahan bagi kaum Muslimin di Negeri Maaridiin. Setelah bangsa Tartar menyerang negeri Syam, pasukan kaum Muslimin dari negeri Maaridiin berpihak pada orang-orang kafir –kaum Nashrani dan bangsa Tartar- bahkan menolong mereka dalam memerangi kaum Muslimin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: