Beruntungnya Sikap Kerajaan Romawi dan Binasanya Kerajaan Persia disebabkan Surat Nabi

Penyebab langgengnya kerajaan romawi dan musnahnya kerajaan persia adalah sikap mereka terhadap dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menulis surat (dakwah untuk masuk Islam, pent-) kepada Kisra (julukan bagi raja Persia) dan Qaishar (julukan bagi raja Romawi), Namun keduanya tidak masuk Islam. Akan tetapi, Qaishar memuliakan surat Nabi dan memuliakan utusan Beliau, maka Allah pun meneguhkan kerajaannya. bahkan dikatakan bahwasannya kerajaan Qaishar tetap berlangsung pada keturunannya sampai hari ini!

Sedangkan Kisra (raja persia) malah merobek surat dakwah dari Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ dan mempermainkan Beliau, maka tidak lama kemudian Allah pun membunuh Kisra dan Dia merobek kerajaannya dengan sehancur-hancurnya sehingga tidak tersisa lagi kerajaan bagi para Kisra!
Wallahu a’lam, ini merupakan pembuktian dari firman Allah:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 3)
Maka semua yang membenci Rasulullah, tidak suka pada Beliau, dan memusuhi Beliau niscaya Allah akan memusnahkannya, serta melenyapkan eksistensi dan pengaruhnya!” (Ash Shaarimul Masluul, 164-165, karya Ibnu Taimiyah).

 

Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy (1/57, cet. daarul hadiits) membawakan riwayat As Suhailiy bahwa; Qaishar Heraklius menyimpan surat dari Rasulullah itu dalam qashbah/suatu tempat yang terbuat dari emas sebagai tanda pengagungan, dan mereka saling mewariskannya sampai pada masa Raja Al Faranj yang menaklukkan negeri Thulaithilah, kemudian surat tersebut berada pada cucunya. -Selesai nukilan-.

Masih dalam kitab dan halaman yang sama, Ibnu Hajar pun membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, ia berkata: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menulis surat kepada Kisra dan Qaishar. Adapun Kisra, ketika membaca surat dari Rasulullah maka ia merobeknya, sedangkan Qaishar ketika membaca surat dari Rasulullah maka ia melipatnya dan mengangkatnya (memukiakannya). Lalu Rasulullah bersabda: “Adapun mereka (kerajaan Kisra Persia) maka akan dicabik-cabik, sedangkan mereka (kerajaan Qaishar Romawi) maka akan tetap berlanjut.” -selesai nukilan-.

Itulah keadaan mereka tatkala mensikapi seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , meskipun mereka orang-orang kafir, akan tetapi Allah tetap membedakan nasib mereka sesuai dengan kadar penghormatan mereka terhadap seruan Beliau. Allah ta’ala telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ وَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.” (QS. Al Mujadilah: 5)

Maka berbahagialah bagi para pengemban dakwah dan yang berjuang meniti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tentu merekalah yang lebih berhak untuk optimis dalam meraih kemuliaan dengan sebab ketundukkan dan ketaatan terhadap seruan dakwah Beliau. karena Allah ta’ala telah menjanjikan:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55).

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: