Provokator Terjadinya Perang Jamal Serta Bukti Bersihnya Hati Para Sahabat Nabi

Artikel Ini Merupakan Ringkasan Fakta Kisah Mengharukan Di Perang Jamal Dan Provokator Dibalik Terjadinya Perang Jamal Serta Bukti Bersihnya Hati Para Sahabat Nabi Saat Terjadi Perselisihan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Sesungguhnya akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah menahan diri terhadap apa yang terjadi di antara para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ridha terhadap mereka semuanya serta berkeyakinan bahwa mereka itu adalah para mujtahid dalam mencari kebenaran; sehingga bagi yang benar diantara mereka akan mendapat dua pahala sedangkan bagi yang keliru mendapat satu pahala.
Ketika buku-buku sejarah terpenuhi oleh banyak kabar-kabar dusta yang menurunkan kredibilitas para Shahabat yang merupakan orang-orang pilihan (dari Allah bagi RasulNya. -pent), dan kedustaan-kedustaan tersebut telah memeberi gambaran seolah apa yang terjadi pada para Shahabat merupakan perselisihan dilatarbelakangi masalah pribadi dan duniawi! Maka apabila telah seperti itu perkaranya, (demi membantah kabar-kabar dusta tersebut) berikut bawakan kepada Anda beberapa kabar yang shahih (valid) terkait dengan perang Jamal ini.

[1]. Ali -radhiallahu ‘anhu- dibai’at sebagai Khalifah setelah terbunuhnya Utsman -radhiallahu ‘anhu-, sedangkan Ali membenci bai’at itu dan menolaknya serta tidak menerimanya, kecuali karena para shahabat meminta dengan sangat pada Ali sehingga saat itulah Ali berkata:
“Sungguh akalku telah terguncang ketika hari terbunuhnya Utsman dan jiwaku pun mengingkarinya, sedangkan mereka datang padaku untuk berbai’at!? Maka aku katakan: ‘Demi Allah, Sesungguhnya aku sangat malu kepada Allah karena aku memberi bai’at pada suatu kaum yang telah membunuh seorang lelaki ( yakni: Utsman) yang mana Rasulullah bersabda tentang tentang lelaki itu: ‘tidakkah Aku malu terhadap seorang lelaki yang Malaikat pun malu kepadanya!?’ Dan sungguh aku malu terhadap Allah karena aku memberi bai’at sedangkan Utsman terbunuh di atas bumi dan belum dimakamkan! Maka mereka (yang hendak berbai’at) itu pergi, ketika Utsman telah dimakamkan maka manusia itu pun kembali lalu memintaku dibai’at, maka aku katakan: ‘Ya Allah, Sesungguhnya aku takut terhadap apa yang aku tempuh ini’, lalu datanglah kemantapan hati maka aku pun memberi bai’at. Sungguh saat mereka mengatakan ‘Wahai Amirul Mukminin’, maka seolah-olah hatiku terbalah dua, lalu aku katakan: ‘Ya Allah, ambillah dariku untuk Utsman sehingga Engkau ridho’”.
(HR. Al Hakim, dan ia telah menshahihkannya berdasarkan syarat Syaikhain, dan telah disepakati oleh Adz Dzahabi).

[2]. Ali -radhiallahu ‘anhu- belum mampu melaksanakan qishash terhadap para pembunuh Utsman -radhiallahu ‘anhu- karena ia tidak mengetahui orang perorang pelakunya, dan karena orang-orang khowarij itu -dengan jumlah yang banyak dan dengan persiapan perang- berbaur dengan pasukan Ali, jumlah mereka mencapai 2000 (dua ribu) pasukan sebagaimana disebutkan pada sebagian riwayat, dan sebagian mereka pun meninggalkan Madinah menuju kota-kota lain setelah pembai’atan Ali.
Sungguh saat kejadian itu banyak dari para shahabat yang berada di luar Madinah, seperti diantaranya ummahaatul mukminin (istri-istri Rasulullah) -radhiallahu ‘anhunna-, karena saat itu mereka semua sedang sibuk ibadah haji. Menurut kabar yang masyhur bahwa Kejadian terbunuhnya Utsman itu terjadi pada hari jum’at, 18 Dzul Hijjah 35 H.

[3]. Setelah berlalu 4 bulan dari pembai’atan Ali dengan tanpa terlaksananya Qishash (terhadap para pembunuh Utsman), maka Thalhah dan Zubair pergi ke Mekah, dan mereka bertemu dengan Ummul Mukminin; Aisyah -radhiallahu anha- lalu mereka bersepakat untuk pergi ke Bashrah untuk menemui orang-orang dan kuda-kuda mereka, dan mereka tidak bertujuan untuk berperang. Mereka itu hanya bersiap-siap untuk menangkap para pembunuh Utsman dan mengqishash mereka.

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Imam Hakim dalam Al Mustadrak:
“Sesungguhnya Aisyah -radhiallahu anha- ketika sampai di tempat air milik Bani Amir, pada malam hari ada anjing-anjing yang menggonggong, maka Aisyah berkata: ‘Ini tempat air apa?’ mereka menjawab: ‘Air Al Hau’ab.’ Maka ia berkata: ‘Aku tidak punya pendapat lain selain harus pulang! sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada kita (istri-istri beliau): ‘Bagaimanakah ini!?  salah seorang dari kalian yang mana anjing-anjing Al Hau’ab menggonggong padanya!?’
Maka Zubair -radhiallahu anha- berkata pada Aisyah: ‘Kau hendak pulang!!? (jangan)! karena semoga Allah -azza wa jalla- mendamaikan manusia dengan sebab adanya engkau!’”
Al Albani mengatakan sanad riwayat ini sangat shahih, dishahihkan oleh lima imam besar ahli hadits, yaitu: ibnu Hibban, al Hakim, adz Dzahabi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Hajar. ( Ash Shahihah, 474).

[4]. Ali menganggap keluarnya mereka (yakni Aisyah, Thalhah, Zubair -radhiallahu anhum-, dan pasukan yang mengikuti mereka) ke Bashrah serta sikap mereka mendominasi Bashrah adalah sebagai bentuk keluar dari ketaatan (terhadap khalifah), Ali khawatir tercabiknya kedaulatan negeri Islam, maka Ali -radhiallahu ‘anhu- berangkat menemui mereka. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.

[5]. Sungguh Ali -radhiallahu ‘anhu- telah mengutus Qa’qa’ bin Amr kepada Thalhah dan Zubair menyeru mereka berdua untuk melunakkan sikap dan kembali ke dalam satu jama’ah (bersatu). Maka Qa’qa’ memulai dengan menemui Aisyah -radhiallahu anha- lalu berkata: “Wahai Ibunda, apakah gerangan yang membawa engkau ke negeri ini?” Aisyah berkata: “Wahai Ananda, ini untuk ishlah (mendamaikan) di antara manusia.”

Ibnu Katsir -rahumahullah- dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah berkata:
“Lalu Qa’qa’ pulang kembali kepada Ali dan mengabarkan hal tersebut, maka Ali pun takjub lalu mengkondisikan kaumnya untuk berdamai. Namun, bencilah orang yang benci, rela-lah orang yang rela. Dan Aisyah mengutus utusan kepada Ali untuk memberitahukan bahwasannya ia datang hanya untuk berdamai. Maka mereka -dari dua kubu itu- senang. Lalu Ali berdiri di hadapan manusia dan berkhutbah; ia menyebut masa jahiliyah, tentang kecelakaan masa itu dan perbuatan-perbuatan sesat jahiliyah itu. Ia pun menyebut tentang Islam dan kebahagiaan pemeluknya dengan saling berkasih sayang dan bersatu, dan sesungguhnya Allah menyatukan mereka sepeninggal -NabiNya- di bawah kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian setelah itu dengan khalifah Umar bin Khattab, kemudian dengan khalifah Utsman. Dan kemudian muncullah pada kejadian (kekacauan/fitnah) pada umat ini; kaum-kaum yang memburu dunia dan dengki terhadap orang yang telah dikaruniai dunia dan kemuliaan oleh Allah, mereka hendak menolak Islam dan menolak segala sesuatu sagar kembali mundur. Namun, Allah tetap menyempurnakan urusanNya. Kemudian Ali berkata: ‘Ketahuilah, aku akan berangkat besok maka kalian berangkatlah! dan orang yang membantu dalam pembunuhan Utsman janganlah ikut bersamaku dalam urusan manusia ini!

Tatkala Ali mengatakan hal itu, para tokoh pembunuh Utsman berkumpul, seperti Asytar Annakho’iy, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba’ yang masyhur dengan sebutan Ibnul Sauda’…. dan yang lainnya dalam suatu kelompok berjumlah 2500 (dua ribu lima ratus) orang, dan tidak ada seorang pun Shahabat Nabi di kelompok tersebut! mereka berkata: “Pendapat apaan ini!!? Allah lebih mengetahui kitabullah! dan Ali adalah termasuk yang menuntut para pembunuh Utsman, sedangkan dia itu lebih sanggup untuk merealisasikan tuntutannya itu. Sungguh dia telah mengatakan sesuatu yang kalian telah mendengar ini! Besok manusia akan berkumpul mengeroyok kalian! mereka semuanya hanya menginginkan kalian! Lantas bagaimana dengan nasib kalian!? Jumlah kalian sedikit dibandingkan banyaknya jumlah mereka!!”
Lalu Asytar berkata: “Kita telah mengetahui pendapat Thalhah dan Zubair terhadap kita, adapun pendapat Ali maka kita tidak mengetahuinya kecuali pada hari ini! Seandainya dia telah melakukan kesepakatan, sesungguhnya kesepakatan itu adalah dalam hal menumpahkan darah kita!!”

kemudian Ibnul Sauda’ -semoga Allah mencelakakannya- berkata: “Wahai Kaum, Sesungguhnya kafilah kalian ini berbaur dengan (pasukan) mereka, apabila pasukan-pasukan itu telah bertemu maka nyalakanlah (provokasi) peperangan di antara mereka! Jangan kalian biarkan mereka bersatu….!!” (Selesai nukilan dari ibnu Katsir).
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ali telah sampai di Bashrah dan tinggal di sana tiga hari. Ia, Thalhah, dan Zubair saling berkirim utusan. Sebagian orang mengusulkan kepada Thalhah dan Zubair untuk memanfaatkan kesempatan menangkap para pembunuh Utsman, maka mereka berdua berkata: “Sesungguhnya Ali telah mengisyaratkan untuk menenangkan urusan ini, dan sungguh kita telah mengutus utusan kepadanya untuk berdamai.”

Kemudian Ibnu Katsir berkata: “Dan manusia pun tidur di malam itu dalam keadaan baik, sedangkan para pembunuh Utsman tidur dalam keadaan buruk dan mereka ini berembug serta bersepakat untuk menyalakan api perang pada kegelapan akhir malam, dan mereka bangkit sebelum terbit fajar. Mereka itu berjumlah sekitar 2000 (dua ribu) orang. Setiap kelompok mereka itu menyelinap ke pasukan terdekat mereka, lalu mereka menyerang pasukan itu dengan pedang. Maka setiap golongan pada pasukan itu bangkit dan membela kaum mereka masing-masing, dan semua orang di pasukan-pasukan (dari pihak Ali dan pihak Aisyah) itu pun terbangun dari tidur mereka dan mengambil senjata-senjata mereka. Lalu mereka berkata: “Penduduk Kufah menyerang kita pada malam hari! mereka berbuat makar dan mengkhianati kita!!” Mereka mengira hal itu berasal dari petinggi-petinggi pengikut Ali, maka kejadian ini sampai kepada Ali, ia berkata: “Apa yang terjadi pada orang-orang??” Maka mereka berkata: “Penduduk Bashrah menyerang kita malam-malam!!” Lalu setiap kelompok mengambil senjatanya masing-masing, memakai baju besi mereka, menaiki kuda-kuda mereka, dan tidak seorang pun dari mereka yang menyadari apa yang terjadi sebenarnya! Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. Maka perang pun berkobar dengan dahsyat, para kavileri saling bertarung, para pemberani berkeliaran, perang telah berkobar!

Kedua pihak pun berdiri, telah berkumpul bersama Ali sebanyak 20.000 (dua puluh ribu) orang, dan telah mengelilingi Aisyah serta yang bersamanya sebanyak 30.000 (tiga puluh ribu) orang. -Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun-. Kaum Sabi’ah -para pengikut Ibnul Sauda’- terus menerus membunuh! Sedangkan penyeru dari pihak Ali terus menyerukan: “Tahanlah diri kalian!! Tahanlah diri kalian!!” Tetapi tidak seorangpun mendengarkan…. [Selesai perkataan Ibnu Katsir -rahimahullah].

[6]. Hal terpenting yang harus dijelaskan di sini adalah apa yang ada pada diri para Shahabat yang telah Allah pilihkan bgi NabiNya, mereka dikaruniai sifat-siat: kejujuran, loyalitas, dan saling cinta karena Allah, walau pun sempat terjadi perang di antara sebagian mereka! Berikut ini beberapa contoh yang menjadi bukti sifat-sifat mulia tersebut:

1. Hasan bin Ali -radhiallahu ‘anhuma- berkata: “Sungguh aku telah melihat Ali tatkala perang memanas berkata sambil menggandengku: ‘Wahai Hasan, Sesungguhnya aku menginginkan seandainya aku telah mati 20 tahun sebelum terjadinya perang ini!'” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dengan sanad yang shahih).

2. Sungguh Zubair -radhiallahu ‘anhu- telah meninggalkan perang tersebut dan turun ke suatu lembah, dan Amru bin Jurmuz mengikutinya lalu membunuh Zubair dengan tipu muslihat ketika dia sedang tidur. Ketika kabar itu sampai ke Ali -radhiallahu ‘anhu- ia berkata: “Berilah kabar gembira terhadap pembunuh Ibnu Shofiyah (Zubair) itu dengan neraka!!!” Dan (Amr) bin Jurmuz datang dengan membawa pedang Zubair, lalu Ali berkata: “Sesungguhnya pedang ini telah banyak menyingkirkan kesusahan dari wajah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-!!”

3. Adapun Thalhah -radhiallahu ‘anhu- maka telah terkena anak panah di lehernya dan meninggal karenanya. Sungguh Ali terdiam (sedih) melihatnya dan mengusap debu di wajah Thalhah dan ia berkata: “Semoga rahmat Allah tercurah bagimu wahai Abu Muhammad (Thalhah), berat terasa olehku melihatmu tergeletak di bawah bintang-bintang langit…” Kemudian ia berkata: “Hanya kepada Allah-lah aku mengadukan bencana dan malapetaka ini, demi Allah, Sungguh aku menginginkan seandainya aku telah mati 20 tahun sebelum terjadinya perang ini!”
Dan sungguh telah diriwayatkan dari Ali -lebih dari satu riwayat- bahwasannya ia berkata: “Sesungguhnya aku berharap; aku, Thalhah, Zubair, dan Utsman termasuk golongan yang Allah sebutkan:
(وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ) [الحجر:47].
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al Hijr: 47).

4. Pernah dikatakan kepada Ali: “Sesungguhnya di pintu itu ada dua orang yang menjelek-jelekkan Aisyah!” Lalu Ali memerintahkan Qa’qa’ bin Amr untuk mencambuk dua orang tersebut 100 cambukan dan melepas baju-baju mereka berdua!!

5. Sungguh Aisyah -radhiallahu ’anha- pernah ditanya tentang orang-orang Islam yang terbunuh di pihaknya dan yag tebunuh dari pihak pasukan Ali, maka setiap kali disebutkan seorang dari mereka pada Aisyah maka beliau akan meminta ampunan baginya dan mendoakan kebaikan baginya.

6. Ketika Aisyah -radhiallahu ‘anha- hendak meninggalkan Bashrah, maka Ali -radhiallahu anhu- mengutus semua hal yang dibutuhkan berupa kendaraan, bekal, dan perhiasan. Dan Ali memilihkan bagi beliau 40 perempuan penduduk Bashrah yang telah dikenal serta menyuruh saudara beliau, yakni Muhammad bin Abu Bakar -yang berada di pihak Ali- untuk mengantar beliau. Ali pun ikut mengantar beliau sejauh beberapa mill untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia pun mengutus anak-anaknya untuk untuk bersama beliau selama hari itu.

7. Aisyah -radhiallahu anha- berpamitan kepada manusia (di Bashrah) dan berkata: “Wahai anak-anakku, janganlah sebagian kita mencela sebagian yang lainnya! Sesungguhnya yang terjadi antara aku dan Ali beberapa waktu yang lalu hanyalah sesuatu yang biasa terjadi antara seorang perempuan dengan besannya, dan sungguh Ali itu bagiku adalah benar-benar termasuk orang-orang mulia!” Maka Ali berkata: “Beliau benar. Demi Allah, Sesungguhnya yang terjadi antara aku dan beliau hanyalah seperti yang beliau katakan itu, dan sesungguhnya beliau itu adalah istri Nabi kalian -shallallahu alaihi wa sallam- di dunia dan akhirat!”

8. Seorang penyeru suruhan Ali menyerukan: “Orang yang lari dari perang (Jamal) jangan dibunuh, orang yang luka jangan dibunuh, siapa yang menutup pintu rumahnya maka dia aman, dan siapa yang membuang senjatanya maka dia aman!” Ali memerintahkan mengumpulkan benda-benda yang ditemukan milik pasukan Aisyah lalu dibawa ke masjid Bashrah, siapa saja dari pasukan Aisyah yang menemukan barangnya di sana maka dipersilahkan untuk mengambilnya.

Riwayat-riwayat Ini -dan juga yang lainnya- menjadi bukti kemuliaan para Shahabat yang merupakan orang-orang pilihan Allah bagi NabiNya, dan bukti kehormatan mereka serta ijtihad mereka dalam mencari kebenaran. Ini juga menjadi bukti selamatnya hati mereka dari sifat dengki, hasad, dan hawa nafsu. Maka, Allah telah merihoi mereka dan mereka pun ridho kepada Allah.

 

 

_______________

Adapun kitab-kitab yang dianjurkan untuk dibaca dalam hal ini diantaranya adalah:
– Al ‘Awaashim Minal Qawaashim, karya Ibnul ‘Arabiy.
– Minhaajus Sunnah, karya Ibnu Taimiyah.
– Al Bidaayah wan Nihaayah, karya Ibnu Katsir.
– ‘Ashrul Khilaafatir Raasyidah, karya Dr. Akram Dhiya Al ‘Umriy.
wallaahu a’lam.

 

=========

Sumber:http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&lang=A&Id=10605

Alih Bahasa: Mochammad Hilman Alfiqhy

Catatan: Penulisan judul dari penerjemah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: