Petunjuk Sunnah Dalam Menyikapi Kekurangan Tabi’at Wanita

“Bersenang-Senang Dengan Istri Tidak Akan Sempurna Melainkan Dengan Disertai Kesabaran Terhadap Kekuranganya.”

Begitulah pesan ulama setelah menjelaskan hadits terkait nasihat terhadap para suami. Karena, setiap suami pasti akan mendapatkan kekurangan pada Istrinya. Dan ternyata hal tersebut telah dikabarkan dan dijelaskan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahkan beliau pun memberikan solusi dan rumus dalam menyikapinya.

Penjelasan beliau itu sangat penting untuk direnungkan oleh para Suami sehingga memiliki bekal penting ketika barlabuh dalam bahtera rumah tangga agar bisa bertahan saat badai menerjang bertubi-tubi. Berikut ini kami bawakan hadits-hadits beserta penjelasannya dari dua Ulama besar mengenai hal tersebut:

– وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع وإن أعوج ما في الضلع أعلاه؛ فإن ذهبت تقيمه كسرته وإن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء”. (متفق عليه)

 وفي رواية في الصحيحين: “المرأة كالضلع؛ إن أقمتها كسرتها وإن استمتعت بها استمتعت وفيها عوج”.

 وفي رواية لمسلم: “إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة؛ فإن استمتعت بها استمتعت بها وفيها عوج وإن ذهبت تقيمها كسرتها؛ وكسرها طلاقها”.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah kepada para wanita dengan kebaikan; karena wanita itu tercipta dari tulang rusuk, sedangkan yang paling bengkok dari rusuk itu adalah yang paling atasnya. Apabila kau (memaksa) meluruskannya maka niscaya kau mematahkannya, dan apabila kau membiarkannya maka ia akan terus bengkok; maka berwasiatlah kepada para wanita.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat yang lain di Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) disebutkan: “Wanita bagaikan tulang rusuk; apabila kau meluruskannya niscaya kau mematahkannya dan bila kau bersenang-senang dengannya niscaya kau akan bersenang-senang sedangkan padanya ada kebengkokan.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang tidak akan bisa lurus dengan cara apapun, apabila kau bersenang-senang dengannya niscaya kau akan bersenang-senang sedangkan padanya ada kebengkokan, apabila kau (memaksa) meluruskannya maka niscaya kau mematahkannya, dan patahnya itu adalah menceraikannya.”

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin –rahimahullah- ketika menjelaskan hadits tersebu berkata:

“Penulis (kitab: Riyadhush Shalihin) menyebutkan hadits yang dinukil dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- mengenai sikap mempergauli para wanita; bahwasannya Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “استوصوا بالنساء خيرا” yang maknanya: Terimalah wasiat ini yang dengannya aku wasiatkan kepada kalian; yaitu hendaklah kalian melakukan kebaikan terhadap para wanita; karena para wanita itu pendek akalnya, pendek agamanya, pendek berfikirnya, dan pendek dalam segala halnya karena mereka itu tercipta dari tulang rusuk.

Hal itu karena Adam –‘alaihish shalatu wa salam- telah diciptakan Allah dengan tanpa bapak dan ibu, bahkan Allah mencipakan beliau dari tanah, kemudian Allah berfirman padanya: “kun fayakuun!” (“Jadilah! Maka terjadilah”). Dan ketika Allah ta’ala hendak memperbanyak makhluk ini (yakni: manusia) maka Allah menciptakan dari beliau pasangan beliau, lalu Allah menciptakan pasangan beliau itu dari tulang rusuk beliau yang bengkok, maka terciptalah pasangan beliau itu dari tulang rusuk yang bengkok. Sedangkan tulang rusuk bengkok; apabila kau bersenang-senang dengannya maka kau bisa bersenang-senang dengannya sedangkan padanya terdapat kebengkokan, dan bila kau (memaksa) meluruskannya maka tulang rusuk itu akan patah.

Maka, wanita pun seperti itu, yakni: apabila seseorang bersenang-senang dengan wanita, maka dia bisa bersenang-senang dengannya tetapi dengan disertai adanya kebengkokan sehingga merasa rela terhadap apa yang telah dimudahkan, dan bila dia ingin wanitanya itu lurus maka sungguh WANITA ITU TIDAK AKAN PERNAH LURUS DAN DIA TIDAK AKAN PERNAH MAMPU MELURUSKANNYA!

Wanita itu seandainya telah lurus agamanya maka ia tidak lurus dalam hal lain yang menjadi konsekuensi kebengkokan tabi’atnya, dan tidak akan pernah menjadi sesuai dengan keinginan suami yang mengharapkan wanitanya cocok dengannya dalam segala hal. Namun, justru kenyataannya mesti ada perselisihan, mesti ada ketidaksempurnaan bersamaan dengan kekurangan yang merupakan konsekuensi tabi’at wanita; maka wanita itu adalah ‘pendek (akal)’ berdasarkan watak dan tabi’atnya, serta wanita pun merupakan muqashshirah (yakni: orang yang memiliki kekurangan) yang mana bila kau (paksakan) meluruskannya maka kau akan mematahkannya; dan patahnya itu adalah menthalaqnya (menceraikannya).

Makna dari itu semua adalah bahwasannya bila kau mencoba menjadikan istrimu lurus sesuai dengan yang kau inginkan; maka itu tidak mungkin terjadi, dan pada saat itulah kau akan menganggapnya sial, lalu menceraikannya. Maka maksud dari ‘patahnya wanita itu’ adalah menceraikannya.

Pada (pembahasan) ini pun terdapat arahan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengenai pergaulan seseorang dengan keluarganya, yaitu: bahwasannya hendaklah dia memberikan maaf kepada keluarganya, dan menerima apa yang telah dimudahkan baginya, sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman: “…ambillah sikap memaafkan…” yakni; apa (yang berhak) dimaafkan dan mudah dari akhlak manusia, “…dan suruhlah kepada perbuaan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.”(QS. Al A’raf: 199).

Walau bagaimanapun, tidak mungkin kau menemukan seorang wanita yang seratus persen selamat dari aib (kekurangan), atau yang seratus persen baik terhadap suaminya! Akan tetapi, sebagaimana yang telah diarahkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-: bersenang-senanglah padanya dengan disertai apa yang ada padanya berupa kebengkokan. Dan juga seandainya kau membenci suatu bagian akhlak istrimu maka niscaya kau ridha pada akhlaknya yang lain, maka imbangilah keadaan yang satu dengan yang lainnya disertai kesabaran.

Sungguh Allah ta’ala telah berfirman: “….kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (para istri), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. Annisa: 19).

–selesai nukilan- (Syarhu Riyaadhish Shaalihiin, 3/116-118).

—————

Dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah bersabda:

“استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع وإن أعوج ما في الضلع أعلاه؛ فإن ذهبت تقيمه كسرته وإن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء”

“Berwasiatlah kepada para wanita dengan kebaikan; karena wanita itu tercipta dari tulang rusuk, sedangkan yang paling bengkok dari rusuk itu adalah yang paling atasnya. Apabila kau (memaksa) meluruskannya maka niscaya kau mematahkannya, dan apabila kau membiarkannya maka ia akan terus bengkok; maka berwasiatlah kepada para wanita.” (Muttafaqun ‘alaih).

 

Bila hakikat keadaan perempuan seperti itu dan kita diperintah untuk bersabar dan menganggapnya wajar, lantas sampai batasan apakah kita menyikapinya seperti itu?

Maka jawabannya terdapat pada penjelasan Imam Ibnu Hajar –rahimahullah- berikut ini:

Ibnu Hajar Al Atsqalaniy –rahimahullah- berkata:

Sabda beliau: [ بالنساء خيرا :“…terhadap para perempuan dengan baik…”] di dalamnya terdapat suatu rumus untuk meluruskan ‘kebengkokan wanita’, yaitu: dengan cara lemah lembut; yang mana tidak berlebih lebihan dalam meluruskan sehingga mematahkan dan tidak pula membiarkan begitu saja sehingga terus menerus bengkok. Hal itulah yang diisyaratkan oleh penulis (kitab riyadhush shalihin), yakni dengan menjadikan membahas tema: “Bab: lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari Neraka.” (setelah pembahasan ‘kebengkokan wanita’).

Maka dari itu bisa diambil (faidah;) bahwasannya tidak boleh membiarkan perempuan tetap berada dalam ‘kebengkokan’ apabila kebengkokannya itu membawanya kepada perbuatan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban. Sedangkan yang dimaksud dengan membiarkan (tabi’at) perempuan itu dengan kebengkokannya (tanpa dipaksakan lurus sehingga patah  pent-) adalah apabila kebengkokannya masih dalam perkara-perkara yang mubah.

Dan dalam hadits tersebut pun terdapat anjuran bersikap ramah agar menarik jiwa dan melunakkan hati. Pada hadist tersebut pun terdapat cara mensiasati para wanita, yaitu; dengan memberi mereka maaf dan bersabar terhadap ‘kebengkokkan’ mereka, dan bahwasannya seseorang yang menghendaki para wanita itu lurus adalah dengan cara mengambil menfaat (bersenang-senang) dengan mereka (bagaimana pun keadaannya). Karena memang sesungguhnya seorang lelaki sangat membutuhkan seorang perempuan yang akan menenangkan jiwanya dan membantu kehidupannya. Maka,  seolah-olah beliau menyabdakan: “bersenang-senang dengan perempuan tidak akan sempurna melainkan dengan disertai kesabaran terhadap (kekurangan)nya.” –selesai nukilan- (Fathul Baari: 9/290).

 

—-

Diterjemahkan oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy

 

=============

Teks bahasaArabnya:

الشَّرْحُ:

ذكر المؤلف رحمه الله تعالى فيما نقله عن أبي هريرة رضي الله عنه في معاشرة النساء أن النبي صلى الله عليه وسلم قال استوصوا بالنساء خيرا يعني اقبلوا هذه الوصية التي أوصيكم بها وذلك أن تفعلوا خيرا مع النساء لأن النساء قاصرات في العقول وقاصرات في الدين وقاصرات في التفكير وقاصرات في جميع شئونهن فإنهن خلقن من ضلع

 وذلك أن آدم عليه الصلاة والسلام خلقه الله من غير أب ولا أم بل خلقه من تراب ثم قال له كن فيكون ولما أراد الله تعالى أن يبث منه هذه الخليقة خلق منه زوجه فخلقها من ضلعه الأعوج فخلقت من الضلع الأعوج والضلع الأعوج إن استمتعت به استمتعت به وفيه العوج وإن ذهبت تقيمه انكسر

فهذه المرأة أيضا إن استمتع بها الإنسان استمتع بها على عوج فيرضى بما تيسر وإن أراد أن تستقيم فإنها لن تستقيم ولن يتمكن من ذلك فهي وإن استقامت في دينها فلن تستقيم فيما تقتضيه طبيعتها ولا تكون لزوجها على ما يريد في كل شيء بل لابد من مخالفة ولابد من تقصير مع القصور الذي فيها فهي قاصرة بمقتضى جبلتها وطبيعتها ومقصرة أيضا فإن ذهبت تقيمها كسرتها وكسرها طلاقها يعني معنى ذلك أنك إن حاولت أن تستقيم لك على ما تريد فلا يمكن ذلك وحينئذ تسأم منها وتطلقها فكسرها طلاقها

وفي هذا توجيه من رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى معاشرة الإنسان لأهله وأنه ينبغي أن يأخذ منهم العفو وما تيسر كما قال تعالى خذ العفو يعني ما عفي وسهل من أخلاق الناس { وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين } ولا يمكن أن تجد امرأة مهما كان الأمر سالمة من العيب مائة بالمائة أو مواتية للزوج مائة بالمائة ولكن كما أرشد النبي عليه الصلاة والسلام استمتع بها على ما فيها من العوج وأيضا إن كرهت منها خلقا رضيت منها خلقا آخر فقابل هذا بهذا مع الصبر وقد قال الله تعالى { فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا } شرح رياض الصالحين 3/116-118

  ————-

قوله ( بالنساء خيرا ) كان فيه رمزا إلى التقويم برفق بحيث لا يبالغ فيه فيكسر ولا يتركه فيستمر على عوجه ، وإلى هذا أشار المؤلف بإتباعه بالترجمة التي بعده ” باب قوا أنفسكم وأهليكم نارا ” فيؤخذ منه أن لا يتركها على الاعوجاج إذا تعدت ما طبعت عليه من النقص إلى تعاطي المعصية بمباشرتها أو ترك الواجب ، وإنما المراد أن يتركها على اعوجاجها في الأمور المباحة .

وفي الحديث الندب إلى المداراة لاستمالة النفوس وتألف القلوب وفيه سياسة النساء بأخذ العفو منهن والصبر على عوجهن ، وأن من رام تقويمهن فإنه الانتفاع بهن مع أنه لا غنى للإنسان عن امرأة يسكن إليها ويستعين بها على معاشه ، فكأنه قال : الاستمتاع بها لا يتم إلا بالصبر عليها . فتح الباري (9/290

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: