Memilih antara Nikah dan Menuntut ‘ilmu?

Pertanyaan berikut ini disampaikan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin –rahimahullaah– :

Pertanyaan : Syaikh yang terhormat, ada seorang Penuntut ilmu syar’i yang ingin menikah,  tetapi dia khawatir menikahnya itu akan membuatnya terlena dan sibuk dari menuntut ilmu, apakah nasihat Anda untuknya? Dan apakah nasihat Anda seandainya dia meninggalkan menuntut ilmu untuk pergi Jihad ?

Jawaban:

الجواب: الزواج لا يعوق عن طلب العلم، بل ربما يعين على طلب العلم؛ قد يوفق الإنسان لامرأة تقرأ وتكتب وتساعده، فإن لم تكن فأقل ما يكون أن يذهب عنه الوساوس والتفكير في الزواج، فالزواج يعين على طلب العلم؛ وإذا كان أبوه يريد أن يزوجه فلا يرفض، فخير البر عاجله، ولعل الله يهديه. أما ترك الدراسة للجهاد فالذي أشير عليه به أن يبقى في الدراسة إذا كان عنده استعداد للعلم؛ لأن الناس يختلفون؛ لو جاءنا رجل قوي شجاع لكنه في طلب العلم ليس ذلك الرجل فهنا نقول: الأفضل له الجهاد، ولو جاءنا إنسان دون ذلك في القوة وفي الشجاعة لكنه وعاء علم نقول: الأفضل طلب العلم، فإن تساوى الأمران فطلب العلم أفضل. ……  (سلسلة لقاءات الباب المفتوح 48/18)

Jawabannya : Menikah tidak akan menghalanginya dari menuntut ilmu, justru bisa saja menikah itu akan membantunya dalam proses menuntut ilmu. Terkadang seseorang ditakdirkan menikah dengan perempuan yang akan membacakan, menuliskan dan membantunya. Seandainya tidak ditakdirkan seperti itu pun, maka minimal dia akan mendapat kebaikan hilangnya waswas dan fikiran yang menggebu untuk menikah. Karena itulah, menikah akan membantunya dalam proses menuntut ilmu. Maka apabila Bapaknya hendak menikahkannya, janganlah dia menolak! Sebaik-baik kebaikan adalah yang dilakukan dengan segera, sehingga mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk.

Adapun perihal meninggalkan sekolah demi pergi berjihad, maka yang saya isyaratkan/nasihatkan adalah hendaklah dia tetap melanjutkan sekolahnya jika memang dia memiliki kesiapan kemampuan (bakat) dalam hal ilmu, karena manusia itu berbeda-beda. Seandainya datang kepada kami seorang lelaki kuat dan pemberani, akan tetapi bakat dia dalam hal ilmu tidak sebaik lelaki tadi, maka di sini kami katakan : lebih baik dia berjihad. Dan andaikan datang kepada kami seorang lelaki yang tidak sekuat lelaki tadi, akan tetapi dia bagaikan wadah ilmu (yang mampu menampung ilmu) maka kami katakan padanya : lebih baik dia menuntut imu. Sedangkan apabila kedua kemampuan/bakat tersebut sama (pada diri seseorang) maka yang lebih baik baginya adalah menuntut ilmu.

(Silsilah Al Liqaa’aat Al Baab Al Maftuuh 48/18).

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: