Cara membedakan darah Istihadhah (darah penyakit) dengan darah Haid

Cara membedakan darah Istihadhah (darah penyakit) dengan darah Haid:

1. KEADAAN PERTAMA: Wanita Yang Memiliki Kebiasaan Haid Yang Waktunya Teratur Yang Diketahui Oleh Wanita Itu Sebelum Mengalami Darah Istihadhah.

Maka wanitu tersebut harus menganggap darah yang keluar itu sebagai haid pada waktu kebiasaan rutin ia haid. Ketika menganggapnya sebagai haid maka ia tidak boleh saum dan shalat. Apabila waktu kebiasaan rutin haid tersebut selesai maka ia harus mandi wajib dan kembali melaksanakan shalat dan ibadah lainnya, sedangkan darah yang tetap keluar di luar waktu rutin haid tersebut dianggap sebagai darah istihadhah (penyakit) yang tidak menghalangi dari saum dan shalat.
Sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada Ummu Habibah –radhiallahu ‘anha-:

امكثي قدر ما كانت تحبسك حيضتك، ثم اغتسلي، وصلي

“Tetaplah diam (tidak shalat) selama waktu rutin haidmu, kemudian bila telah selsai maka mandi besarlah dan shalatlah!” (HR. Muslim, no.334).

2. KEADAAN KEDUA: Wanita Yang Memiliki Kebiasaan Haid Yang Watunya Tidak Teratur, Tetapi Darahnya Memiliki Ciri-Ciri Yang Mudah Dikenali Antara Darah Haid Dan Darah Istihadhahnya.

Darah haid ciri-cirinya adalah: berwarna kehitaman, kental, dan bau haid seperti biasa. Dan apabila tidak memiliki ciri-ciri seperti itu maka dianggap darah istihadhah (penyakit), yakni darahnya hanya berwarna merah yang tidak memiliki bau haid.
Menyikapi keadaan seperti ini maka wanita tersebut hendaklah membedakan darah tersebut sesuai dengan ciri-ciri tersebut, dan tidak menghitungnya berdasarkan waktu kebiasaan haid. Sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada Fatimah binti Abi Hubaisy –radhiallahu ‘anha-:

إذا كان دم الحيض فإنه أسود يعرف، فأمسكي عن الصلاة، فإذا كان الآخر فتوضَّئي، وصلي فإنما هو عرق

“Apabila Darah itu haid cirinya adalah berwarna kehitaman yang biasa dikenali oleh wanita, maka diamlah jangan shalat! Akan tetapi, apabila darahnya tidak memiliki ciri seperti itu maka cukuplah berwudhu, dan shalatlah! Karena darah tersebut hanya darah penyakit.” (HR. Abu Daud, Dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa, no. 204).

3. KEADAAN KETIGA: Wanita Yang Tidak Memiliki Waktu Kebiasan Haid Yang Rutin Dan Darahnya Pun Tidak Memiliki Ciri-Ciri Yang Membedakan Antara Haid Dan Istihadhah.

Wanita yang seperti ini keadaannya maka menghitung menganggap darah haidnya sebanyak 6 atau 7 hari. (silakan lihat di keluarga atau kerabatnya biasanya mereka berapa hari, lihat di antara mereka bilangan hari yang manakah yang lebih banyak mereka alami antara 6 atau 7 hari maka itulah dipilih, jangan menghitung yang selain bilangan tersebut.  –pent.). Penetapan tersebut karena kedua bilangan hari tersebut merupakan kebiasaan haid normal wanita pada umumnya. Maka darah yang keluar yang melebihi bilangan tersebut dianggap sebagai darah istihadhah (penyakit) yang cukup hanya dibersihkan saja kemudian silakan shalat dan saum.
Sebagaimana sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada Hamdan binti Jahsy –radhiallahu ‘anha-:

إنما هي رَكْضَةٌ من الشيطان، فتحيضي ستة أيام أو سبعة أيام ثم اغتسلي، فإذا استَنْقَأتِ فصلي وصومي فإن ذلك يجزئك

“Darah yang seperti itu merupakan dorongan dari Syetan, maka anggaplah darah yang keluar itu sebagai haid selama 6 atau 7 hari, setelah itu mandi wajiblah! Dan apabila telah bersih dengan mandi tersebut maka shalatlah dan saumlah! dan itu cukup bagimu.” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa, no. 205).
Makna “dorongan setan” dalam hadits tersebut adalah bahwa Syetanlah yang menggerakkan keluarnya darah tersebut.

=====================

Diterjemahkan oleh: Mochammad Hilman Alfiqhy
Dari kitab: Al Fiqhul Muyassar fi Dhau-i Al Kitaab wa As-Sunnah.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: