Mayoritas Pengikut para Rasul adalah Kaum Dhu’afa (orang-orang lemah)

Beberapa pekan ini, tiap kali khutbah Jum’at, tema khutbah yang saya sampaikan mengenai Kaum Dhu’afa, yaitu orang-orang lemah, baik itu karena kemiskinan atau tidak memiliki jabatan atau fisiknya lemah, namun justru merekalah yang menjadi kebanyakan pengikut para Rasul sejak dahulu.
Tampaknya banyak yang terinspirasi sehingga berkali-kali setelah khutbah, saya dihampiri jamaah minta transkrip khutbahnya namun saat itu materinya masih berupa poin-poinnya saja dan belum diterjemahkan. Ini menjadi motivasi saya untuk menyusun suatu makalah tentang tema tersebut.
Alhamdulillah, dihari libur ini, saya bisa menyusunnya dan mengetik ulang materi tersebut menjadi makalah sederhana. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat.
Berikut ini makalahnya:

Mayoritas Pengikut para Rasul adalah Kaum Dhu’afa (orang-orang lemah)

Heraklius Raja Ramawi ketika berada di negeri jajahannya, Syam, bertanya kepada Abu Sufyan dengan beberapa pertanyaan perihal dakwah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- di Mekah, yang saat itu beliau belum hijrah ke Madinah. Di antara yang ditanyakan adalah: “Apakah orang-orang yang mengikuti Nabi tersebut dari kalangan para tokoh berkedudukan ataukah dari kalangan orang-orang lemah (dhu’afa)?” Maka Abu Sufyan menjawab: “Orang-orang lemahlah yang mengikutinya!” Lantas Raja Heraklius menimpali:

وَهُمْ أَتبَاع الرُّسُل

 “Memang, orang-orang dhu’afa itu merupakan (kebanyakan) pengikut para Rasul!” (HR. Bukhari)

Demikianlah, sejak Rasul pertama, yakni Nabi Nuh -‘alaihis salam-, para pengikut beliau kebanyakan adalah orang-orang lemah sehingga menjadi bahan ejekan kaum Kafir di zamannya. Allah Ta’ala menghikayatkan ejekan kaum Kafir tersebut, mereka mengatakan:

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina (kalangan dhu’afa) di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’”.(QS. Hud: 27)

Dibalik ejekan orang-orang Kafir tersebut sebenarnya mereka hanya mencibir sifat-sifat terpuji para pengikut Nabi Nuh. orang-orang Kafir itu mencibir para pengikut Nabi Nuh karena mereka kaum dhu’afa (miskin dan lemah) padahal dengan sebab keadaan dhu’afa itulah tidak ada godaan duniawi yang menghalangi mereka untuk mengikuti kebenaran. Dan mereka pun dicibir karena lekas percaya saja, padahal memang demikianlah seharusnya, karena seseorang yang melihat kebenaran dengan terang dan jelas, maka ia tidak perlu fikir panjang lagi untuk mengikutinya! (Qashashul Anbiya)

Bahkan ketika Nabi Nuh –‘alaihis salam- hendak berdialog untuk berdakwah kepada para pembesar Kafir dari kaumnya, mereka mensyaratkan agar Nabi Nuh mengusir dulu para pengikutnya agar tidak ikut berkumpul dengan mereka karena mereka merasa malu berkumpul dengan orang-orang dhu’afa (lemah) dan hina menurut mereka.

Tentu, Nabi Nuh menolak tuntutan kaum Kafir tersebut, seraya mengatakan:

وَيَاقَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًاۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِۚ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُواۚ إِنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ () وَيَاقَوْمِ مَن يَنصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِن طَرَدتُّهُمْۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Dan (Nuh berkata): ‘Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui’. Dan (Nuh berkata): ‘Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?’” (QS. Hud: 29-30)

Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- ketika menafsirkan ayat tersebut mengingatkan kembali bahwa kesombongan orang-orang Kafir sehingga menuntut para Nabi untuk mengusir orang-orang lemah yang beriman, pun terjadi kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Para tokoh kaum Kafir Quraisy menuntut beliau untuk mengusir orang-orang miskin (dhu’afa) yang beriman kepada beliau, semisal Ammar, Shuhaib, Bilal, Khabbab, dan yang seperti mereka -radhiallahu ‘anhum jamii’an, lalu kaum kafir Quraisy itu memesan adanya majlis khusus dengan mereka tanpa kehadiran kaum dhu’afa. (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah Ta’ala melarang Rasulullah memenuhi keinginan Kaum Kafir tersebut! Sehingga turunlah ayat:

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).” (QS. Al An’am: 52). Demikian juga surat Al Kahfi ayat 28.

Di antara keutamaan adanya orang-orang lemah (dhu’afa) di antara kita adalah menjadi sebab datangnya pertolongan Allah Ta’ala terhadap umat ini, namun orang lemah yang dimaksud adalah sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا، بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Hanyalah Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemahnya, yakni melalui doa mereka, sholat mereka, dan keikhlasan mereka.” (HR. Annasai, dishahihkan Al Albani)

Orang-orang beriman yang mengikuti para Rasul, meskipun kebanyakan mereka adalah kaum dhu’afa, tetapi telah dipastikan bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan dari Allah Ta’ala di dunia ini, sebelum nantinya di akhirat pun mereka akan dimenangkan. Sebagaimana janji-Nya:

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡأَشۡهَٰدُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir: 51)

Demikianlah, para pengikut Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, memang mayoritasnya adalah orang-orang lemah. Mekipun demikian, ada beberapa pengikut beliau yang memiliki kekuatan serta harta yang berlimpah, semisal Abu Bakar, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan sebagainya, walau jumlah mereka sedikit dibandingkan dengan banyaknya orang-orang kafir yang menggunakan kedudukan, kekuatan, dan harta mereka untuk menyebarkan kebathilan dan menghalangi kebenaran, tetapi kebenaran akan tetap menang.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحۡشَرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al Anfal: 36)

Begitulah, sejak dahulu kala, pengikut para Nabi memang didominasi kaum dhu’afa (orang-orang lemah), tetapi keikhlasan dan ibadah mereka begitu kuat. Karena itu, Nabi Nuh dimenangkan, walau secara logika, beliau dan para pengikutnya tidak mungkin menang melawan mayoritas kaum kafir yang memenuhi muka bumi. Demikian juga Nabi Musa -‘alaihis salam- dan para pengikutnya, Bani Israil yang diperbudak oleh Firaun dan kaumnya di Mesir, Allah Ta’ala memenangkan mereka, Allah Maha Kuasa menenggelamkan orang-orang kafir, sebanyak apapun mereka, dan memenangkan orang-orang lemah yang beriman, walau pun sedikit orang berharta yang menopang biaya perjuangan mereka, tetapi yang sedikit itulah yang justru diberkahi sehingga terus berkembang dan menjadi salah satu sebab menangnya dakwah para Rasul. Karena harta yang disedekahkan di jalan Allah akan selalu dikembangkan oleh Allah Ta’ala:

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. AL Baqarah: 261)

Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah-, ayat ini mengandung isyarat bahwa amal shalih akan ditumbuhkembangkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana Allah menumbuhkan tanaman yang ditanam oleh seseorang di tanah yang sangat subur. (Tafsir Ibnu Katsir)

Itulah pula yang terjadi pada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan mayoritas para pengikutnya yang dhu’afa. Walau sedikit orang-orang berharta yang menopang perjuangan beliau, namun dakwah beliau semakin tumbuh berkembang ke seluruh jazirah Arab, dan seterusnya sampai ke seluruh dunia, manusia pun berbondong-bondong masuk Islam, mengikuti ajaran Nabi Muhammad, sehingga akhirnya Allah menangkan mereka dengan gemilang. Sesuai yang telah dijanjikan.

===
Ditulis oleh: Mochammad Hilman Al Fiqhy ,
5 Syawal 1444 H

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: