Rasulullah Menugaskan Sahabatnya yang Berbakat untuk Mempelajari Bahasa Asing

   Rasulullah sangat pandai dalam membangkitkan dan memanfaatkan serta mengarahkan potensi bakat seseorang agar menjadi semakin bermanfaat bagi umat dan menjadi semakin berkah karena digunakan di jalan Allah atau agar tidak digunakan untuk penyimpangan.

   Dalam hal ini, ada kisah yang lain pula, kisah Zaid bin Tsabit -radhiallahu ‘anhu-, ketika masih kecil, keluarganya membawanya kepada Rasulullah -shallalahu ‘alaihi wa sallam- untuk didaftarkan menjadi pasukan perang untuk jihad fi sabiilillah bersama beliau, pada saat perang Badar, namun beliau menolaknya karena Zaid masih terlalu kecil badannya dan juga umurnya. Kemudian pada perang Uhud, pun belum diperkenankan karena alasan yang sama. Akan tetapi, keluarganya tidak putus harapan untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang berperan dalam perjuangan dakwah Islam, kemudian mereka membawa Zaid kepada Rasulullah yang sebelumnya telah mempersiapkan Zaid agar memiliki kemampuan yang diandalkan untuk perjuangan Rasulullah walaupun Zaid masih kecil.

يا رسول الله! هذا غلام من بني النجار، وقد قرأ مما أنزل عليك سبع عشرة سورة

“Wahai Rasulullah, ini Zaid, telah menghafal 17 surat Al Quran..” Ujar keluarganya dengan penuh optimis. Lalu Zaid pun membacakan hafalannya itu dengan tartil dan indah sehingga membuat Rasulullah takjub dan senang, sehingga beliau menugaskan Zaid untuk menjadi sekretaris beliau dan mengamanatkannya menulis wahyu.

Dan Rasulullah pun bersabda kepada Zaid:

يا زيد! تعلم لي كتاب يهود، فإني -والله- ما آمنهم على كتابي

“Wahai Zaid, pelajarilah tulisan (berbahasa) Yahudi, karena -Demi Allah- Aku tidak merasa aman atas kebohongan mereka terhadap suratku!”

Maka Zaid pun mampu menguasai bahasa dan tulisan Yahudi dalam waktu setengah bulan.

Di lain waktu, Rasulullah pun bertanya kepada Zaid:

أتحسن السريانية؟

“Apakah kau menguasai bahasa Suryani?”

Zaid menjawab “Tidak.” Kemudian Rasulullah memerintahkannya untuk mempelajari bahasa Suryani maka Zaid mempelajarinya dan bahkan mampu menguasai bahasa Suryani hanya dalam waktu 17 hari!

(Diringkas dari kitab Siyar A’laam An Nubalaa’).

  Demikianlah, Zaid bin Tsabit -radhiallahu ‘anhu- diamanatkan untuk mempelajari bahasa asing untuk keperluan dakwah, yaitu bahasa Yahudi dan bahasa Suryani yang merupakan bahasa internasional yang banyak digunakan pada zaman itu.

   Dalam kisah Zaid dan keluarganya tersebut pun menunjukan pentingnya kerjasama keluarga untuk mencari potensi yang ada pada anak, karena seringkali seseorang tidak menyadari kelebihan yang ada pada dirinya dan butuh orang lain yang mengingatkannya, dan bahwasannya ketika seseorang lemah dalam bidang tertentu maka carilah bidang lainnya pasti ada suatu bidang lain yang merupakan potensi bakatnya yang Allah anugerahkan padanya sebagai bekal untuk memakmurkan bumi ini.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: